Peresmian Asosiasi Pencak Silat di Tunisia. Inauguration of the Association of Pencak Silat in Tunisia.
[ in English ] [ in English ]Jul 3rd, 2008 | By Yanweka | Category: Serbaneka Visited 1492 times, 1 today [ in English ] July 3rd, 2008 | By Yanweka | Category: Villekulla Visited 1492 times, 1 today [ in English ]
Sebagai tindak lanjut dari MoU Kerjasama Pemuda dan Olahraga RI-Tunisia yang ditandatangani pada Sidang Komisi Bersama ke-9,tanggal 9 Juni 2008 di Tunis,KBRI Tunis berniat mengembangkan pencak silat dengan membentuk Association Tuniso – Indonesianne de Pencak Silat ( Asosiasi Pencak Silat Tunisia – Indonesia / ATIPS ) dan memproyeksikan Tunisia sebagai pusat pengembangan pencak silat di benua Afrika. As a follow-up of Youth and Sports Cooperation MoU between Indonesia and Tunisia signed the Joint Commission Meeting on the 9th, dated June 9, 2008 in Tunis, Tunis Embassy intends to develop a form of martial arts Tuniso Association - Indonesianne de Pencak Silat (Pencak Silat Association of Tunisia - Indonesia / ATIPS) and projecting the development of Tunisia as a center of martial arts on the African continent. ATIPS tersebut telah diresmikan oleh Bapak Menlu RI, pada tanggal 9 Juni 2008 di Wisma Duta KBRI Tunis. ATIPS has been inaugurated by Mr. Foreign Affairs, on June 9, 2008 at the Residence of the Ambassador Embassy in Tunis.
Di sela-sela tugas memimpin Sidang Komisi Bersama ke-9 RI-Tunisia di Tunis, tanggal 9 Juni 2008, Menlu RI mengadakan tatap muka dengan masyarakat Indonesia di Tunis sekaligus meresmikan berdirinya Association Tuniso – Indonésienne de Pencak Silat (Asosiasi Pencak Silat Tunisia – Indonesia / ATIPS) di Wisma Duta RI. On the sidelines of the task to lead the Joint Commission Meeting between Indonesia and Tunisia-9 in Tunis, dated June 9, 2008, Minister of Foreign Affairs met with the people of Indonesia in Tunis as well as formalizing the establishment of Association Tuniso - Indonésienne de Pencak Silat (Pencak Silat Association Tunisia - Indonesia / ATIPS) at Wisma Duta Indonesia. “Pelatihan seni beladiri asli Indonesia ini bisa menjadi sarana soft power diplomacy, serta merupakan sarana people to people contact untuk lebih memperkenalkan Indonesia lebih dekat “, demikian papar Menlu. "The training of this martial art native to Indonesia could be a means of soft power diplomacy, as well as a means of people to people contact to introduce Indonesia closer," the Minister said.
Kegiatan pencak silat yang dipelopori oleh KBRI Tunis ini adalah untuk membangun persahabatan, terutama dalam bidang kepemudaan dan olahraga antara Indonesia dengan masyarakat Tunisia maupun masyarakat dari negara lainnya yang sedang berada di Tunis, khususnya para mahasiswa mancanegara yang sedang belajar di Tunis. Martial arts activities spearheaded by the Embassy in Tunis is to build friendships, especially in the area of youth and sports between Indonesia and Tunisia as well as community people from other countries who were in Tunis, in particular foreign students studying in Tunis.
“Pengembangan pencak silat Indonesia di Tunisia merupakan bagian dari diplomasi budaya”, demikian ungkap KUAI RI Tunis, Chandra Hasan. "Development of Indonesian martial arts in Tunisia is part of cultural diplomacy", so says Kuai RI Tunis, Chandra Hasan.
Tercatat sejak dimulainya latihan empat bulan yang lalu, telah ikut belajar seni bela diri asli Indonesia tersebut, para mahasiswa dari Tunisia, Senegal, Turki, Pantai Gading, Burkina Faso, Nigeria, Niger, Benin, Togo, Rusia dan Indonesia. Recorded since the start of training four months ago, has come to learn martial arts native to Indonesia, the students from Tunisia, Senegal, Turkey, Ivory Coast, Burkina Faso, Nigeria, Niger, Benin, Togo, Russia and Indonesia.
Untuk mendukung kegiatan ATIPS, KBRI Tunis menyediakan fasilitas latihan pencak silat di kantor KBRI, serta mendorong seni beladiri tersebut sebagai bagian ekstrakulikuler olahraga di salah satu Perguruan Tinggi tertua di dunia, Universitas Ezzitouna Tunis, yang merupakan tempat sebagian besar mahasiswa Indonesia menuntut ilmu. To support ATIPS Embassy in Tunis provides martial arts training facilities in the office of the Embassy, as well as encouraging the martial arts as part of extracurricular sports in one of the world's oldest universities, the University of Tunis Ezzitouna, which is where the majority of Indonesian students studying.
Sebagai salah satu upaya memperkenalkan pencak silat sebagai budaya Indonesia kepada masyarakat Tunisia dan internasional, KBRI Tunis akan menampilkan pencak silat dalam partisipasinya pada berbagai festival budaya di Tunisia. As one of the martial arts as an attempt to introduce Indonesian culture to the international community and the Tunisian Embassy in Tunis will feature martial arts in its participation in various cultural festivals in Tunisia. Direncanakan pencak silat akan ditampilkan pada Festival Aoussu (Festival Dewa Laut) di kota wisata utama Tunisia, Sousse yang setiap tahunnya dikunjungi oleh tiga juta wisatawan terutama dari Eropa. Planned martial arts will be displayed on Aoussu Festival (Festival of the Sea Gods) in the main tourist town of Tunisia, Sousse which annually visited by three million tourists mainly from Europe. Festival tersebut merupakan satu-satunya festival budaya di Tunisia yang dibuka langsung oleh Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. The festival is the only cultural festival in Tunisia that opened by the President of Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Pencak silat sangat terkait dengan budaya Indonesia dan dapat ditampilkan dengan menggunakan instrumen musik tradisional Indonesia sehingga pencak silat dapat menjadi tontonan kesenian menarik yang sangat potensial bagi promosi budaya Indonesia. Pencak silat is strongly associated with Indonesian culture and can be displayed using traditional musical instruments Indonesia so that martial arts can be a very interesting spectacle art potential for the promotion of Indonesian culture. (Sumber: Kemenegpora, Deplu RI, KBRI Tunisia) (Source: Kemenegpora, Foreign Ministry, the Embassy in Tunisia)






