HUT RI 63 – Sejarah Silat dan Peranannya Sebagai Alat Perjuangan Bangsa. HUT RI 63 - History and Role as a Tool Silat Nations Struggle.
[ in English ] [ in Bahasa ]Aug 19th, 2008 | By Yanweka | Category: Cover Story Visited 3169 times, 1 today [ in English ] Aug 19th, 2008 | By Yanweka | Category: Cover Story Visited 3169 times, 1 today [ in Bahasa ]
oleh: Kiki Rizki Noviandi by: Kiki Rizki Noviandi
Awal mula Beginning of
Sejarah mencatatat bahwa manusia mengembangkan kemampuan beladiri untuk bertahan hidup, kemampuan beladiri ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. History registering that humans developed the ability to survive martial arts, martial ability has existed since time immemorial. Beberapa aliran kuno di nusantara memiliki hikayat dan metos bagaimana aliran itu di ciptakan yang sebagian besar nenek moyang kita belajar beladiri kepada binatang atau mengikuti tingkah polah binatang (seperti pada mitos silat cimande, silat bawean, silat melayu). Some ancient stream in the archipelago have metos saga and how the flow was created, most of whom we learn martial ancestors to follow the doings of the animal or animals (as in martial arts myth Cimande, Bawean silat, silat melayu). Sebagian besar di lukiskan belajar pada tingkah binatang seperti monyet, macan, ular dan burung. Most of the described study on the behavior of animals such as monkeys, tigers, snakes and birds.
Beladiri pada perkembangannya digunakan pula sebagai alat untuk memperluas kekuasaan dan mempertahankan kedaulatan kelompok masyarakat yang pada akhirnya pemahaman dan penguasaan beladiri dan kesaktian menjadi sarat untuk menentukan posisi sosial dan politik di masyarakat kala itu. Martial in its development is also used as a tool to expand the power and defend the sovereignty of the people that ultimately understanding and mastery of martial arts and magic be loaded to determine the social and political position in society at that time. Demikian pula dengan kerajaan – kerajaan di nusantara dimana beladiri ini di ajarkan di lingkungan terbatas dan tidak di ajarkan secara bebas kepada masyarakat umum. Similarly, the kingdom - the kingdom in the archipelago where the martial arts in teaching in a limited environment and are not taught freely to the public.
Tercatat kerajaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit kala itu memiliki bala tentara yang sangat cakap dalam berperang dan ahli dalam beladiri sehingga bisa memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas pada jamannya. Logged kingdom of Srivijaya and Majapahit kingdoms such as when it has a very capable army in the war and an expert in martial arts so they can have a very extensive dominions in his time. Demikian pula dengan kerajaan Sunda Pajajaran yang tercatat pernah mengalami pertikaian dengan Majapahit pada kasus Puputan Bubat dimana tercatat dalam sejarah semua pengiring putri Pajajaran bertempur sampai darah penghabisan dengan menggunakan paling tidak 7 jurus silat yang di kuasai para pasukan Pajajaran kala pertempuran Bubat terjadi. Similarly, the Sunda kingdom recorded Pajajaran have had a dispute with the Majapahit in cases where Puputan Bubat recorded in the history of all escort girls Pajajaran fight to blood efflux of at least 7 by using martial arts moves are in control of the troops when the battle Bubat Pajajaran happen.
Pengajaran silat Teaching martial arts
Pencak silat mulai berkembang dan melembaga sebagai salah satu mata pelajaran pada masa itu hanya di ajarkan di lingkungan keraton dan lembaga mandala. Martial arts began to flourish and institutionalized as one of the subjects in those days only taught in the environment and institutions mandala palace. Di keraton dan istana silat diajarkan pada lungkungan keluarga istana, penggawa sampai pasukan perang. In the palace and the palace was taught martial arts at the royal family lungkungan, penggawa war until troops. Sedangakan di mandala, silat dan ilmu kebatinan di ajarkan para pendeta dan rohaniawan kala itu, rakyat jelata tidak bisa belajar beladiri begitu saja. Sedangakan in the mandala, martial arts and mysticism in the teaching of the priests and clergy at the time, ordinary people can not learn martial arts for granted. Ada status social dan ada aturan yang membatasi penyebaran ilmu beladiri dan kanuragan pada masa itu. There are social status and there are rules that limit the spread of martial arts and kanuragan at that time.
Pada masa awal islam masuk ke bumi nusantara kebiasaan pengajaran beladiri di wiyatamanda ini dilanjutkan, dengan mengajarkan juga silat dan beladiri di lingkungan pesantren guna membantu penyebaran agama islam kala itu. In the early days of Islam into the archipelago earth habit of teaching martial arts in this wiyatamanda continued, with also teaches martial arts and in boarding schools to help spread the religion of Islam at that time. Sehingga akhirnya rakyat bisa mendalami pencak silat ini dan peranan pesantren dan kerajaan islam kala itu sangat besar dalam membantu penyebaran silat di nusantara. So that eventually people can explore the martial arts and the role of Islamic boarding schools and the kingdom at that time very great in helping the spread of martial arts in the archipelago.
Kebiasaan ini melekat sampai sekarang, budaya solat dan silat masih di pegang teguh pada silat betawi dan Sumatra, kebiasaan berlatih silat di halaman surau setelah shalat isya sampai jam 24 malam menjadi hal yang biasa. This habit is attached to the present, prayer and martial arts culture is still in holding fast to the Betawi arts and Sumatra, the habit of practicing martial arts in the courtyard mosque after the Isha until 24 tonight become the norm. Keterikatan antara guru dan murid disimbolkan dengan pengangkatan anak sasian pada silat minang, dimana murid di angkat sebagai anak dari guru. Entanglement between teacher and pupil is symbolized by the removal of the child in martial arts minang pupil, where pupil in lift as the son of a teacher. Istilah “lahir silat mencari kawan dan bathin silat mencari tuhan” menjadi sangat popular di tanah minang. The term "born martial arts looking for friends and inner search for God" became very popular in the land minang. Bahkan tinggal di surau dan bersilat sudah merupakan ' Live Style ' bagi para pemuda minang kala itu. Even staying in the mosque and bersilat already a 'Live Style' for youth minang at the time.
Masa kolonialisme The period of colonialism
Silat mulai digunakan sebagai alat perjuangan ketika masa kolonialisme, dimulai dengan pengusiran pasukan Portugis dari Batavia oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah, tercatat puluhan ribu pasukan dari mataram, Cirebon dan sekitarnya bergerak guna menghalau pasukan Portugis dari Batavia. Silat began to be used as a tool of struggle when the era of colonialism, beginning with the expulsion of Portuguese troops from Batavia by troops under the command Fatahilah Demak, carrying tens of thousands of troops from Mataram, Cirebon and move around in order to banish the Portuguese troops from Batavia.

Belum lagi perjuangan masyarakat Banten dalam mengusir Belanda yang menghasilkan kebudayaan Debus. Not to mention the struggle of the people who drive the Dutch Bantam in culture produce Debus. Kebudayaan ini dulu di gunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasukan Banten dalam melawan pasukan Belanda. This culture was used to increase confidence in the Banten forces against the Dutch troops. Pertempuran antara Banten dan Belanda ini berakhir setelah Belanda melakukan politik adu domba yang mengakibatkan ratanya istana kerajaan Banten. The battle between the Dutch Bantam and ends after the Dutch political pitting resulting mean is the royal palace of Banten.
Perjuangan melawan kolonialisme tidak luput dari penggunakaan silat sebagai alat untuk membela bangsa kala itu, tercatat pertempuran yang paling besar dalam sejarah kolonialisme belanda adalah perang Diponegoro yang menyebabkan kebangkrutan dari VOC. The struggle against colonialism did not escape from penggunakaan martial arts as a tool for defending the nation at that time, recorded the greatest battles in the history of Dutch colonialism is Diponegoro war that caused the bankruptcy of the VOC.
Kyai Mojo yang merupakan guru sekaligus penaset spiritual Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di buang ke daerah Tondano di Sulawesi utara. Kyai Mojo which is a spiritual teacher and penaset Diponegoro successfully captured by the Dutch and the exhaust into Tondano area in north Sulawesi. Di Tondano ini beliau tinggal di daerah Jaton (Jawa Tondano) beserta para pengikutnya yang kemudian mengajarkan pelajaran agama dan beladiri pada masyarakat sekitar yang sampe saat ini masih dilestarikan dan dikenal dengan Silat Tondano yang sampai sekarang masih di kembangkan dengan nama “Perguruan Satria Kyai Maja”. In this Tondano he lived in the area Jaton (Java Tondano) and his followers who then teach the lessons of religion and martial arts in the community around that until now is still preserved and known as Silat Tondano which is still being developed under the name "College Satria Kyai Maja" .
Pada masa kolonialisme pengajaran silat di awasi dengan ketat karena di anggap membahayakan keberadaan penjajah kala itu, intelegen sangat memperhatikan siapa saja yang bisa silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat dianggap membahayakan dan di jebloskan kepenjara. At the time of colonialism in teaching martial arts closely watched because it is considered to endanger the existence of occupation at the time, intelligence very concerned about anyone who can teach martial arts and is considered dangerous to the community and in jebloskan into prison. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi sembunyi dan biasanya di ajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari. This is very influential on pattern of teaching martial arts, so that teaching martial arts began to secretly hidden and usually taught in small groups from house to house at night.
Belanda juga memanfaatkan para jawara dan ahli silat yang mau bekerja sama dengan belanda untuk menjadi opas dan centeng guna menjaga kepentingan para meneer dan tuan tanah kala itu, sehingga tidak jarang terjadi pertikaian dan pertempuran antara para jawara silat ini dengan para pendekar pembela rakyat jelata. The Netherlands also take advantage of the warlords and martial arts expert who will work together with the Dutch to become OPAS and the watchman to guard the interests of the meneers and landlords at the time, so it is not uncommon conflict between the warlords and martial arts combat with the warriors defenders of the common people. Kisah pitung menjadi satu legenda yang terkenal di masyarakat Betawi karena keberaniannya melawan para jawara dan kompeni guna membantu rakyat yang lemah. Pitung story became one of the famous legend in the Betawi people because of his courage against the warlords and Company to help the people who are weak.
Karena pengawasan sosial ini pulalah, maka mulailah di kembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri, Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan di tunggu tunggu oleh masyarakat. Because of this reason social supervision, then start in martial arts and ibingan developed, in order to cover the impression as martial arts, martial arts ibingan Things are very famous and in the waiting awaited by the community. Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa di ganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena di anggap sebagai hiburan. People can see the attraction of arts in marriage ceremony or circumcision even at night without disturbing the market by security forces at that time because it is considered as entertainment.
Disinilah mulai di kenal istilah silat kembagan (atau kembang) yang biasanya di tujukan pada silat ibingan dan silat buah yang di tujukan pada silat sebagai beladiri. This is where the term martial arts began in the know kembagan (or flower) are usually aimed at ibingan and martial arts in fruit aimed at a martial arts.
Kesadaran Nasionalisme Awareness of Nationalism
Dimulai dengan adanya kesadaran politik baru pada awal abad XX dan kebijaksanaan belanda yaitu Etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program khususnya pendidikan, Peningkatan peranan desa dan di bentuknya polisi desa. Starting with a new political consciousness in the early twentieth century and the Dutch policy is Etische Politiek, which aims to improve the welfare of the people through various programs, especially education, increase the role of the village and the village policeman in shape. Memilik pengaruh pada pola pengajaran silat pada masa itu, silat sudah mulai di ajarkan di sekolah sekolah dasar ( desascholen ), bahkan kalangan yang dekat dengan belanda seperti priyayi, amtenaren, KNIL bahkan marechausse pasukan khusus Belanda kala itu. Having an influence on the pattern of teaching martial arts at that time, martial arts are taught in school starting in elementary school (desascholen), even among close to the dutch like gentry, amtenaren, even marechausse KNIL Dutch special forces at the time.
Berjalan dengan timbulnya rasa nasionalisme, maka timbul pula pertetangan di kalangan para pengajar pencak silat (perguruan) pada saat itu tentang siapakah yang berhak mempelajari silat ini. Walking with the emergence of a sense of nationalism, it also arises pertetangan among martial arts instructors (college) at that time about who is entitled to learn this martial art. Bolehkah silat di ajarkan pada kaum bangsawan, amtenaren atau hanya untuk bumi putra? Can martial arts in teaching in the nobility, amtenaren or just for the earth's son? Kesadaran akan nasionalisme ini semakin menguat ketika pada tahun 1915 di buka kesempatan untuk mendirikan organisasi politik bagi kalangan bumi putra, pengajaran silat menjadi salah satu materi yang diajarkan di setiap organisasi ini. Awareness of this nationalism intensified in 1915 when it opened an opportunity to establish a political organization for the sons of the earth, teaching martial arts became one of the material taught in each of these organizations. Seperti pada perkembangan awal Syarikat Islam di daerah Jawa yang diikuti oleh berdirinya persaudaraan Setya Hati oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyebabkan Belanda sangat mengawasi perkembangan perguruan ini karena memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. As in the early development of Islam in Java Syarikat followed by the establishment of fraternal Setya Heart by Ki Ngabehi Surodiwiryo that causes Dutch very oversee the development of this college because it has a lot of followers and disciples all. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis. Ki Ngabehi Surodiwiryo trains students MULO that eventually many became nationalist figures.
Termasuk juga mantan Presiden Sukarno yang Tercatat pernah belajar silat kepada Ua Nampon di Bandung, ini menunjukkan betapa silat sangat berperan dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keberanian dalam membela kebenaran. Included is also a former President Sukarno who had studied martial arts to View Ua Nampon in Bandung, this shows how silat was instrumental in increasing a sense of confidence and courage in defending the truth.
Masa Penjajaran Jepang The alignment of the Japanese Period
Pada masa penjajahan jepang mulanya menghawatirkan silat di gunakan untuk melawan jepang, namun ternyata tidak di semua tempat terjadi perlawanan terhadap Jepang (sang saudara tua). During the Japanese occupation in the arts worrying initially used against the Japanese, but it did not happen at all places of resistance against Japan (the older brother). Akibatnya silat berkembang cukup baik di beberapa daerah bahkan pemerintah jepang yang pada saat itu selain membawa budaya beladirinya ke tanah air seperti karate, judo dan jujitsu. Consequently silat developed quite well in some areas even the Japanese government at that time in addition to bringing culture to the ground water beladirinya such as karate, judo and jujitsu. Mereka belajar silat dari para pendekar kita sehingga terjadi pertukaran budaya. They learned martial arts from our warriors resulting cultural exchange. Tentara PETA (pemuda pembela tanah air) di ajarkan beladiri Jepang guna berperang melawan Sekutu. Army PETA (youth homeland defense) in order to teach the Japanese martial art fighting against the Allies. Silat mengalami masa militerisasi karena menjadi bagian dari pendidikan militer. The militarization of martial arts experience as a part of military education. Pengajaran silat dilakukan kepada tentara Dai Nippon dan pasukan peta dengan disiplin militer yang sangat ketat. Teaching martial arts done to the army troops Dai Nippon and maps with a very strict military discipline.

Masa perjuangan kemerdekaan The period of struggle for independence
Silat menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan dalam perang fisik melawan Sekutu dan Jepang, Sebagai salah satu contoh adalah hasil pendidikan PETA yang dienyam oleh I Gusti Ngurah Rai selama pendidikan di Jawa Barat yang kemudian di ajarkan secara sembunyi – sembunyi kepada pasukannya, pendidikan silat ini sangat berpengaruh dalam perjuangan bahkan pada bentuk silat khas Bali. Silat became a part that can not be physically separated in the war against the Allies and Japan, as one example is the educational outcomes that PETA dienyam by I Gusti Ngurah Rai for education in West Java which is then taught in secret - hidden to his troops, this arts education very influential in the struggle even in the form of Balinese arts. Silat Bali sekarang banyak di pengaruhi oleh aliran silat dari Jawa Barat. Silat Bali now much influenced by the flow of silat in West Java.
Pasukan Hisbullah yang di bentuk di pesantren Buntet Cirebon selain mendapatkan pelatihan yang berat selama Pendidikan PETA, para tokoh ulama dan jawara pergabung dalam pasukan ini guna melawan penjajahan Belanda. Hezbollah forces in the form at the boarding Buntet Cirebon besides getting a weight training during the education PETA, the prominent scholars and champions pergabung in this army to fight against Dutch colonialism. Pasukan Hisbullah yang di kenal dengan pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat ikut juga bertempur pada tanggal 10 November di Surabaya, dan berperan serta aktif ketika terjadi gencatan senjata dalam perjanjian Renville. Hezbollah forces are in the know with Hezbollah forces XII Regiment joined Division I Sharif Hidayat also fought on the 10th of November in Surabaya, and participating actively in the event of Renville truce agreement.
Penutup Cover
Demikian sekilas tentang perkembangan silat dan kaitannya dalam perjuangan bangsa, masih banyak lagi peranan silat dalam membangkitkan semangat juang para pejuang dan pendekar dalam membela kemerdekaan bangsa ini semasa revolusi fisik dulu. Similarly, a glimpse of the arts and related developments in the national struggle, there are many more roles in raising the fighting spirit of martial arts fighters and warriors in defense of this nation's independence during the first physical revolution. Mudah mudahan tulisan ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tanah air khususnya silat yang merupakan warisan luhur dari budaya bangsa kita. Hopefully this paper evoke a sense of nationalism and love of the homeland culture, especially martial arts which is a cultural heritage of our nation.
Sumber : Sources:
- Silat Merentang Waktu (Oong Maryono) - Silat time spans (Oong Maryono)
- Catatan : Gusman Natawidjaja - Note: Gusman Natawidjaja
- dan beberapa sumber lainnya - And several other sources






