Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo. Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo.
[ in English ] [ in English ]Dec 25th, 2008 | By admin | Category: Figure Pesilat Visited 3290 times, 4 today [ in English ] Dec 25th, 2008 | By admin | Category: Figure fighters Visited 3290 times, 4 today [ in English ]
SEORANG mahasiswa tiba-tiba saja terkejut ketika melihat sebuah buku bergambar orang dalam sikap beladiri di salah satu rak buku Toko Gunung Agung, tepat di sisi pojok utara perempatan Tugu, di simpang empat Jalan Jendral Sudirman-Jalan Diponegoro – Jl AM Sangaji – dan Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. A student suddenly surprised to see a picture book of people in the martial attitude in one of the Toko Gunung Agung bookshelf, right on the north corner of the intersection monument, at the intersection of four General Sudirman-Jalan Jalan Diponegoro - Jl AM Sangaji - and Princes Street Mangkubumi, Yogyakarta. Toko buku itu, pada tahun 1977 merupakan satu-satunya yang terbesar dan terlengkap di Kota Pelajar tersebut. It bookstore, in 1977 was the only one of the largest and most comprehensive in the Student City. Kini (tahun 2008) toko buku tersebut sudah tidak ada lagi. Now (in 2008) the bookstore no longer exists.
Rasa ingin tahunya mendorong ia membuka halaman demi halaman buku itu. Encourage curiosity he opened the pages of the book. Di sana , di buku yang dipegangnya, terlihat dengan jelas aneka foto segala gerak beladiri dalam keterangan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. There, in a book in his hand, clearly visible with a variety of martial arts in motion picture of all the information easy to understand Indonesian language. Foto-fotonya pun terpampang lugas sehingga dengan sekali melihat, si pembaca akan tahu apa yang dimaksud dan dimaui dengan gerak tersebut. His photographs were plastered with a single straightforward to see, the reader will know what they mean and dimaui with the motion.
Itulah gerakan-gerakan beladiri silat. That's the martial arts movements. Buku itu seolah mengungkap tuntas sebuah jurus ilmu silat yang oleh banyak perguruan saat itu dianggap amat sangat rahasia dan tabu untuk diperlihatkan orang lain selain murid-muridnya. The book is thoroughly revealed as a martial arts stance by many colleges that time was considered extremely confidential and disclosed taboo for anyone other than his students.
Tetapi, di toko itu, pada tahun 1977; bukan hanya satu jurus yang dideretkan di rak tersebut. But, at the store, in 1977, not just one step that dideretkan on the shelf. Ada beberapa buku lain yang berjudul seperti Burung Kuntul, Burung Garuda, dan Harimau. There are several other books such as Bird called Heron, Eagle, and the Tigers. Siapa gerangan pendekar yang berani melanggar tradisi tabu perguruan silat itu? Who on earth would dare violate the warrior tradition of arts education is taboo?
Dialah Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo – yang kemudian dikenal dengan sapaan Pak Dirdjo atau Pak Dhe — salah seorang keturunan bangsawan dari Keraton Pakualaman Yogyakarta, putra dari Raden Mas Paku Soerdirdjo. He was Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo - which became known as the greeting Pak Pak Dirdjo or DHE - one of the royal line of Pakualaman Yogyakarta palace, the son of Raden Mas Soerdirdjo Paku.
Pak Dirdjo-lah pendekar yang menobrak tradisi tabu itu. Dirdjo Pak was the warrior who menobrak taboo tradition. Beliau sengaja menuliskan ilmu silat yang diramunya itu dan kemudian dinamakan aliran silat Perisai Diri. He deliberately wrote the diramunya martial arts and then called silat Shield Yourself flow. Di dalam buku itu, lengkap dengan foto-foto tentang gerakan teknik silat dan dijual kepada umum pada tahun 1976. In the book, complete with photographs of the movement arts techniques and sold to the public in 1976. Tujuannya hanya satu: berusaha memperkenalkan beladiri silat seluas-luasnya. Only one goal: trying to introduce martial arts as possible.
Beliau melakukan itu untuk membuktikan bahwa ilmu silat adalah warisan budaya Bangsa Indonesia yang mampu bersaing dengan ilmu beladiri asing lainnya yang berasal dari Jepang, Korea, maupun Cina yang kala itu berkembang pesat di Indonesia. He did it to prove that martial arts is the cultural heritage of the Indonesian nation that can compete with other foreign martial arts that originated in Japan, Korea, and China which was then growing rapidly in Indonesia. Silat harus dikembangkan dan dicintai oleh Bangsa Indonesia . Arts should be developed and be loved by the nation of Indonesia. Jangan sampai silat tidak berkembang karena terkungkung tradisi tabu dan ketradisionalannya. Do not let the arts are not growing because of the taboo and confined ketradisionalannya tradition.
Upaya Pak Dirdjo itu membuahkan hasil. Pak Dirdjo efforts come to fruition. Silat Perisai Diri akhirnya bukan hanya berkembang di kampung-kampung, namun telah merambah ke kampus-kampus perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah. Shielding Yourself Silat eventually evolved not only in the villages, but has expanded to college campuses, and schools. Silat Perisai Diri telah mampu mengubah pandangan masyarakat dari silat yang dianggap “kampungan” menjadi silat “kampusan”. Shielding Yourself Silat has been able to change society's view of the arts that are considered "tacky" to the martial arts "kampusan".
Perisai Diri tercatat sebagai perguruan silat yang menggelar kejuaraan antar perguruan tinggi di Indonesia sejak tahun 1975. Self recorded as a shield to hold an arts college intercollegiate championship in Indonesia since 1975. Setelah itu secara rutin Perisai Diri menggelar kejuaraan nasional antar-perguruan tinggi. After that regularly hold national championships Self Shield inter-college. Dan hingga tahun 2004 lalu, Perisai Diri telah melaksanakan kejuaraan nasional silat Perisai Diri untuk yang ke-23 kalinya! And until the year 2004, Self Shielding has implemented a national championship for the arts Shield Yourself to-23 time!
Merantau Wander about
Tampaknya Pak Dirdjo yang pada masa kecilnya dipanggil Soebandiman atau Bandiman oleh rekan-rekannya, tidak puas dengan ilmu silat yang ditelah didapatkannya di lingkungan tembok istana Paku Alaman itu. It seems that Mr. Dirdjo childhood or Bandiman Soebandiman called by his peers, not satisfied with the obtainment of the martial arts in an environment that ditelah Paku Alaman the palace walls. Setelah menamatkan HIK (Hollands Inlandsche Kweekchool — sekolah setingkat Sekolah Menengah Pertama jurusan guru pada masa itu) di Yogyakarta, Pak Dirdjo yang berusia 16 tahun mulai merantau untuk memperluas pengalaman hidupnya. After graduating from HIK (Hollands Inlandsche Kweekchool - schools at the secondary school teachers majoring in those days) in Yogyakarta, Pak Dirdjo 16-year-old began to go abroad to broaden his life experience.
Pak Dirdjo melangkahkan kakinya ke arah Timur. Pak Dirdjo stepped toward the East. Ia menuju Jombang di Jawa Timur. He headed Jombang in East Java. Di sana ia berguru kepada Bapak Hasan Basri dalam ilmu silat, dan belajar ilmu keagamaan dan ilmu lainnya di Pondok Tebu Ireng. There he was apprenticed to Mr. Hasan Basri in martial arts, and studied religious sciences and other sciences at the Pondok Tebu Ireng. Untuk membiayai keperluan hidupnya, ia bekerja di Pabrik Gula Peterongan. To finance the purposes of his life, he worked at the Sugar Factory Peterongan.
Setelah merasa cukup berguru di Jombang , ia melangkahkan kakinya menuju ke Barat ke kota Solo di Jawa Tengah. After feeling just sit in Jombang, he stepped toward the West to the city of Solo in Central Java. Di kota ini ia berguru kepada Bapak Sayid Sahab dalam bidang ilmu silat. In this city he was apprenticed to Mr. Syed Sahab in the field of martial arts. Di samping itu ia juga melengkapi ilmunya dengan berguru kepada kakeknya sendiri Ki Jogosurasmo. In addition, he also studied to complement his knowledge with his own grandfather Ki Jogosurasmo.
Pemuda Soebandiman ini belum puas mereguk ilmu. Youth is not satisfied drank Soebandiman science. Ia kembali berguru ke Bapak Soegito yang beraliran silat Setia Saudara (SS). He returned to Mr. Soegito who studied martial arts wing Faithful Brother (SS). Rasa keingintahuan yang besar pada ilmu beladiri menjadikan pemuda ini masih belum merasa puas dengan apa yang telah ia miliki. Curiosity in the martial arts makes this young man is still not satisfied with what he had. Soebandiman alias Pak Dirjo muda ini meneruskan berguru ke Pondok Randu Gunting di Semarang, ia masih melengkapi ilmu silatnya ke Kuningan di daerah Cirebon , Jawa Barat. Soebandiman alias Pak young Dirjo continue to learn to Pondok Randu Scissors in Semarang, he was a complete science silatnya to Brass in Cirebon, West Java. Semua ilmu yang didapatnya itu diolah dan melebur dalam dirinya. All the science that gets it processed and merged in him.
Setelah merasa cukup, pemuda yang telah dewasa ini menetap di Banyumas dan mendirikan perguruan silat Eka Kalbu (Eka yang berarti satu hati). Having had enough, today's youth who have settled in Banyumas and arts college founded Eka Heart (Eka which means one heart). Dalam pergaulannya di kalangan ahli beladiri di Banyumas, pemuda ini bertemu dengan seorang suhu bangsa Tionghoa, Yap Kie San, yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie. The interaction among the martial arts expert in Banyumas, this young man met with a temperature of the Chinese nation, Yap Kie San, an homage to martial Siauw Liem Sie.
Sekali lagi, pemuda yang haus ilmu itu berteman dan berguru kepada Yap Kie San. Once again, the young man's thirst for knowledge make friends and learn to Yap Kie San. Selama 14 tahun pemuda ini berguru kepada Yap Kie San. For 14 years this young man apprenticed to Yap Kie San. Ada enam saudara perguruannya yang bertahan lama diasuh oleh Suhu Yap Kie San. There were six brothers perguruannya enduring temperatures raised by Yap Kie San. Empat adalah bangsa Tionghoa, dan dua lainnya dari Jawa yaitu Pak Broto Sutarjo, dan Pak Dirdjo. Four is the Chinese nation, and the other two from Java, Broto Sutarjo Pak and Pak Dirdjo.
Dalam masa perguruannya itu, Suhu Yap Kie San menilai Pak Dirdjo sebagai pemuda yang berbakat. In the perguruannya, the temperature of Yap Kie San assess Pak Dirdjo as a talented young man. Suhu Yap Kie San menghadiahi Pak Dirdjo sepasang pedang sebagai symbol kecintaan guru kepada murid terkasihnya. Temperature Yap Kie San reward Pak Dirdjo pair of swords as a symbol of love beloved teacher to students.
Bak kata pepatah, sejauh-jauhnya burung terbang nanti akan kembali ke sarangnya juga; demikian pula Pak Dirdjo. Bak saying goes, as far as flying birds will return to the nest also; so did Mr. Dirdjo. Beliau akhirnya kembali ke Yogyakarta . He eventually returned to Yogyakarta. Di Kota Budaya ini Pak Dirdjo diminta mengajar ilmu silat di Taman Siswa, sebuah sekolah yang didirikan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantoro yang juga pamannya. In the City of Culture is asked to teach Pak Dirdjo martial arts students in the Garden, a school founded by national education leaders Dewantoro Ki Hajar also his uncle.
Pak Dirdjo tidak begitu lama mengajar silat di Taman Siswa, sebab ia harus bekerja di Pabrik Gula Plered di kawasan Yogyakarta juga. Mr. Dirdjo not so long ago to teach martial arts in the Garden of Students, for he had to work in sugar mills in the region Plered Yogyakarta. Di pabrik gula ini ia menduduki jabatan Magazie Meester. In this sugar factory he Magazie Meester positions.
Lalu pada tahun 1947-1948, berkat pertolongan dari Bapak Djumali yang bekerja di Departemen Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi pegawai negeri di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Seksi Pencak Silat. Then in 1947-1948, thanks to help from Mr. Djumali who worked at the Department of Education Special Region of Yogyakarta, Mr. Dirdjo appointed civil servant in the Ministry of Education and Culture in the Section of Pencak Silat. Dengan misi mengembangkan silat itu, Pak Dirdjo kemudian mengajar Himpunan Siswa Budaya (sebuah unit kegiatan mahasiswa Universitas Gadjah Mada). With a mission to develop the arts, Mr. Dirdjo then teach Students Cultural Association (a unit of Gadjah Mada University student activities). Jelas saja para muridnya adalah para mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada awal-awal berdirinya kampus tersebut. Obviously the students are the students of Gadjah Mada University in the early establishment of the campus. Pak Dirdjo juga membuka kursus silat di kantornya. Pak Dirdjo arts courses are also open in his office.
Beberapa murid Pak Dirdjo kala itu seperti Mas Dalmono (Ir Dalmono – kabar terakhir ia belajar dan kemudian bekerja di Rusia), Mas Suyono Hadi (Prof DR Suyono Hadi – telah meninggal dunia dan bekerja sebagai dokter dan dosen Universitas Padjadjaran Bandung), serta Mas Bambang Moediono alias Mas Whook. Some of the students at that time as Mr. Mas Dirdjo Dalmono (Ir Dalmono - last news he studied and later worked in Russia), Mas Suyono Hadi (Hadi Suyono Prof DR - had died and worked as a physician and professor of the University of Padjadjaran Bandung), and Mas Bambang Mas aka Moediono Whook.
Ketika tahun 1953 Pak Dirdjo mulai pindah ke Surabaya berkaitan dengan tugasnya sebagai pegawai negeri di Kantor Kebudayaan Jawa Timur Urusan Pencak Silat, maka murid-muridnya di Yogyakarta yang berlatih di UGM maupun di luar UGM bergabung menjadi satu dalam wadah bernama Himpunan Penggemar Pencak Silat Indonesia (HPPSI) dengan diketuai oleh Mas Dalmono. When Mr. Dirdjo began in 1953 moved to Surabaya related to their duties as public servants in the Office of Cultural Affairs Pencak Silat East Java, the students in Yogyakarta who practice in or outside the GMU GMU joined together in a container named Enthusiasts Association of Pencak Silat Indonesia ( HPPSI) and chaired by Mas Dalmono.
Sementara itu di Surabaya, Pak Dirdjo kembali mengembangkan ilmu silat dalam kursus-kursus silat di lembaganya. Meanwhile in Surabaya, Mr. Dirdjo re-develop the martial arts in the arts courses at the institution. Baru pada tanggal 2 Juli 1955, Pak Dirdjo dibantu Pak Imam Ramelan secara resmi menamakan silat yang diajarkan dengan nama Perisai Diri . It was not until July 2, 1955, Mr. Pak Imam Ramelan Dirdjo assisted officially named the martial arts taught by the name of Shield Self . Para muridnya di Yogyakarta pun kemudian menyesuaikan diri menamakan himpunan mereka sebagai Silat Perisai Diri. The students in Yogyakarta was then adapt them as a named set of Shield Self Silat.
Di sisi lain, perguruan Eka Kalbu yang pernah didirikan oleh Pak Dirdjo secara alami murid-muridnya masih berhubungan dengan Pak Dirdjo. On the other hand, Eka Heart college ever established by Mr. Dirdjo naturally the students are still in touch with Mr. Dirdjo. Mereka tersebar di kawasan Banyumas, Purworejo, dan Yogyakarta . They are scattered in the Banyumas, Purworejo, and Yogyakarta. Hanya saja perguruan ini kemudian memang tidak berkembang, namun melebur dengan sendirinya ke Perisai Diri, sama seperti HPPSI di Yogyakarta. Only then does this college did not develop, but fused itself into Self Shield, as HPPSI in Yogyakarta. Satu guru menjadikan peleburan perguruan ini menjadi mudah. One teacher made the fusion of these colleges to be easy.
Para murid Pak Dirdjo sebelum nama Perisai Diri muncul hingga kini (tahun 2008) masih hidup. The disciples Pak Dirdjo before the name Shield Yourself appeared up to now (in 2008) is still alive. Usia mereka berkisar antara 65 tahun hingga 70 tahun lebih dan masih bias dijumpai di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Their ages ranged from 65 years to 70 years and is still bias found in Yogyakarta and surrounding areas.
Berbahasa Indonesia Bahasa Indonesia
Segala teknik silat Perisai Diri ditulis dalan bahasa Indonesia yang baku . All martial arts techniques Shield Yourself role in Indonesian language written standard. Hal itulah yang menjadikan Perisai Diri lebih mudah diterima oleh kalangan terdidik seperti mahasiswa. That's what makes Shield Self more readily accepted by educated persons such as students. Penulisan teknik dalam bahasa Indonesia baku sebenarnya harus diakui sebagai langkah maju tersendiri dibandingkan perguruan lain yang masih berkutat dengan bahasa daerah asal perguruan itu berkembang. Technical writing in the Indonesian language standard is actually a step forward to be recognized as a distinct than the other colleges are still struggling with the language of the origin of the growing college.
Bahkan dengan nasionalismenya itu, Perisai Diri akhirnya bisa diterima di semua kalangan beragam suku, agama, maupun strata sosial. Even with that nationalism, Self Shielding eventually be accepted in all the diverse ethnic, religious, or social strata. Dapat dipelajari oleh seluruh penduduk Indonesia yang tinggal di 17.000 pulau. Can be learned by all of Indonesia's population living in the 17,000 islands.
Motto Perisai Diri “Pandai Bersilat Tanpa Cedera” yang juga bermakna pandai beladiri tanpa cedera, makin membuat beladiri ciptaan Pak Dirdjo bisa dipahami dengan logika. Shielding Yourself motto "Clever strive Without Injury" which also means good at martial arts without injuries, more and make martial Pak creation can be understood by logic Dirdjo. Pecinta beladiri akan mengerti bahwa seorang ahli beladiri memang sulit untuk dicederai lawan. Martial arts lovers will understand that a martial art expert is difficult for injured opponents. Bisa juga berarti dalam berlatih pun ia tidak akan cedera karena kesalahan sendiri. It could also mean in practice he will not be any fault of his own injury.
Unsur kecepatan dalam beladiri menjadi pegangan Pak Dirdjo. The element of speed in self-defense to handle Pak Dirdjo. Ia mewajibkan para muridnya mampu melakukan gerakan silat minimal dua gerak dalam satu detik. He requires his students could perform at least two motion martial arts movements in a second. Gerakan itu bisa berupa serangan, hindaran, tolakan, tebangan, ataupun paduan unsur-unsur itu. The movement could be an attack, hindaran, repulsion, harvest, or alloys of these elements. Jadilah Perisai Diri menciptakan gaya silat SATU DETIK DUA GERAK. Be Shield Yourself creating silat styles TWO ONE SECOND MOTION.
Istilah satu detik dua gerak itu semula dianggap sepele oleh banyak pendekar maupun pecinta silat. The term of the second two movements were originally considered trivial by many warriors and lovers of arts. Akan tetapi semakin mereka banyak menyaksikan pertandingan silat yang mulai digelar sejak 1970-an, para pendekar silat maupun pecandu beladiri lain semakin memahami misteri kata “satu detik dua gerak” tersebut. But the more they watch a lot of martial arts matches were held since the 1970s, the warriors martial arts as well as other addicts have come to understand the mystery of the word "one second of two motion" is. Hanya seorang ahli beladiri nan piawai saja yang mampu bergerak secepat itu. Only an expert martial arts expert nan are able to move fast.
Sementara diakui atau tidak, nama-nama teknik silat Perisai Diri kini sudah diadopsi di kancah persilatan. While it is acknowledged or not, the names of Shield Self silat techniques now adopted in the martial arena. Istilah tendangan Sabit, kemudian tendangan T (baca TE), bahkan sapuan; misalnya, sudah menjadi bukti bahwa keinginan Pak Dirdjo terwujud. The term Crescent kick, then kicks T (see TE), even strokes, for example, is a proof that the desire of Mr. Dirdjo materialized. Istilah itu dipakai di dunia persilatan. The term is used in the martial world. Bila kemudian ada beberapa perguruan baru muncul dengan menggunakan teknik Perisai Diri, itupun tidak pernah dipermasalahkan. If then there are several new colleges appeared to use a Self Shielding techniques, and even then was never questioned. Mungkin, para murid Pak Dirdjo pun – tanpa setahu mereka –, kini memiliki lebih banyak saudara perguruan karena menyerap ilmu yang sama dengan nama perguruan yang berbeda. Perhaps, Mr. Dirdjo any students - without telling them - now have more siblings science education as it absorbs the same name by different universities.
Ada 19 macam teknik tangan kosong yang disebut teknik asli di Perisai Diri seperti Jawa Timuran, Minangkabau, Betawen, Cimande, Burung Mliwis, Burung Kuntul, Burung Garuda, Kuda Kuningan, Lingsang, Harimau, Naga, Satria Hutan, Satria, Pendeta, Putri Bersedia, Putri Sembahyang, Putri Berhias, dan Putri Teratai. There are 19 kinds of empty hand technique called Self-Shielding techniques such as native in Java Timuran, Minangkabau, Betawen, Cimande, Mliwis Birds, Birds Heron, Eagle, Horse Brass, Lingsang, Tiger, Dragon, Forest Satria Satria, Priest, Princess Available , Prayer Princess, Princess Fancy, and Princess Lotus.
Bukan melulu teknik tangan kosong, para murid pun diajari berbagai senjata mulai dari pisau, pedang, toya, senjata lempar, sampai dengan pengembangan dari senjata-senjata itu seperti rantai, cambuk, tombak, dan lain-lainnya. Not just empty hand techniques, students were taught a variety of weapons ranging from knives, swords, Toya, throwing weapons, until the development of weapons such as chains, whips, spears, and others.
Pak Dirdjo selalu berpesan kepada murid-muridnya agar menguasai ilmu silat haruslah dengan cara mendaki dan memanjat, bukan dengan melompat. Mr. Dirdjo always advised his students to master the martial arts should be a way to climb and climb, not to jump. Untuk memahami ilmu silat memang memerlukan kerajinan, ketekunan, kesungguhan, dan disiplin. To understand the martial arts does require diligence, perseverance, determination, and discipline.
Pak Dirdjo wafat usia 70 tahun, ditunggui para muridnya di Surabaya pada 9 Mei 1983. Mr. Dirdjo died aged 70, was attended by students in Surabaya on May 9, 1983. Pada tahun 1986, beliau mendapat gelar Pendekar Purna Utama dari Pemerintah Republik Indonesia . In 1986, he received his Swordsman Full-Chief of the Government of the Republic of Indonesia.
Niat Pak Dirdjo untuk mengembangkan silat akhirnya tercapai juga. Pak Dirdjo intention to develop the arts finally achieved as well. Meskipun ia belum bisa menikmati kejayaan murid-muridnya di arena beladiri silat, namun secara pasti teknik Perisai Diri ciptaannya telah merajai di beberapa pertandingan silat secara internasional. Although he has not been able to enjoy the glory of his students in the martial arts arena, but the exact techniques Self Shielding his creations have been ruled on several international martial arts matches.
Nama-nama seperti Joko Widodo, Herina (asal Yogyakarta), Tony Widya (Jakarta), Tri Wahyuni (Malang), Wadiah (Mataram), Suryanto, Samiaji (Bandung), A Triya (Surabaya), mampu malang melintang di kejuaraan internasional pencak silat sejak kejuaraan internasional itu digelar tahun 1987 hingga 1995. Names such as Joko Widodo, Herina (from Yogyakarta), Tony Widya (Jakarta), Tri Wahyuni (Malang), Wadiah (Mataram), Suryanto, Samiaji (London), A Triya (Surabaya), capable of poor across the international championship of martial the international martial arts championships held since 1987 to 1995.
Keharuman nama Perisai Diri masih dilanggengkan oleh pesilat Made Arya Damayanti, Ayu Ariati, Ni Nyoman Suparniti, dan I Nyoman Yamadhiputra ( Bali ) pada periode 1995 – 2005. The fragrance name is still perpetuated by Self Shielding fighter Made Arya Damayanti, Ayu Ariati, Ni Nyoman Suparniti, and I Nyoman Yamadhiputra (Bali) in the period 1995 to 2005. Arena nasional hingga dunia mereka jelajahi dengan teknik Perisai Diri dengan memperoleh medali emas. National arena to explore their world with a Self Shielding techniques to earn gold medals.
Pendekar pendobrak tradisi tabu itu pula yang akhirnya mampu meyakinkan orang-orang Eropa seperti Belanda (1970), Jerman (1983), Inggris, Swiss (1999), Hongaria, Australia (1979), Amerika Serikat (2000), Thailand (1995), Filipina (1995), bahkan Jepang (1996) untuk mempelajari Silat Perisai Diri. Taboo-breaker warrior tradition that is what finally able to convince the people of Europe such as Holland (1970), Germany (1983), England, Switzerland (1999), Hungary, Australia (1979), United States (2000), Thailand (1995), Philippines (1995), and even Japan (1996) to learn Silat Personal Shield. Silat mudah diterima, bisa dilogika. Silat readily accepted, could dilogika. Silat sudah mendunia. Silat was worldwide.
Lagi-lagi, di luar Indonesia, murid-murid Pak Dirdjo di Eropa, Amerika, dan Australia mampu menunjukkan bahwa beladiri khas Indonesia itu mampu mengibarkan benderanya di pertarungan antar-aliran beladiri di sana. Again, outside of Indonesia, Mr. Dirdjo students in Europe, America, and Australia were able to show that Indonesia is capable of a typical martial flying its flag on the battle between the flow of martial arts there.
Tidak mengherankan jika penulis aliran beladiri seperti Donn F Draeger menulis silat Perisai Diri dalam bukunya The Weapons and Fighting Arts of Indonesia pada tahun 1972. Not surprisingly, the author of the flow of such martial arts Donn F. Draeger wrote in his book The Self Shielding Weapons and Fighting Arts of Indonesia in 1972. Akan tetapi ia belum puas. But he was not satisfied. Jika dalam buku pertamanya ia menulis beberapa gaya perguruan pencak silat di Indonesia; maka ia kembali mengupas lebih dalam untuk silat Perisai Diri pada buku keduanya yang berjudul: Javanese Silat: The Fighting Art of Perisai Diri pada tahun 1978. If the first book he wrote several styles of martial arts university in Indonesia; then peel it back over to the martial arts in a Self Shielding on his second book entitled: Javanese Silat: The Fighting Art of Self-Shielding in 1978.
Penjelasan secara detil disertai bukti praktik dalam bersilat yang ditunjukkan Pak Dirdjo yang membuat Draeger bertekuk-lutut mengakui bahwa Perisai Diri memang layak mendapat tempat khusus. A detailed description along with the practice of evidence indicated strive to create Pak Dirdjo Draeger-bow the knee to admit that the Shield Yourself deserved a special place. Foto-foto Pak Dirdjo dalam bersilat ditemani para muridnya di Surabaya memenuhi halaman buku keduanya tersebut. Pak photographs strive Dirdjo in the company of his students in Surabaya to meet both of these pages.
Tidak berlebihan jika saat ia dipanggil Tuhan Yang Maha Esa, jumlah muridnya yang tersebar di Indonesia dan beberapa negara telah mencapai 50.000 lebih sehingga menempatkan Perisai Diri sebagai salah satu perguruan besar di antara 800 perguruan silat di Indonesia. No exaggeration when he was called of God Almighty, the number of students spread across Indonesia and some countries have reached 50,000 more, which puts Shield Self as one of the major colleges of arts education in Indonesia 800. (***) (***)






