Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Febriyani Nurkhasanah. Febriyani Nurkhasanah.

[
in English ] [ in English ]

Jun 10th, 2008 | By | Category: Figure Pesilat Visited 2131 times, 4 today [ in English ] June 10th, 2008 | By | Category: Figure fighters Visited 2131 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Febriyani Nurkhasanah – Gadis Pembelot dari Batu Jajar Febriyani Nurkhasanah - Girls of Rock Jajar Defector

Ia tidak merasa masa mudanya terampas karena menekuni pencak silat. He did not feel deprived because of his youth to his martial arts.

Buk! Whack! Kaki jagoan silat itu melayang cepat. Legs were flying fast martial arts whiz. Sambil menahan nyeri, lawannya menghindar. Choking back pain, his opponent away. Entah kenapa tayangan adu jotos di layar kaca itu tak membuat gadis kecil tersebut ngeri. Somehow fist fights impressions on the screen did not make the little girl was terrified. Ia malah semakin terkesima oleh adu tendangan tersebut. He was even more impressed by the penalty kick. Itulah tendangan yang mengubah sejarah Febriyani Nurkhasanah, gadis kecil tersebut. That kick that changed history Febriyani Nurkhasanah, the little girl. Sejak menonton tayangan laga pencak silat dalam SEA Games 1993, Febri–panggilan Febriyani–kecil bersumpah ingin menjadi atlet pencak silat. Since watching martial arts action in the SEA Games 1993, Febri-small-call Febriyani vowed to be a martial arts athlete. Ia melupakan cita-cita menjadi dokter atau polisi–cita-cita yang biasa hinggap di otak anak kecil. He forgot the dream of being a doctor or a cop-regular ideals of a small child perched on the brain.

Sejarah pun berpihak kepadanya. History also favors him. Empat belas tahun kemudian, yakni sekarang ini, Febri telah melambung menjadi atlet pencak silat untuk SEA Games 2007 di Thailand. Fourteen years later, today, Febri has soared into martial arts athletes for SEA Games 2007 in Thailand. Ia kini mengikuti pemusatan latihan nasional pencak silat untuk SEA Games 2007 di Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Batu Jajar, Cimahi, Jawa Barat He is now following the national martial arts training camp for SEA Games 2007 in the Education Center Special Forces Command (Kopassus) soldiers in the Army National Indonesia Batu Jajar, Cimahi, West Java

Saat ditemui Tempo, Kamis lalu, di pemusatan latihan itu, Febri bercerita ia adalah gadis pembelot. When he met with Tempo, Thursday, at the training camp, he told the girl Febri defector. Sambil membanggakan seragam seragam loreng hijau Kopassus yang ia kenakan, Febri menuturkan bahwa ayahnya, Kartidja, adalah karateka yang sering tampil di aneka kejuaraan yang ditayangkan di televisi. As he prided Kopassus green camouflage uniforms uniform he was wearing, Febri said that his father, Kartidja, is a karateka who often appeared in various championships are aired on television.

Ayahnya mewajibkan Febri berlatih karate. His father obliges Febri practice karate. Awalnya gadis kecil itu menurut. At first the little girl obeyed. Namun, ia hanya bertahan dua kali latihan. However, he only lasted two sessions. Belakangan, gadis itu malas belajar karate. Later, she was lazy to learn karate. Alasannya, ia benci dipaksa oleh pelatihnya melakukan split (merentangkan dua kaki sampai lurus sejajar dengan lantai). The reason, he hated being forced by his coach to do the splits (two legs stretched out straight up parallel to the floor). Aku nggak tahan dipaksa-paksa untuk bisa split. I can not stand to be pushed into the split. Padahal di silat pun nantinya ada ada keharusan bahwa aku harus mampu melakukan split, ujarnya sembari tertawa. Whereas in silat later there was no necessity that I should be able to do split, he said, laughing.

Akhirnya, dengan sedikit adu argumentasi dengan ayahnya, Febri kembali berlatih silat. Finally, with little argument with his father, Febri returned to practice martial arts. Kebetulan di sekolah ada Perguruan Silat Padjadjaran Nasional. Incidentally there are schools of the National University of Padjadjaran Silat. Akhirnya, setelah naik ke kelas III sekolah dasar, Febri bergabung dan mulai berlatih dengan serius. Finally, after rising to a class III school, Febri join and start practicing seriously.

Kejuaraan pada 1995 mengubah hidupnya. Championship in 1995 changed his life. Febri saat itu mengikuti kejuaraan untuk pertama kalinya di Kejuaraan Nasional Perguruan Padjadjaran di Bogor. Febri was the championship for the first time in the National Championship University of Padjadjaran in Bogor. Ia turun di kelas C junior (42-45 kilogram) dan pulang membawa medali perunggu. He fell in the junior class C (42-45 pounds) and came home with bronze medals.

Setelah kejuaraan itu, Febri makin rajin mencebur dalam berbagai kejuaraan. After the championship, Febri plunged more diligent in various championships. Hasilnya? The result? Ia tidak hanya mendapatkan medali, tapi juga deretan luka. He did not just get a medal, but also a row of the wound. Yang penting adalah mendapat pengalaman, kata gadis ulet itu. What is important is to have the experience, said she was tenacious.

Jam terbang Febri yang makin tinggi mengantarnya ke pertandingan yang lebih besar, yaitu Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat pada 1998 sebagai wakil Kota Cirebon. Flying hours that the higher Febri him into a larger game, namely West Java Regional Sports Week in 1998 as vice Cirebon.

Dalam kejuaraan itu, Febri berhasil merebut emas dan berhak berlaga di tingkat nasional. In the championship, won the gold and Febri right to compete at the national level. Sejak itulah Febri mulai mendulang banyak medali. Since then Febri began to gain a lot of medals.

Koleksi medali yang diraih Febri ternyata tidak otomatis membuatnya mendapat dukungan orang tuanya. Collection of medals achieved Febri did not automatically make it the support of his parents. Ibu Febri, Siti Maemunah, berkeras memintanya hanya berkonsentrasi pada sekolah. Febri mother, Siti Maemunah, insisted on asking just concentrate on school. Gadis penyuka matematika itu menolak. The girl who loved math refused. Ia menunjukkan bukti bahwa silat tak menyurutkan prestasi akademiknya. He showed evidence that the arts did not dampen their academic achievement. Febri pun berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung melalui jalur atlet. Febri also managed to get into public universities in Bandung through the athletes. Pilihannya pun tidak tanggung-tanggung: jurusan matematika. The choice was not half-hearted: Mathematics Department. Orang tuaku tidak menyangka aku bisa lulus ujian, kata Febri. My parents did not think I could pass the exam, said Febri.

Pada 2002, Febri mengikuti kejuaraan nasional tingkat dewasa untuk pertama kali dan sekali lagi berhasil meraih emas. In 2002, following the national championship Febri adult rate for the first time and once again won gold. Sejak saat itu, jam latihannya terus bertambah sehingga waktu senggangnya semakin berkurang. Since then, hours of training continues to grow so that less and less free time. Namun, sesuai dengan janjinya kepada orang tua, anak tertua dari tiga bersaudara ini menempatkan pendidikan sebagai prioritas. However, according to his promise to the parents, the eldest of three brothers to put education as a priority.

Jadi, ya, pulang latihan, istirahat sebentar, lalu belajar. So, yes, home exercise, rest, and learn. Hampir tidak ada waktu untuk kumpul-kumpul dengan teman, ujar Febri. Almost no time to hang out with friends, said Febri. Kendati begitu, ia tidak merasa masa mudanya terampas. Even so, he did not feel robbed of their youth. Ini bukan sekadar impian, ini hidupku, gadis berjilbab ini menegaskan. This is not just a dream, this is my life, this confirms covered girls.

Pertandingan, buat Febri, selalu memberi kenangan sendiri. The game, create Febri, always giving his own memories. Ia memberi contoh ihwal kekalahannya melawan Haryanti, atlet silat dari Sumatera Selatan. He gave the example of his defeat against Haryanti particulars, silat athletes from South Sumatra. Haryanti tiga kali mengalahkan Febri, bahkan dua kali dalam event yang sama. Febri Haryanti beat three times, even twice in the same event.

Tiga kali kalah oleh dia, aku sempat berpikir, 'Apakah aku akan buat rekor jadi empat kali kalah?' Three times defeated by him, I was thinking, 'Am I going to make a record to be four times less?' Tapi ternyata aku bermain dengan tenang dan lepas. But it turns out I was playing with a calm and loose. Akhirnya 5-0 buatku, ujarnya berbinar-binar. Finally 5-0 for me, he said beaming.

Di dunia internasional pun Febri mulai mendapatkan perhatian khusus. Internationally too Febri start getting special attention. Pada pertandingan internasionalnya yang pertama di United Kingdom Open 2006, Febri mendapat emas. At the first international match in the United Kingdom Open 2006, Febri got gold. Selanjutnya, ia mendapat perak di University Games di Hanoi, Vietnam, pada tahun yang sama. Next, he got a silver in the University Games in Hanoi, Vietnam, in the same year. Terakhir ia sukses dalam Belgia Terbuka 2007 dengan merebut emas di kelas C putri sekaligus menjadi pesilat terbaik. Finally he was successful in the Belgian Open 2007 by winning gold in the class C as well as a daughter of the best fighters.

Namun, ia masih belum puas. However, he still was not satisfied. Targetnya adalah emas di SEA Games Thailand dan Pekan Olahraga Nasional XVIII bagi Jawa Barat. The target is gold at the SEA Games in Thailand and the National Sports Week XVIII of West Java. Ia telah bersumpah menempa dirinya sekeras mungkin. He has vowed to forge himself as hard as possible.

Saat ini Febri sedang digembleng di Pusat Kopassus di Batu Jajar. Febri currently being trained at the Center for Special Forces in Stone Jajar. Ia menilai latihan yang banyak melibatkan anggota Kopassus itu sangat menyenangkan karena tidak sekadar menempa fisik dan teknik, tapi juga mental. He considered that a lot of exercises involving members of Kopassus was really fun because it is not simply forge the physical and engineering, but also mentally. Aku tidak akan melupakan pelatnas ini karena ini adalah pelatnas pertamaku dan ternyata sangat menyenangkan, katanya. I will not forget the national training because this is my first national training and it is great, he said.

Meskipun jauh dari orang tua, Febri mengaku tidak pernah tertinggal berita apa pun karena setiap hari ia pasti menelepon sang mama. Although far from parents, Febri claimed never left any news because every day he would call her mama. Bahkan, ketika masih di Jakarta, kalau memungkinkan ia menyempatkan pulang ke Cirebon. In fact, when I was in Jakarta, if possible, he took home to Cirebon. Tapi yang tidak pernah lepas dari pelukannya adalah boneka harimau kecil yang diberi nama Maung. But that is never out of his arms was a small stuffed tiger named Maung.

Maung itu keberuntunganku. Maung was lucky. Aku tidak pernah pergi ke mana pun tanpa Maung. I never go anywhere without Maung. Rasanya ada yang hilang deh kalau Maung tidak ada di tempat tidurku, katanya. Something was missing deh when Maung was not in my bed, he said.

Oleh : MUSLIMA HAPSARI By: MUSLIMA Hapsari
Koran Tempo Minggu, 30 September 2007 Koran Tempo Sunday, September 30, 2007



Artikel Febriyani Nurkhasanah yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Febriyani Nurkhasanah article that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-05-17 17:46] - Powered by BING [2012-05-17 17:46]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.