Ketika Golok Tak Terpisahkan Dengan Pencak Silat. When Machete Inseparable With Pencak Silat.
[ in English ] [ in Bahasa ]Jun 11th, 2008 | By admin | Category: Traditional Ethnic Visited 2837 times, 1 today [ in English ] June 11th, 2008 | By admin | Category: Traditional Ethnic Visited 2837 times, 1 today [ in Bahasa ]
Pencak silat lama dikenal sebagai seni beladiri yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Long been known as silat martial art that is characteristic of the Indonesian nation. Seni olah tubuh ini begitu membudaya hingga keberadaannya hampir dikenali setiap wilayah pelosok Tanah Air. Though body art is so entrenched until its existence is almost recognizable every region throughout the country. Di masyarakat Sunda, misalnya. In Sundanese, for example. Kepopuleran pencak silat sungguh melegenda. Popularity of martial arts was legendary. Hampir setiap warga mengenalinya, tak terkecuali warga di Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Nearly every citizen recognizes it, not least the residents in the Village Nyalindung, Sukabumi regency, West Java.
Sejarah ilmu silat ini memiliki akar kuat yang sangat panjang, meski belum diketahui secara pasti sejak kapan ilmu bela diri ini masuk ke Bumi Pasundan. The history of martial arts has strong roots are very long, although it is not certain since when these martial arts into the Earth Pasundan. Yang jelas keberadaannya sudah dikenali semenjak ratusan tahun yang lampau. Clearly its existence has been known since hundreds of years ago. Bahkan, di dalam Serat Centini disebutkan bahwa pada masa pra-Islam istilah padepokan sudah dikenal. In fact, in the Fiber Centini mentioned that in pre-Islamic term already known hermitage. Kini, pencak silat di Jabar juga sudah berkembang dengan masing-masing daerah memiliki ciri khas perguruan dengan jurus-jurus temuannya. Today, martial arts in West Java has also been developed by each region has a typical college with moves his findings.
Seperti umumnya seni beladiri, silat pun berkembang mulai dari gerakan bela diri tangan kosong hingga pesilat diajarkan cara menggunakan senjata tajam. Like most martial arts, martial arts were developed starting from an empty hand martial arts movements until the fighter is taught how to use a sharp weapon. Uniknya, hampir semua perguruan pencak silat di Tanah Air ini mengkombinasikan gerakan silat dengan menggunakan senjata tajam khas daerah masing-masing, termasuk golok senjata tradisional keseharian masyarakat Sunda. Interestingly, almost all martial arts college in the country as it combines martial arts movements using sharp weapons typical of each area, including machetes daily Sundanese traditional weapons.
Golok yang biasa menjadi alat keseharian ke ladang kini menjadi sebuah alat beladiri yang disegani. Typical cleaver tool daily to the fields now become a respected self-defense tool. Sang pendekar tak sekadar mengajarkan ilmu golok yang lebih penting dari itu ketajaman golok harus disertai dengan ketajaman hati yang bersih. The Warriors did not just teach science cleaver is more important than the sharpness of the machete must be accompanied by the sharpness of a pure heart. Disaksikan pesilatnya, biasanya sang guru selalu mengajarkan filosofi sebuah golok. Witnessed pesilatnya, usually the teacher always teaches the philosophy of a machete.
Sogong adalah salah satu pendekar silat Sukabumi yang masih mengamalkan silat menggunakan golok. Sogong is one of the warriors who still practice the martial arts Sukabumi using a machete. Namun, golok biasanya hanya digunakan jika kondisi benar-benar dalam keadaan terpojok. However, the machete is usually only used if the condition is really in a state cornered. Golok terkadang juga digunakan oleh para pesilat untuk atraksi seni. Machete is sometimes also used by the fighters for the attraction of art. Sebagai seorang guru silat, Sogong juga melatih dan membekali belasan muridnya dengan jurus-jurus tangan kosong, termasuk tenaga dalam ataupun kebatinan. As a teacher of martial arts, Sogong also train and equip students with dozens of empty-handed moves, including personnel in or psychotherapy. Namun, mengingat jurus golok dengan tenaga dalam cukup berbahaya, Sogong tak ingin membiarkan muridnya berlama-lama dalam pengaruh ilmu gaib itu. However, given moment with a power cleaver in a fairly dangerous, Sogong not want to let students linger in the occult's influence.
Untuk memperoleh golok atau bedog pusaka yang sejiwa dengan si empunya, berbagai macam ritual harus dilakukan seorang pendekar. To obtain a machete or heirloom bedog soul with the owner, various rituals have to be a warrior. Salah satunya dengan menyucikan diri. One of them with purify themselves. Setelah dalam kondisi suci diri, sang pendekar membawa goloknya ke ajengan atau pemuka agama agar goloknya didoakan sehingga membawa berkah dan kebaikan kepada pemiliknya. After the condition of the sacred self, the warrior took his machete to Ajengan or religious leaders to pray for his machete so as to bring blessings and goodness to its owner. Biasanya, upacara ritual ini dilakukan pada saat bulan Maulud atau hari-hari tertentu yang dianggap keramat. Typically, this ritual ceremony performed at the time of the month Maulud or certain days that are considered sacred. Ada juga ritual-ritual yang bersifat lebih pribadi sesuai kepercayaan yang dianut sang pendekar. There are also rituals that are more personal beliefs held according to the swordsman.
Dalam pelaksanaan ritual, biasanya pendekar membawa sejumlah muridnya, rekan ataupun kerabat untuk ikut berdoa supaya mendapatkan rido dari sang pencipta. In the implementation of the ritual, usually warriors carry a number of his students, colleagues or relatives to come to pray in order to get rido of the creator. Para pengikut ini juga harus membawa dirinya dalam keadaan suci yaitu dengan berwudu. The followers also must carry himself in a state that is sacred to the ablutions. Setelah menyucikan diri, doa-doa pun dikumandangkan. After purifying himself, had echoed prayers. Setelah golok didoakan oleh ajengan, sang pendekar disatukan jiwanya dengan golok. After machete prayed by Ajengan, the warriors united his soul with a machete. Ritual diakhiri dengan pesan ajengan kepada pendekar agar senjata goloknya dipergunakan untuk kebaikan. The ritual ends with a message to the warriors Ajengan his machete a weapon to be used for good.
Golok pusaka di tangan pendekar akan sangat berbahaya jika tidak diiringi kematangan mental pemiliknya. Machete heritage in the hands of warriors would be very dangerous if not accompanied by mental maturity owners. Pesan yang disampaikan ajengan menjadi bekal sang pendekar dalam memanfaatkan goloknya. The message Ajengan become warriors in the stock harness his machete. Golok pusaka yang diperolehnya adalah amanah untuk digunakan di jalan yang benar. Inheritance of acquired cleaver is the mandate for use on the right path.
Desa Cibatu, Cisaat, Sukabumi, selama ini dikenal salah satu penghasil berbagai macam senjata tajam yang salah satunya adalah golok. Village Cibatu, Cisaat, Sukabumi, is known for producing one of a variety of weapons that one of them is a sharp machete. Meskipun dengan teknologi yang sederhana, mereka sudah menghasilkan ribuan senjata tajam yang didistribusikan di sejumlah daerah di Indonesia. Even with simple technology, they have produced thousands of sharp-edged weapons that are distributed in several regions in Indonesia.
Umumnya budaya membuat senjata ini di sana sebagai tradisi turun temurun dari para leluhurnya. Generally, culture makes this weapon in there as a tradition handed down from his ancestors. Namun, dalam perkembangannya desa ini kemudian dikenal sebagai desa pembuat golok. However, in the progress of this village became known as the village machete maker. Golok buatan Desa Cibatu ini kini mulai banyak dijumpai di gerai-gerai toko di kawasan Jabar. Machete artificial Cibatu Village is now starting to be found in many store outlets in the area of West Java. Baik golok untuk kebutuhan senjata di ladang maupun golok yang dibuat khusus untuk pesilat. Both the cleaver to the needs of the field guns and machetes are made specifically for fighters.
Salah seorang penerus pembuat golok mumpuni di Desa Cibatu ini adalah Haji Aas As'ari. One of his successor qualified machete maker in the village of Haji Aas Cibatu is As'ari. Lelaki separuh baya ini tumbuh dan besar di Desa Cibatu. This middle-aged man grew and grew up in the village of Cibatu. Haji Aas mengenal pembuatan golok sejak usia belia. Haji Aas know making a machete from a young age. Ketika menginjak dewasa, ia mulai ditempa dengan olah batin yang diajarkan orang tuanya. As an adult, he began to be forged if the mind is taught by his parents. Maklum, seorang empu golok pusaka harus memilki ilmu dan kesucian hati agar buatannya memiliki keampuhan supranatural bagi pemiliknya. Understandably, a master cleaver treasures must have the knowledge and purity of heart that has the power of supernatural-made for its owner. Kesucian hati dan berdoa diperlukan agar pembuatan goloknya diridoi Yang Maha Pencipta. Purity of heart and prayer is needed in order to manufacture his machete diridoi the Creator.
Dalam proses pembentukan golok, Haji Aas selalu mengutamakan mutu. In the process of forming a machete, Haji Aas always give priority to quality. Tak heran, Haji Aas teliti dalam memperhatikan model, ukuran serta bentuk golok. Not surprisingly, Haji Aas meticulous in attention to the model, size and shape of a machete. Soal bahan mentah golok, Haji Aas selalu memilih besi mentah yang terbaik. Problem machete raw materials, Haji Aas always choose the best raw iron. Sementara gagang golok, Haji Aas memilih tanduk kerbau. While the handle of a machete, Haji Aas choose buffalo horn. Dalam proses pembuatannya, Haji Aas selalu mengerjakan sendiri. In the manufacturing process, Haji Aas always working on his own. Ini dilakukan agar hasil yang didapat golok yang berkualitas terbaik. This is done so that the results obtained the best quality cleaver. Yang pasti, golok akan menjadi dua sisi mata, yakni untuk kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana si pemilik menggunakannya.( ORS/Joy Astro dan Teguh Prihantoro – Liputan6.com ) To be sure, machetes will be two sides of the eyes, which for better or worse depending on how the owner to use it. (ORS / Astro and True Joy Prihantoro - Liputan6.com)






