Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in Bahasa ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2787 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2787 times, 1 today [ in Bahasa ]

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Speaking of maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and surrounding areas.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Betawi Pitung Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things about Cingkrik that needs to be clarified. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. The elders maenpukulan Rawa Belong Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far precedes the birth of maenpukulan Cingkrik expected in Rawa Belong newly created at the beginning of the twentieth century by Ki maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. This can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, whose people still exist and still exist to teach Cingkrik to date.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (can not be ascertained where, because of Meruya and Tangerangpun already considered Kulon by people Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon Ki maing it is, but not finished learning, Ki maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. Up until at some point, Ki maing the running, his stick was taken by a neighbor who owned a monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Spontaneous Ki maing retract wand, until it came to pass between Ki maing the seizure sticks and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkeys just will not budge, with sprightly and lively tried to pull back the stick Ki maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles a martial arts stance.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki maing very impressed with the ape movements, until almost every day the monkey came maing Ki for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Every movement of the monkey a lively defense was accompanied by attacks, vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands that are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and his diligence practice, by Ki maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To test the extent to which the success of his new moves, Ki maing "try out" one by one friend seperguruannya it, which results none seperguruannya friends beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki maing any intension to try out new tactics that his pupil, but the reality experienced by friends seperguruan Ki maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred up the whole hermitage that and recognize the greatness gurupun Ki maing it his new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to the Rawa Belong, Ki maing redistribute to transmit his new jutsu to champions-champions who Rawa Belong in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik with the title "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. From Ki maing passed down to three people, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-developed with some students possess, which one of them is his own son of Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki helped develop maenpukulan Cingkrik and many have students scattered in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang Paragraph, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik more rapidly developed. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Jewel Green), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming are: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Mustache Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. At the time of Hasan Bang Whisker, maenpukulan Cingkrik constantly growing and increasingly well-known, together Nunung Bang and his colleagues founded the University Silat Cingkrik victimizing Pitung Jatayu. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) which still exists to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and surrounding areas.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, including the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have quite a lot of students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the mention of maenpukulan Cingkrik began to be known at the time of the second genre (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where words come from the expression Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but in its development of 12 existing stance and welcome, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Virtually every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive by attacking all at once nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, movements such as menotok, many relying on the hands and fingers with the target heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming developed with top-down combination beset-knocking, uptake feet (Cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, movement and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of the flexibility that continues to evolve depending on whom (teacher Cingkrik) we are studying / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origins of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Basic Kick Cingkrik are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The joint motion of 1-12 moves called Bongbang, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article on the History of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job )_____ Edited and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-01 07:01] - Powered by BING [2012-02-01 07:01]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2788 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2788 times, 1 today [ in English ]

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-01 07:01] - Powered by BING [2012-02-01 07:01]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2806 times, 3 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2806 times, 3 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-06 06:03] - Powered by BING [2012-02-06 06:03]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2821 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2821 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-14 09:50] - Powered by BING [2012-02-14 09:50]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2840 times, 2 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2840 times, 2 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-18 04:04] - Powered by BING [2012-02-18 04:04]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2854 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2854 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-22 02:54] - Powered by BING [2012-02-22 02:54]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2871 times, 4 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2871 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-26 00:18] - Powered by BING [2012-02-26 00:18]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2897 times, 4 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2897 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-01 04:31] - Powered by BING [2012-03-01 04:31]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2919 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2919 times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-05 00:38] - Powered by BING [2012-03-05 00:38]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2933 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2933 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-09 06:41] - Powered by BING [2012-03-09 06:41]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2949 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2949 times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-13 06:10] - Powered by BING [2012-03-13 06:10]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2966 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2966 times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-17 01:44] - Powered by BING [2012-03-17 01:44]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 2999 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 2999 ​​times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-25 00:33] - Powered by BING [2012-03-25 00:33]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3018 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3018 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, one of whom is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and came down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-29 02:38] - Powered by BING [2012-03-29 02:38]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3031 times, 4 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3031 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-02 08:04] - Powered by BING [2012-04-02 08:04]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3048 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3048 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-06 03:14] - Powered by BING [2012-04-06 03:14]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3071 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3071 times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-10 00:06] - Powered by BING [2012-04-10 00:06]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Sorry, we are unable to access the page you requested:<blockquote>http://silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/</blockquote>
Google   
Error
 

Sorry, we are unable to access the page you requested:
http://silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/

Please choose from the following:

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3126 times, 1 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3126 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because previously people only know Rawa Belong Cingkrik as "maenpukul". Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali. Maing Ki derived from the three persons, namely Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali.

Ki Saari Ki Saari

Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Ki Saari maenpukulan Cingkrik helped develop and has a student named Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong. Wahab Bang itself was co-develop it exists at some of the students, which one of them is his own son that Nur Bang that still exists to develop maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong.

Ki Ajid Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid. Ajid Ki maenpukulan Cingkrik helped develop and has spread students in Rawa Belong and its surroundings, including the famous are: Bang Acik (Munasik), Uming Bang, Bang verse, and Bang Majid.

Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Furthermore, from Bang Uming, maenpukulan Cingkrik developed more rapidly. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Bang Uming Cingkrik teaching in Rawa Belong not only alone but in other places such as Tenabang, Kemandoran (Green Gem), Kebon Orange / Palm Two and other areas. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung. As of the many disciples of the famous Bang Uming is: Akib Bang, Bang Umar, Hasan Whisker Bang, and Bang Nunung.

Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Bang on the Whisker Hasan, maenpukulan Cingkrik constantly evolving and increasingly well-known, together Nunung Bang and his friends founded the University Silat Cingkrik Jatayu Pitung scapegoat. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Among his students was the famous, and Bang Bang Sapri Warno (Suwarno Job) that still exist to teach maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong and its surroundings.

Ki Ali Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah: Ki Ali helped develop maenpukulan Cingkrik and also had many disciples, among the most famous are:

-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Ki-Sinan, originally from Orange and helped develop Kebon maenpukulan Kebon Cingkrik in Orange and surrounding areas. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong. Among his pupils was the famous: Melik and Bang Bang Entong.

-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Goning-Ki, derived from Kemanggisan, helped develop maenpukulan Cingkrik in Kemanggisan and surrounding areas. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan. Have enough students, including the famous Bang Hamdan.

-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing. Legod-Ki, derived from Muara Angke / urine which also helped develop maenpukulan Cingkrik in Muara Angke / urine.

Asal Kata Cingkrik The word origin Cingkrik

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). As mentioned above, that the reference maenpukulan Cingkrik has become a popular genre during the second (Ki Saari, Ajid Ki, and Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan. Where the word comes from the phrase Cingkrik Betawi, the Prancing-Jingkrik or Cingkrak-Cingkrik which means lively, this refers to the natural movement of the monkeys are very agile, to be developed into a martial arts stance (maenpukulan) a lively, attractive, in an attack that was also a defense, and defense is an attack which also sekalgus.

Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik Kick-Kick Maenpukulan Cingkrik

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Cingkrik has 12 moves and coupled with a welcome, but the development of 12 moves and there welcomed, it could be different depending on where we learn from the teacher. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Indeed every moment and movement Cingkrik is developing flexible, not rigid or raw. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah. But the point remains the same, agile movement, attack and survive, survive as well as attacking with nimble and agile.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. For example, as developed by Bang Wahab, moves and movements focused on the top, moves like menotok, many relying on the hands and fingers with the target of heartburn, chest, neck and face. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. While Bang Uming develop a top-bottom-bang combination beset, uptake feet (cingkrik) and drops down to attack the four corners. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing. Likewise with Ki and Ki Goning Sinan, who developed Cingkrik with their respective advantages.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. The lack of uniformity or difference either in stance, motion, and welcome in Cingkrik, in its development is not a fundamental problem for people who want to deepen Cingkrik, because of its flexibility to continue to grow depending on whom (teacher cingkrik) we learned / studied. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing. But most important is we must not forget the history of the origin of Cingkrik, who was born in and by the Rawa Belong, namely Ki Maing.

Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu: Kick Cingkrik basis are 12, namely:

  1. Keset Bacok Mat jab
  2. Keset Gedor Mat Gedor
  3. Cingkrik Cingkrik
  4. Langkah 3 Step 3
  5. Langkah 4 Step 4
  6. Buka Satu Open A
  7. Saup Saup
  8. Macan Tiger
  9. Tiktuk Tiktuk
  10. Singa Lion
  11. Lokbe Lokbe
  12. Longok Peered

Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut: Plus or followed by welcome:

  1. Sambut 7 muka Welcomes 7 advance
  2. Sambut Gulung Welcomes Roll
  3. Sambut Detik/Habis Welcomes Seconds / Out

Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang , yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung. The movement of the joint moments referred to as Bongbang 1-12, which is usually used for the attractions on the platforms.

Betawi, Nopember 2008 Betawi, November 2008

Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja Based on the original article about the history of Silat Cingkrik Cacang Rawa Belong, with resource elders Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong including: Bang Bang Nunung and Warno (Suwarno Job) _____Diedit and rewritten by Gusman "Jali" Natawidjaja




Tags: Tags:


Artikel Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Cingkrik article, Maenpukulan Typical Rawa Belong Betawi that 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-26 08:20] - Powered by BING [2012-04-26 08:20]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong. Cingkrik, Maenpukulan Typical Betawi Rawa Belong.

[ in English ] [ in English ]

Dec 3rd, 2008 | By | Category: Aliran Silat Visited 3140 times, 5 today [ in English ] Dec 3rd, 2008 | By | Category: Flow Silat Visited 3140 times, 5 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Talking about maenpukulan (silat) Cingkrik not be separated from the village of Rawa Belong, vice versa. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Both are identical can not be separated from one another, because it can not be denied, that in Rawa Belong maenpukulan Cingkrik was born and developed. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Such rapid development of an elder services maenpukulan Cingkrik predecessors in Rawa Belong and its surroundings.

Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik phenomenon as the original Batavia maenpukulan Rawa Belong, carrying the name of a legendary figure Pitung Betawi Si, which is known as the Champions Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Cingkrik regarded as one of the Si silatnya Pitung, and this is one of the many things that need to be clarified about Cingkrik. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Rawa Belong elders maenpukulan Cingkrik is doubtful that "maenan" The Pitung his, though he was born and raised there. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Bang Nunung as one of the elders maenpukulan Rawa Belong argued, that the Si Pitung far predates the birth of maenpukulan Cingkrik in Rawa Belong created a new thought in the early twentieth century by Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini. It can be traced from the lowest generation schemes in genealogy Cingkrik Rawa Belong, which people still exist and still exist today Cingkrik teaching.

Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik History and Development Maenpukulan Cingkrik

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. In the past many people who gain knowledge Rawa Belong to Kulon (uncertain place, because Meruya and Tangerangpun been regarded by the people Kulon Rawa Belong at the time) to learn the science of religion and martial arts, both inner and maenpukulan science.

Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. One of the many people who learn to Rawa Belong Kulon is Maing Ki, but not finished learning, Ki Maing decided to return home to Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. To arrive at one time, Maing Ki-going, his staff was taken by a neighbor's monkey named Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Ki Maing spontaneously retract wand, stick to the struggle there between Ki Maing and apes belong to Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat. The monkey just will not budge, with swift and lively tried to pull back the stick Ki Maing accompanied by several movements of attack and defense that resembles martial arts moves.

Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Ki Maing very impressed with the movements of monkeys, until almost every day the monkey went to Ki Maing for later study and analyze it. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Each of the defense motion was accompanied by a lively monkey attack, the vice versa is a defense to any attack. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. With a combination of feet and hands are so nimble and agile. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik. From observations of the natural movement of the monkey, and diligence practiced by Ki Maing developed into a movement or a martial arts stance, which was later known as Cingkrik.

Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. After mastering maenpukulan Cingkrik feel inspired from an ape's movements earlier Saereh Nyi, Ki Maing decided to return to padepokannya in Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. To examine the extent to which the success of his new moves, Ki Maing "try out" one by one friend seperguruannya it, the results of which none seperguruannya friend beat him. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. In the end teachers participated Ki Maing any new tricks to try out his pupil's greatness, but the reality experienced by friends seperguruan Ki Maing, also experienced by the teacher. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu. Stirred throughout the hermitage, and recognize the greatness gurupun Maing Ki's new stance.

Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Returning to Rawa Belong, Ki Maing redistribute to transmit his new stance to champion-champion Rawa Belong is in this phase, becoming known name maenpukulan Cingkrik, because prev