Menengok Silat di Singapura. Looking Silat in Singapore.
[ in English ] [ in Bahasa ]Jun 10th, 2008 | By admin | Category: Artikel Silat , Featured Articles Visited 7978 times, 1 today [ in English ] June 10th, 2008 | By admin | Category: Articles Silat , Featured Articles Visited 7978 times, 1 today [ in Bahasa ]
Orang Melayu atau Islam belajar silat. The Malays or Muslims learn martial arts. Warga Cina belajar wushu. Chinese citizens learn wushu.
Pencak silat bukanlah cabang olahraga populer di Singapura. Pencak silat is not a popular sport in Singapore. Sebab, warga Negeri Kota yang mayoritas adalah etnis keturunan Cina menganggap olahraga itu tidak cocok bagi mereka. Therefore, the majority of the City District residents are ethnic Chinese descent consider it not appropriate sport for them.
Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa pencak silat adalah seni bela diri mistis, yang kental dengan nuansa Islam dan hanya untuk orang-orang Melayu, kata Sheik Alau'ddin Yacoob Marican, Direktur Eksekutif Persekutuan Silat Singapura (Persisi), ketika ditemui Tempo di sekretariat Persisi di Bedok North Street, Singapura, beberapa waktu lalu. There is still a perception in some communities that martial arts is a mystical martial art, is thick with the nuances of Islam and only for the Malays, said Sheik Alau'ddin Yacoob Marican, Executive Director of the Singapore Silat Guild (precision), when met at the secretariat Tempo precision in Bedok North Street, Singapore, some time ago.
Meski tak terlalu diminati, sejak 2004 pemerintah Singapura memasukkan silat sebagai core identified sport atau cabang olahraga utama, yang disejajarkan dengan atletik, bulu tangkis, boling, sepak bola, layar, renang, polo air, dan tenis meja. Although not too enthused, since 2004 the Singapore government as a cores include martial arts or sports Identified major sports, which is aligned with athletics, badminton, bowling, football, sailing, swimming, water polo, and table tennis.
Artinya, silat kini telah menjadi satu dari tujuh cabang olahraga yang diprioritaskan di Singapura dalam pembinaan dan pendanaan. That is, the martial arts has now become one of the seven priority sports in Singapore in guidance and funding. Usaha tersebut nyatanya membuahkan hasil. The real effort to fruition.
Tengok saja dalam kejuaraan dunia pencak silat di Malaysia pada November lalu. Just look at the martial arts world championships in Malaysia in November. Kontingen Singapura berhasil memboyong tiga medali emas, bandingkan dengan Indonesia yang hanya memperoleh dua emas. Singapore contingent to have won three gold medals, compared with Indonesia, which won just two gold.
Di arena SEA Games, Singapura memang hanya kebagian satu emas. In the arena of the SEA Games, Singapore's only gets one gold. Tapi Sheik Alau'ddin punya alasan. But Sheik Alau'ddin have a reason. Menurut dia, tidak semua pesilat andalan bisa diturunkan. According to him, not all can be lowered mainstay fighter. Dari 13 pesilat yang tampil semuanya adalah wajah baru. Of the 13 fighters that appear are all new faces.
Adanya stigma bahwa silat hanya bagi orang Melayu membuat warga Singapura etnis non-Melayu tak tertarik mempelajarinya. The existence of stigma that martial arts only for the Malays make non-ethnic Singaporean Malays are not interested to learn. Tercatat dari sekitar 15 ribu warga yang belajar pencak silat, hanya sekitar 200 orang yang berasal dari etnis non-Melayu, seperti India, Arab, dan Cina. Recorded from about 15 thousand citizens who learn martial arts, only about 200 people who came from non-Malay ethnic groups, such as India, Arabia, and China.
Ini yang terjadi di Singapura. This is what happened in Singapore. Orang Melayu atau Islam belajar silat. The Malays or Muslims learn martial arts. Warga Cina belajar wushu dan seterusnya, kata Sheik Alau'ddin. Chinese citizens studying wushu and beyond, said Sheik Alau'ddin. Bagaimana bisa berkembang kalau yang tertarik belajar hanya etnis Melayu yang jumlahnya tidak banyak. How could evolve if interested in learning only the Malays who were not many.
Inilah wajah Singapura. This is the face of Singapore. Sebuah negara multietnis dengan keturunan Cina menjadi mayoritas, 75.2 persen dari populasi, Melayu 13,6 persen, India 8,8 persen, sedangkan sisanya 2,4 persen berasal dari Eropa dan etnis lain. A multiethnic state with ethnic Chinese form the majority, 75.2 percent of the population, Malays 13.6 percent, India 8.8 percent, while the remaining 2.4 percent came from Europe and other ethnicities.
Negara itu beberapa kali mengalami konflik etnis, ras, dan agama. The country several times through ethnic conflicts, racial, and religious. Setidaknya ada dua konflik etnis besar yang memakan korban jiwa, yakni kerusuhan etnis Maria Hertogh pada 1948 antara penduduk Melayu/Islam dengan warga Eropa/Kristen. There are at least two major ethnic conflict casualties, namely Maria Hertogh racial riots in 1948 between the Malay / Muslim by Europeans / Christians. Kerusuhan kedua terbesar adalah konflik Cina-Melayu, yang terjadi pada 1964. The unrest is the second largest Chinese-Malay conflict, which occurred in 1964.
Puluhan tahun berlalu, segregasi etnis nyatanya masih tetap ada. Decades passed, ethnic segregation in fact still exist. Bahasa resmi mereka adalah Melayu dan Inggris. Their official language is Malay and English. Lihat saja lagu kebangsaan Majulah Singapura, yang tetap dinyanyikan dalam bahasa Melayu. Just look at Singapore's national anthem, Go up, which still sung in Malay.
Tapi sehari-hari warga menggunakan bahasa asal etnis mereka masing-masing, termasuk Mandarin dan Tamil. But everyday citizens use the language of their ethnic origin of each, including Mandarin and Tamil. Untung saja ada bahasa Inggris yang diadaptasi secara lokal, yang disebut Singapore English (Singlish), yang paling luas digunakan. Luckily there are English locally adapted, called Singapore Classic (Singlish), the most widely used.
Masih adanya segregasi etnis dan persepsi bahwa silat berorientasi mistik hanya untuk muslim dan etnis Melayu, menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Persisi dalam memasyarakatkan pencak silat. Still the existence of ethnic segregation and the perception that the mystic arts oriented only to Muslims and ethnic Malays, become heavy enough homework for precision in socializing martial arts.
Dibentuk pada 1976, Persisi menjalin kerja sama erat dengan Persekutuan Silat Antarbangsa (Persilat) membentuk silat sebagai murni olahraga beladiri yang kompetitif. Formed in 1976, the precision to work closely with the Guild Silat between nations (Persilat) form the martial arts as a pure competitive sport.
Kami telah mengoreksi semua aspek yang berkaitan dengan agama dan sistem kepercayaan tertentu sehingga membentuk silat modern yang siap menjadi olahraga global, yang bisa dipelajari semua orang, tutur Sheik Alau'ddin. We have corrected all aspects relating to certain religions and belief systems so as to form a modern martial art that is ready to become a global sport, which can be learned all the people, said Sheik Alau'ddin.
Aslinya, semua beladiri melibatkan pemahaman dari sistem kepercayaan tertentu. Originally, all martial involving an understanding of a particular belief system. Beladiri Jepang dan Cina, misalnya, terkait erat dengan kepercayaan Zen, Tao, dan agama Buddha. Japanese and Chinese martial arts, for example, closely related to the beliefs of Zen, Taoism, and Buddhism. Karena asalnya dari Indonesia, yang mayoritas adalah muslim, maka sistem kepercayaan itu juga terpantul dalam pencak silat. Because it's from Indonesia, the majority are Muslims, then the belief system that is also reflected in the martial arts.
Tapi sebenarnya pencak silat adalah sistem beladiri yang universal dan tidak hanya dikhususkan pada mereka yang beragama Islam. But the real martial arts self-defense system that is universal and not only devoted to those who are Muslims. Di Amerika Serikat dan Eropa, praktisi silat berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing. In the United States and Europe, martial arts practitioners to pray according to their respective religions.
Salah satu strategi, Persisi telah mencetak material brosur dan poster tidak dalam bahasa Melayu, tapi dalam bahasa Inggris sejak 10 tahun lalu. One strategy, precision has been printing brochures and posters are not material in Malay, but in English since 10 years ago. Dari 103 community center di Singapura, hampir 95 persen membuka pelatihan silat. Of the 103 community centers in Singapore, nearly 95 percent of open martial arts training.
Tidak cuma itu, saat ini 70 persen sekolah di Singapura juga mengajarkan pencak silat sebagai ektrakurikuler tetap lewat program Silat Goes to School. Not only that, currently 70 percent of schools in Singapore also teaches martial arts as an extracurricular programs continue through Silat Goes to School. Silat juga dimasukkan sebagai kurikulum sekolah olahraga Singapura. Silat is also included as a sports school curriculum in Singapore.
Sebagai sarana pembinaan dan pencarian bibit unggul dari seluruh aktivitas itu, setiap tahunnya Persisi rutin menggelar kompetisi silat berbagai usia dan kalangan. As a means of coaching and a search of seeds from all the activity, each year a routine precision martial arts competition held various ages and walks of life. Ada program pembinaan dan kompetisi Singa Silat dan Singa Cub untuk bocah 3-11 tahun. There is a coaching and competition program Silat Lion and Lion Cub for boys 3-11 years.
Sejak dini mereka telah dilatih Singapore Silat Centre of Excellence untuk kategori seni dan tanding. Early on they have been trained Singapore Silat Centre of Excellence in the category of arts and sparring. Mereka bahkan dikirim untuk beruji coba ke Malaysia dan Indonesia dua kali setahun untuk memberikan pengalaman. They even sent to beruji try to Malaysia and Indonesia twice a year to provide experience.
Selain itu, masih ada kejuaraan nasional untuk berbagai kategori usia mulai dari prajunior (12-14 tahun), junior (14-17 tahun), dan senior (17 tahun ke atas). In addition, there is still a national championship for the various categories ranging from prajunior age (12-14 years), junior (14-17 years) and senior (17 years and over). Untuk tingkat nasional ada kejuaraan Singapura Terbuka yang diikuti oleh negara lain. For the national level there is the Singapore Open championship, followed by another country.
Untuk level perguruan tinggi ada kejuaraan Inter-varsity yang diikuti berbagai perguruan tinggi, seperti National University of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Polytechnic, dan Republic Polytechnic. For college-level Inter-varsity championship there followed the various colleges, such as the National University of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Polytechnic and Republic Polytechnic.
Dengan seluruh aktivitas tersebut, diharapkan akan lebih banyak warga Singapura non-Melayu yang belajar pencak silat. With all these activities, expected to be more non-Malay Singaporeans who learn martial arts. Seorang pesilat wanita keturunan Cina yang ditemui Tempo mengaku stigma terhadap silat tetap ada di kalangan warga non-Melayu. A fighter woman of Chinese descent who met with Tempo claimed stigma towards arts remain among the non-Malays.
Stigma tersebut membuat pesilat non-Melayu tidak mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga, seperti halnya bila mereka memilih menekuni olahraga renang atau wushu. Stigma makes fighters of non-Malays do not get great support from family, like if they choose to pursue sports pool or wushu.
Salah satu cara untuk memikat anak-anak muda adalah pemberian beasiswa pendidikan bagi yang berhasil merebut medali dalam kejuaraan internasional. One way to lure young children is the provision of educational scholarships for those who won medals in international championships. Hal ini juga yang membuat Persisi meluncurkan program Silat Goes Global. It also launched a program that makes precision Silat Goes Global.
Hal ini dilakukan agar silat mendapat dukungan luas untuk bisa dipertandingkan di Asian Games atau Olimpiade. This is done in order to get broad support for the arts could be competed at the Asian Games or Olympics. Dengan demikian anak-anak muda lebih termotivasi karena memiliki kesempatan mengharumkan nama bangsa di ajang multi-event besar. Thus young children are more motivated because it has a chance it the name of the nation at large multi-event arena.
Oleh : AMAL IHSAN (SINGAPURA) By: AMAL IHSAN (SINGAPORE)
www.silatindonesia.com www.silatindonesia.com






