Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1109 times, 1 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1109 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-10 17:02] - Powered by BING [2012-02-10 17:02]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1146 times, 3 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1146 times, 3 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-02-22 22:49] - Powered by BING [2012-02-22 22:49]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1173 times, 3 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1173 times, 3 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-05 03:46] - Powered by BING [2012-03-05 03:46]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1213 times, 2 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1213 times, 2 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-17 07:22] - Powered by BING [2012-03-17 07:22]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1238 times, 2 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1238 times, 2 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-25 00:29] - Powered by BING [2012-03-25 00:29]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1261 times, 4 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1261 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-03-29 06:28] - Powered by BING [2012-03-29 06:28]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1315 times, 4 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1315 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-14 03:38] - Powered by BING [2012-04-14 03:38]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1331 times, 6 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1331 times, 6 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-22 00:44] - Powered by BING [2012-04-22 00:44]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1354 times, 2 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1354 times, 2 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-04-30 07:55] - Powered by BING [2012-04-30 07:55]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1370 times, 2 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1370 times, 2 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-05-05 18:35] - Powered by BING [2012-05-05 18:35]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1384 times, 4 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1384 times, 4 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-05-09 04:59] - Powered by BING [2012-05-09 04:59]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1392 times, 1 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1392 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-05-13 07:46] - Powered by BING [2012-05-13 07:46]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition - Silat Indonesia
Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi. Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition.

[ in English ] [ in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure Pesilat Visited 1400 times, 1 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By | Category: Figure fighters Visited 1400 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

Sabtu, 24 Januari 2004 Saturday, January 24, 2004
Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Worryingly Palatiang Upiak Inyiak Silat Tradition

Laporan : Khairul Jasmi Report: Khairul Jasmi

Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Kubu Tower, Batipuah, a small village near Padangpanjang, West Sumatra, looks deserted, January 14. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Some women, rushed to save jemurannya, because soon it will rain. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis. In a small house in the same village, a grandmother named Inyiak Upiak Palatiang, 105 years old, was crying.

Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. He was unable to see the plight of sick children. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Her only child was named Upiak Lamsinar (50 years). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker Upiak Lamsinar, who lay on a thin mattress, such as forgetting menderanya pain: cancer
payudaranya meradang. inflamed breasts. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. It has been almost two months he lay low. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam. Disease recurrence, since the last surgery in 1991.

Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Lamsinar moved to tears not because of his illness, nor for the day was about to rain, but because it asks builders Saluang (minang wind instrument) up to his house. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar — masih terbaring– mengalunkan suara rancaknya. Saluang was blown and Upiak Lamsinar - still lying rancaknya-steady voice. Ia seperti lupa pada sakitnya. He seemed to forget the pain. Rona mukanya memerah, berseri. Blushing hue, glow. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Saluang song that he is playing, breaking down the feeling. Suaranya indah sekali. Her voice is beautiful. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. His mother, Inyak Upiak Palatiang, look down. Air matanya pun jatuh. Her tears fell. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau. What a wonderful sound of my child, said Palatiang hoarse.

Upiak Palatiang masih tangkas. Upiak Palatiang still agile. Apa pekerjaannya sehari-hari? What is their daily work? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. At least he was only five minutes at home, then go again, but tonight, he was at home alone, according to law. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Palatiang like having a foot on wheels. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya. I wish to continue, to the rice field, farm, home of his brother.

Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita –yaitu Upiak Lamsinar tadi. He had three children: two boys and one woman-that is Upiak Lamsinar earlier. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Palatiang (maybe) is the last legacy of the complete figure of a woman Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. She was a woman who is a midwife. Selain itu, ia adalah penutur yang baik In addition, he is a good speaker
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. stories of prophets, speakers of the nature of 20, knew the stories of heaven and hell. Juga pandai mengaji. Also good lessons. Palatiang juga pesilat ulung. Palatiang also accomplished fighter. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ringkihnya old body, such as would fall swept away by the wind. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. He can bend, legs can fly, and deft hands. Bahkan, ia bisa bersalto. In fact, he can somersault. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Palatiang is savvy grandmother's groove. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis. Saluang poems which he had created hundreds of them and all the melancholy.

Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. But, the martial arts tradition he is sedihkan. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Because, it is rarely studied and often also a master teacher of the martial arts tradition as a whole, he is worried about the martial arts tradition of going extinct. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Martial arts, he said, is the martial arts that are meant not to find an opponent, but looking for friends. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. With martial arts, one can get closer to God. Pesilat, kata Palatiang, Fighters, said Palatiang,
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula. can soar like cotton and cotton to the ground as well.

Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. If he is not worried about Saluang true, because this time the recording industry Saluang quite encouraging, though not as many new poems that appear. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. In Minangkabau There are two forms of art that stands out. Pertama randai dan kedua saluang. The first and second Randai Saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. The first is a combination of literature, music, sound art, dance, theater, martial arts comedy, and art decor. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. The second is a wind instrument used to accompany classical poems Minang. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. This classic poem taken from natural phenomena, from the inner experience, and great events. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih. All disyairkan petatah-proverb form.

Palatiang adalah sosok yang riang. Palatiang is a cheerful person. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. With him, we laughed endlessly. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. He does not like a senile old man, bent, or shortness of breath. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. His mother, Upiak Aji, was a master in his village pendendang. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. According to one student Palatiang, Musra Darizal Mangkuto Rajo (56 years), has created hundreds of poems Palatiang Saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang. Many poems, poems inspired by Mount Merapi and Mount Singgalang, two of the dreaded mountain people as well admired Minang.

Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Upiak Palatiang very good at making and hummed with poetry Saluang pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si If, for example, Palatiang like a man, so he just hummed it, then the
lelaki akan tergila-gila padanya. man's crazy about her. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. That pitunang, magical allure that radiates through the sound. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. But, Palatiang not want to use that knowledge for such things. Tiga orang suaminya –semua sudah meninggal– didapatnya bukan dengan cara yang demikian. Three people have died of her husband-all-got not in that way.

Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Love means loving Inyiak Upiak Palatiang Minang arts tradition. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Palatiang itself can not be separated from the arts. Ia berguru pada ayah dan pamannya. He studied at his father and uncle. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. On a cold night in the Palace of Bung Hatta, United Kingdom, December 14, 2003 last Sunday, held a historic meeting, initiated by the Association of Traditional Silat Flow (must) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. For the first time 79 people pandeka (professor) silek tuo (old arts) from different schools stay in touch and skill performance. Mereka semua berusia 70 They were all aged 70
tahun ke atas. years and above. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. One of the surprising figure was an old woman. Itulah Upiak Palatiang. That Upiak Palatiang.

Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. In the presence of officials and the Executive Board of the Indonesian Pencak Silat Association (IPSI), Inyiak Gunuang old martial arts displays. Ia lincah bergerak. He is agile moves. Sorot matanya tajam. His eyes were sharp. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. When he was attacked, hundreds of people held their breath. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. He dispels the attack with dodgery (gelek) and defense (tangkih) are nimble. Lawan tak bergerak. Opponent did not move. Kalah! Lose! Inyiak memberi hormat. Inyiak salute. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum. Applause, a sign of salute and admiration.



Artikel Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Worryingly Palatiang Inyiak Upiak article Silat tradition 'might' be linked at other sites:


- Powered by BING [2012-05-17 16:13] - Powered by BING [2012-05-17 16:13]

Leave Comment Leave Comment

You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.