Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. Footsteps the winner.

[ in English ] [ in Bahasa ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5304 times, 3 today [ in English ] March 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5304 times, 3 today [ in Bahasa ]

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Footsteps the winner





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Bantam in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since the time of the Sunda kingdom stand which has remained eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Metro Manila alone since the 19th century champion of the group has been part of elite society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Bantam and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Communities obey the clergy because the clergy regard as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of clergy, civil service and champions merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. is a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among all three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered a champion of "khodam" her clerics. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champion is coming from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of scholars and champions".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, public perception of Champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the three times the course of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Later, the champion's life with a distinctive character building it creates a new sub-culture culture Bantam and surrounding communities, namely subculture of Violence (sub-culture of violence). This problem came to light due to contamination of the values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or typical speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). such as dressing in black and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Bantam, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation Historical Terms Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia about the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know exactly when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence to solve every problem. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. So is the case with the term itself champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. From stamboom available, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appeared, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to several surrounding areas including the Batavia-Pantura Jakarta, Bogor and Preanger simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy Sinuhun Sultanate of Banten, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical record of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of Banten society itself has four interpretations about the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a segment of society as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as risking whiz in the chicken, smooth-playing martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as supernatural forces. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing skills and immune silat had become the main feature of this group that gave birth to the title winners.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, when in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of an extremely strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has the advantage of outwardly and inwardly, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, which moves not in the name of the sultanate of Banten. The nature of militants held by the special forces is growing nature of the intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them he went on to the winners.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Bantam (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District Pandeglang Menes, meaning literally as "baby who nearly mature". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Society of this village was originally established to improve the relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the task handed to the group this young man as kampong event organizer into a single obligation, if not invited or submitted as an officer of the organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into an organization thugs known as the champions. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch colonial government in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who are educated by their talents and abilities, where the first group are the students who have talent in the field of religious knowledge that will replace the position of the scholars later. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and also equipped with a science lesson, but far fewer students than the portion of the first group. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They are tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and legs tangannya. his hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Interpretation of the fifth, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of the Post Road Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Development path that is very detrimental to the people has led the revolt among the warriors persilatan, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. From the events of this rebellion led to the nickname champions, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. At first the term has meaning as a hero champion, with a good sense in risking the chicken and the silat martial. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to show an immune science. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara These capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Ability that they have because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif The shift of meaning that is contaminated with winners of the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding area was characterized by chaos and robbery unparalleled. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the fighters from among the warriors persilatan and the clergy. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. This negative stigma deliberately created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and burglars. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). Thus labeling all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which aims against foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the warriors and clerics who hold persilatan regarded as a champion of resistance, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (people who dared to rob) or people who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to develop until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Along with the development time, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (the hero brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" it's own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional to complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, particularly against the champion of negative behavior.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Overall champion has a definition as one who has skill to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are capable of keeping the figure of a safety and security of the village, so therefore the public respect their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls be obtained from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. On the ground Betawi itself almost has the same meaning, but the term champion for people native Betawi depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). In contrast to the Stud, the word is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, champion is a rather general term for the privileged "bouncer" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Superhero more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for a member of an influential and respected people in his village, a strong man, a bouncer and brave. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered inferior position compared to winners. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because, as as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, knight the people featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, are also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is a loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In Indonesian Dictionary we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non-governmental, not soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to blackmail and commit crimes) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. porters who worked on the fields. In general terms can be summed up as thugs connotative term (the word humble clothing) are often used to refer to the activities of a group of people who get their income mainly from the extortion of other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we should not rush to justify a person based on his behavior.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Bantam, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, The Brief History and Genealogy Sinuhun Sultanate of Banten, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Articles footsteps the winner of the 'probably' related on another site:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia Footsteps the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. Footsteps the winner (Entities "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia Legend The Champions Jampang Betawi - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia. Footsteps the winner - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia. Legend The Champions Jampang Betawi - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia ... Legend The Champions Jampang Betawi - Silat Indonesia ...
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. ... ... sedikit terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki rute yang telah kami ... a little late for us to pack and then go up the route that we have ... sang kordinator sekaligus ... the coordinator as well ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    Setelah merapikan semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... After smoothing all the preparations and asks "exit permit" to the ... namanya Shop Silat ... Shop name Silat ... untuk mencari Jawara tapi yang lebih penting adalah ... to find the Champion but more important is ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/

    Spirituality « Jakarta 45 Spirituality «Jakarta 45

    Jejak bukan sekedar perjalanan menapaki jejak ... The trail is not just a trip up the trail ... Tapi orang tua pensiunan polisi berpangkat Kopral itu tetap merayu sang ... But the old retired police rank of corporal remains to seduce her ... Tokoh jawara yang paling ... Champion figure most ...
    Sumber: http://jakarta45.wordpress.com/tag/spirituality/page/4/ Sources: http://jakarta45.wordpress.com/tag/spirituality/page/4/


- Powered by BING [2012-02-01 04:39] - Powered by BING [2012-02-01 04:39]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5346 times, 4 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5346 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the youth of this community as the organizers of the village into an obligation, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia The legend Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia. TRACES climbed the winner - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia. The legend Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia. MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia. TRACES climbed the winner - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara ... The legend Jampang Champions ...
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/

    Spirituality « Jakarta 45 Spirituality «Jakarta 45

    Jejak bukan sekedar perjalanan menapaki jejak perjuangan ... Footprint is not just a trip up the trail of struggle ... polisi berpangkat Kopral itu tetap merayu sang Kyai. ranking police corporal was still wooing the Kyai. ... ... melatih para santri dengan keterampilan pencak silat. train the students with the skills of martial arts.
    Sumber: http://jakarta45.wordpress.com/tag/spirituality/page/4/ Sources: http://jakarta45.wordpress.com/tag/spirituality/page/4/


- Powered by BING [2012-02-09 00:57] - Powered by BING [2012-02-09 00:57]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5419 times, 4 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5419 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia The legend Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia. TRACES climbed the winner - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia. The legend Jampang Jawara Betawi - Silat Indonesia. MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia. TRACES climbed the winner - Silat Indonesia. Legenda Si Jampang Jawara ... The legend Jampang Champions ...
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/

    sang pemimpi - Docstoc – Documents, Templates, Forms, Ebooks ... dreamer - Docstoc - Documents, Templates, Forms, Ebooks ...

    ... ... A. A. itu ia adalah suhu tertinggi perguruan silat ... that he is the highest temperature arts college ... Dan saat itulah Pak Mustar, sang jawara yang temperamental ... And that's when Mr. Mustard, the winner is temperamental ... pasukan elite Mujahiddin.Oruzgan telah menapaki jejak ... Mujahiddin.Oruzgan elite troops have been treading footsteps ...
    Sumber: http://www.docstoc.com/docs/70690098/sang-pemimpi Sources: http://www.docstoc.com/docs/70690098/sang-pemimpi


- Powered by BING [2012-02-13 04:33] - Powered by BING [2012-02-13 04:33]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5549 times, 7 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5549 times, 7 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/

    Andrea Hirata Sang Pemimpi01 03 - Upload & Share PowerPoint ... The Pemimpi01 03 Andrea Hirata - Upload and Share PowerPoint ...

    ... ... A. A. itu ia adalah suhu tertinggi perguruan silat ... that he is the highest temperature arts college ... Dan saat itulah Pak Mustar, sang jawara yang tem ... And that's when Mr. Mustard, the winner of tem ... Oruzgan telah menapaki jejak kepahlawanan keluarganya sejak ... Oruzgan has climbed the trail heroic family since ...
    Sumber: http://www.slideshare.net/antixbon/andrea-hirata-sang-pemimpi01-03 Sources: http://www.slideshare.net/antixbon/andrea-hirata-sang-pemimpi01-03


- Powered by BING [2012-02-21 00:10] - Powered by BING [2012-02-21 00:10]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5663 times, 1 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5663 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/

    Andrea Hirata Sang Pemimpi01 03 - Upload & Share PowerPoint ... The Pemimpi01 03 Andrea Hirata - Upload and Share PowerPoint ...

    ... ... A. A. itu ia adalah suhu tertinggi perguruan silat ... that he is the highest temperature arts college ... Dan saat itulah Pak Mustar, sang jawara yang tem ... And that's when Mr. Mustard, the winner of tem ... Oruzgan telah menapaki jejak kepahlawanan keluarganya sejak ... Oruzgan has climbed the trail heroic family since ...
    Sumber: http://www.slideshare.net/antixbon/andrea-hirata-sang-pemimpi01-03 Sources: http://www.slideshare.net/antixbon/andrea-hirata-sang-pemimpi01-03


- Powered by BING [2012-02-25 02:33] - Powered by BING [2012-02-25 02:33]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5757 times, 1 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5757 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    agenda pembentukan forum pecinta pencak silat (33 views) agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (26 views) TRACES climbed ... agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) TRACES treading the winner (26 views) Traces climbed ...
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-04 00:06] - Powered by BING [2012-03-04 00:06]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5825 times, 17 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5825 times, 17 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    agenda pembentukan forum pecinta pencak silat (33 views) agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (26 views) TRACES climbed ... agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) agenda the establishment of martial arts lovers forum (33 views) TRACES treading the winner (26 views) Traces climbed ...
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-08 01:36] - Powered by BING [2012-03-08 01:36]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5910 times, 19 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5910 times, 19 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting ala Silat Paseban Silat Ground Fighting style Paseban Silat story "The Nizam Kong Champions" Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting style of Silat Silat Ground Fighting style Paseban Paseban
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-12 03:47] - Powered by BING [2012-03-12 03:47]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 5964 times, 4 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 5964 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting ala Silat Paseban Silat Ground Fighting style Paseban Silat story "The Nizam Kong Champions" Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting style of Silat Silat Ground Fighting style Paseban Paseban
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-16 03:16] - Powered by BING [2012-03-16 03:16]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 6069 times, 3 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 6069 times, 3 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting ala Silat Paseban Silat Ground Fighting style Paseban Silat story "The Nizam Kong Champions" Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting style of Silat Silat Ground Fighting style Paseban Paseban
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-20 01:15] - Powered by BING [2012-03-20 01:15]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 6172 times, 6 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 6172 times, 6 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting ala Silat Paseban Silat Ground Fighting style Paseban Silat story "The Nizam Kong Champions" Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting style of Silat Silat Ground Fighting style Paseban Paseban
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    Jejak Kaki Lembah Lawe Lawe Valley Footprints

    ... ... semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang ... all preparations and ask for "exit permit" to the ... com memberikan satu menu khusus namanya Shop Silat ... com provides a special menu called Silat Shop ... Cingkrik goning tidak bertujuan untuk mencari Jawara tapi ... Cingkrik goning not Jawara, but aims to find ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/ Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/


- Powered by BING [2012-03-28 03:23] - Powered by BING [2012-03-28 03:23]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 6236 times, 10 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 6236 times, 10 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Champions" - Silat Indonesia

    Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara ... Fleeting footage Kong kungfu Nizam's Champions ... MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA ; Legenda Si Jampang Jawara Betawi ; Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” TRACES climbed the winner; Legend The Champions Jampang Betawi; story Silat "The Nizam Kong Champions"
    Sumber: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/ Sources: http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/

    Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center Silat Indonesia »Indonesian Pencak Silat Information Center

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting ala Silat Paseban Silat Ground Fighting style Paseban Silat story "The Nizam Kong Champions" Silat story "The Nizam Kong Champions" Ground Fighting style of Silat Silat Ground Fighting style Paseban Paseban
    Sumber: http://en.silatindonesia.com/ Sources: http://en.silatindonesia.com/

    Jejak Kaki Lembah Lawe: September 2008 Footprints Lawe Valley: September 2008

    Meneropong Perkembangan Silat tahun 2009. Telescoped development of Silat in 2009. by Yanweka ... by Yanweka ... terlambat kami berkemas untuk kemudian berangkat menapaki ... too late for us to pack up and go up the ... Berbekal arahan singkat dari bang Lutfi, sang ... Armed with a briefing from the bang Lutfi, the ...
    Sumber: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html Sources: http://lembahlawe.blogspot.com/2008_09_01_archive.html

    detikTravel - Home detikTravel - Home

    Aku Cinta Indonesia | Happy Holiday | Jejak Petualang ... I Love Indonesia | Happy Days | Traces of Explorers' ... Bulan ini tidak hanya dipilih 10 jawara d'Traveler. This month not only selected 10 winners d'Traveler. Tapi satu jawara yang beruntung ... But one of the lucky winners ...
    Sumber: http://travel.detik.com/ Sources: http://travel.detik.com/


- Powered by BING [2012-04-01 00:03] - Powered by BING [2012-04-01 00:03]

Comments are closed. Comments are closed.

TRACES climbed the winner - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA. TRACES climbed the winner.

[ in English ] [ in English ]

Mar 31st, 2009 | By | Category: Artikel Silat , Cerita Silat , Featured Articles , Information Visited 6293 times, 9 today [ in English ] Mar 31st, 2009 | By | Category: Articles Silat , Silat Stories , Featured Articles , Information Visited 6293 times, 9 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

jaware

MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA Stepping on the winner TRACES





(Entitas “Subculture of Violence” (Entities "subculture of Violence" Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Community Banten and West Java section)

Oleh: By: Gusman “Jali” Natawidjaja Gusman "Jali" Natawidjaja

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan In some communities in general and the western part of Java Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Metro Manila in particular, the existence of a series champion has a very long history. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap Jawara is not naming a new figure emerged yesterday afternoon, their presence has been suspected since ancient kingdom of Sunda, which until now stood still eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. exist, even in Florida alone since the 19th century had become the champion of the elite part of society in addition to the clergy and the civil service.

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. For Metro Manila and surrounding communities, the clergy is seen as a public figure who became the most important source of informal leadership. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Community to obey the clergy because the clergy viewed as a respected figure. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan jawara In contrast to the position of the clergy, the civil service and the Holy Grail merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. a social group whose position is not beyond the position of the clergy. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. But among the three, clerics and warlords into a typical group in this area. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Both likened like two sides of a coin, even for the emotional closeness between them, considered the Holy Grail "khodam" his scholars. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Because of the ulamalah most "scientific" champions came from. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan jawara ”. Therefore, it is no exaggeration if Taufik Abdullah called Banten, as the "land of the clergy and the Holy Grail".

Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Over time, the public perception of the champions have an understanding of the diverse, ranging from positive to negative. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Understanding of this diverse community is inseparable from the figure lunge Jawara, who has a substantial role in the third period of history in Banten and West Java, namely the Sunda kingdom, sultanate of Banten, and the Dutch colonial period. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai jawara identik dengan premanisme. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Lately, life building champion with a distinctive character that creates a new culture sub culture community and surrounding Metro Manila, the subculture of Violence (sub culture of violence). This problem is due to surface contamination values ​​kejawaraan so most people there is a rate identical to champion thuggery. As a subculture of violence, warlords have certain motives in committing violence. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. So they developed a style of language or the typical word speech, which seemed very rough (sompral) and a different appearance from the majority community. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI ). like a black dress and wearing weapons machetes (Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional. It is this last appearance that the majority of the public identified with the traditional martial arts.

Penafsiran Sejarah Istilah Interpretation of the history term Jawara Jawara

Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan untuk diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. The absence of records histographia the beginning of the emergence of the term winner in the Banten and West Java, makes it difficult to know for sure when and where the use of the term Champion is awarded to someone who has a physical kunggulan and supernatural, and tend to use violence in resolving any problems. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. As do the terms themselves champions. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan. Traverse the emergence of a new champion of the term is limited to the social history (culture says) is "stamboom" instead of "geschiedenis" or "history", who are academically difficult to be justified.

Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Of the existing stamboom, most people agreed to appoint Banten area as a place where the term first appears, because the winner is one of the public entity that is very popular Bantam. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles ( RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten , 1995 : 121-122). Until the development spread to some of the surrounding area including Batavia, Jakarta-Pantura, Bogor and Priangan simultaneously with the commencement of the construction project Deandles Jalan Raya Pos (Rom. Djajadiningrat Taufik, The Brief History and Genealogy of the Sultanate of Banten Sinuhun, 1995: 121-122).

Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, SS menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara. Based on historical records of a researcher Lebak district, Miftahul Falah, SS outlining the social history of the Metro Manila alone has four interpretations of the emergence of the term champion.

Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. The first interpretation when the kingdom of Sunda using a group of people as a mediator or liaison between the community and its king. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. They have the authority not only to serve the king and people, but also to defend and protect it. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. In their daily lives have to khasan in dress and lifestyle, such as cock fighting rooster in, good at martial arts and has a science "kadugalan" is immune weapons as a supernatural force. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan jawara . Dalamperkembangan next, playing martial arts skills and become immune to its major characteristic of this group that gave birth to a champion title.

Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. The second interpretation, as in the Sultanate of Banten held by Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. In the face of a very strong Pajajaran troops, the Sultan of forming a group of people in a special forces led by Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan Each member has a physical and spiritual excellence, militant and able mengahncurkan secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. rapidly infiltrate into the central government in Pakuan Pajajaran. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama Tambuhsangkane , yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Special forces without identity was named Tambuhsangkane, not moving with the name of the sultanate of Banten. Properties owned by the militants who are growing nature of the special forces of intrepid and then nurtured continuously. Dari merekalah kemudian lahir kaum jawara . From them, he went on the champion.

Penafsiran ketiga, FG Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan Orok Lanjang oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. The third interpretation, FG Putman Craemer, Resident Banten (1925-1931), the term begins with the formation of associations champion Newbie naked by youth groups in the District of Menes Pandeglang, which literally means the "baby adulthood". Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Village association was originally formed to improve relations of kinship in a single environment, providing assistance and service in all activities, including assisting communities in organizing a party or event village. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Gradually the tasks given to the group of young people as organizers of the event village into a liability, if not invited or submitted as an official organizers they will screw up or even derail the proceedings. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. In its development, this group evolved into a bouncer organization known as the champion. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka. They became a frightening specter for the organization of society, to the extent that the local diocesan authorities can not act decisively to them.

Penafsiran keempat , istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. The fourth interpretation, the term emerged champion in the event of resistance against the Dutch in the 19th century is driven by the clergy. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. The scholars who generally have two groups of students who were educated by their talents and abilities, which are the first group of students who have talents in the field of religious knowledge that will eventually replace the position of the clergy. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . They were equipped with science lessons in addition to the Islamic religion as a basic science. Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. The second group is the students who have talents and abilities in the field of martial arts martial arts. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. The second group was trained and nurtured his physical strength with martial arts martial arts, and is also equipped with a science lesson, but far less than the portion of the first group of students. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki They were tasked to conduct terror against the Dutch colonial government and the foot tangannya. hand. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara. The second group is then called a champion today.

Penafsiran kelima , istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. The fifth interpretation, the term appears as the champion Taufik Djajadiningrat RM disclosed, when the commencement of construction of Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) between Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa Perang Pertama . Construction of roads which are very detrimental to the people has led the rebellion among the warriors martial, known by the events of the First War. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka. Of the events of this rebellion led to the nickname of a champion, addressed to them.

Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai jagoan , dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Initially, the term has meaning as a champion of champion, with a good understanding in cock fighting and self defense martial arts. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. In addition, they also have the ability to demonstrate immunity sciences. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para jawara Capabilities were used by the warlords untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. to defend and create a sense of security and tranquility in the neighborhood. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. They have that ability because of his position as an informal leader in the midst of society, both during the Sunda kingdom, sultanate of Banten, as well as during the Dutch colonial administration.

Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif Shift in the meaning of champions that is contaminated with the negative terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. occurred in the 19th century when the Bantam and the surrounding areas characterized by chaos and looting are incomparable. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. It is then by the Dutch colonial government used to form a negative stigma to the warriors of the martial warriors and scholars. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Negative stigma is purposely created the Dutch in an attempt to provoke people to think of them as troublemakers, vandals, and thieves. Sehingga mencap semua kaum jawara adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai onsluten (keonaran), ongergeldheden (pemberontakan), complot (komplotan), woelingen (kekacauan), dan onrust (ketidak amanan). So that the labeling of all the champions are bandits so that the resistance in the form of social movement, which intends to resist foreign occupation is considered as onsluten (troublemakers), ongergeldheden (uprising), complot (conspiracy), woelingen (chaos), and Onrust (insecurity). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari ja lma wa ni nga- ra mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong ( ja lma wa ni nga- ra hul). Since then the martial warrior and scholar regarded as a champion's inertia, which is an acronym of the LMA ja ni nga wa-ra mpog (those who dared to rob) or a person who beani cheat / liar (LMA ja ni nga wa-ra Hul) . Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut. This negative connotation continues to grow until the 20th century, and until now not a few people who are influenced by the negative stigma Dutch.

Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa Over the years, Jawara who feel citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah ja lma jago nu wa ni ra mah (orang yang jagoan berani dan ramah). image stuck in a negative connotation that created the Dutch society, trying to counter the good with the term LMA ja ra ni wa nu mah (those who champion brave and friendly). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Of course there are also a handful of champions who have a negative behavior, but this can be resolved in the internal group "kejawaraan" was his own. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan Generally within an organization kejawaraan are the rules that are conventional for the complete permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif. problems, especially against a champion who behave negatively.

Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman Terminology Champions, Stud, and Thugs

Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. In general, champion of a definition as one who has the versatility to play martial arts and have certain skills. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. In contrast to the robbers or thieves, they are figures who are able to maintain a safety and security of the village, so therefore the honor of their existence. Pada umumnya, jawara In general, champion sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. very obedient to the clergy, because the spirit in their souls from the clergy. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu juware atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat. Betawi themselves on the ground almost has the same meaning, but the term for the native Betawi champions depart from the term "cut letter" Betawi native tongue is juware or champions an unbeatable in terms of self-defense "maenpukulan" or martial arts.

Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis Jogo yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, Glosari Betawi : 43). Unlike the tiger, it is derived from the word "champion" who according to Ridwan Saidi is a loanword from the Portuguese Jogo which means "champion" or champion (Ridwan Saidi, glossaries Betawi: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan istilah yang agak umum bagi golongan “tukang pukul” dan seorang yang suka berkelahi. On the other hand according to oral tradition, is a good term for a rather general class of "heavies" and one who likes to fight. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Champion a more positive tone than the thugs on the present term. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Stud is the name for members of an influential and respected in his village, people are strong, and brave bodyguard. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. In the hierarchy, champ considered lower position than the champion. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas, Because as, as mentioned above, jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh. champions can be considered as another term for warrior, warrior societies featured as a person who likes to give protection and physical safety of the community, is also regarded as the elder or elders.

Lalu bagaimana dengan preman?. And what about the thugs?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, Vrijman yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut free man . Etymologically thugs is loanword from Dutch language, Vrijman which means "free man" or in English is called a free man. Dalam Kamus Bahasa Indonesia akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: 1. In the Dictionary of Indonesian will we find at least 3 meaning of the word thug, namely: 1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. private, private, non government, not the soldiers, civilians. 2. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. as the bad guy (who likes to squeeze out and commit a crime) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah . Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai sebutan pejoratif (kata sandang merendahkan) yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. laborers who work the fields. In general terms can be summed up as thugs called connotative (the article condescending) are often used to refer to the activities of a group of people who earn their income primarily from extortion other community groups.

Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Of the three terms above, we should still be able to distinguish the meaning, function and role of each in society. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya. So we are not in a hurry to justify his behavior by a person.

Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H) Labuan, March 1, 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)

Sumber tulisan: Source of text:

Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta Atu Karomah, Jawara and the Culture of Violence in Society Banten, Thesis S2 UI, Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996 Big Indonesian Dictionary, BP Jakarta 1996

Miftahul Falah, SS, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995 Miftahul Falah, SS, Kejawaraan In Lebak Dynamics, Jakarta1995

Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007 Ridwan Saidi, glossaries Batavia, Jakarta 2007

RM. RM. Taufik Djajadiningrat, Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, Jakarta1995 Taufik Djajadiningrat, Brief History and Genealogy of The Sultanate of Banten Sinuhun, Jakarta1995

Tasbih & Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai & Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002 Beads & Machete, Charisma Study research team Kyai & Champion in Banten, STAIN Attack, 2002



Artikel MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: TRACES article Tracing the winner is 'probably' related to the other sites:

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA - Silat Indonesia TRACES climbed the winner - Silat Indonesia

    MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja. TRACES climbed the winner (Entity "subculture of Violence" Community Banten and West Java Section) By: Gusman "Jali" Natawidjaja. Di sebagian masyarakat ... In some communities ...

    Cerita Silat “Kong Nizam Sang Jawara” - Silat Indonesia Silat story "The Nizam Kong Cham