Kelatnas Indonesia Perisai Diri. Shield Yourself Kelatnas Indonesia.
[ in English ] [ in English ]Aug 21st, 2009 | By admin | Category: Aliran Silat Visited 1259 times, 2 today [ in English ] Aug 21st, 2009 | By admin | Category: Flow Silat Visited 1259 times, 2 today [ in English ]
SEJARAH BERDIRINYA PERISAI DIRI ESTABLISHMENT HISTORY OF SELF shield
Friday, August 12, 2005 23:22:20 Friday, August 12, 2005 23:22:20
Pak Dirdjo (panggilan akrab RM Soebandiman Dirdjoatmodjo) lahir di Yogyakarta pada hari Selasa Legi tanggal 8 Januari 1913 di lingkungan Keraton Pakoe Alam. Pak Dirdjo (RM Soebandiman Dirdjoatmodjo close calls) was born in Yogyakarta on Tuesday, Legi dated January 8, 1913 in the Palace of Natural Pakoe. Beliau adalah putra pertama dari RM Pakoesoedirdjo, buyut dari Pakoe Alam II. He was the first son of RM Pakoesoedirdjo, great-grandson of Pakoe Alam II. Sejak berusia 9 tahun beliau telah dapat menguasai ilmu pencak silat yang ada di lingkungan keraton sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Pakoe Alaman. Since the age of 9 years he has been able to master the science of martial arts that exist in the palace so gained the confidence to train his friends in the area Pakoe Alaman. Di samping pencak silat beliau juga belajar menari di Istana Pakoe Alam sehingga berteman dengan Saudara Wasi dan Bagong Kusudiardjo. In addition to martial arts, he also studied dance at the Palace of Natural Pakoe making friends with you and Bagong Kusudiardjo Wasi.
Karena ingin meningkatkan kemampuan ilmu silatnya, pada tahun 1930 setamat HIK beliau meninggalkan Yogyakarta untuk merantau tanpa membawa bekal apapun dengan berjalan kaki. Because you want to increase the ability of science silatnya, HIK After graduating in 1930 he left to wander Yogyakarta without bringing any supplies on foot. Tempat yang dikunjunginya pertama adalah Jombang, Jawa Timur. The first place he visited was Jombang, East Java. Di sana beliau belajar silat pada Bapak Hasan Basri, sedangkan pengetahuan agama diperoleh dari Pondok Pesantren Tebuireng. There he studied arts at Mr. Hasan Basri, whereas religious knowledge gained from Tebuireng boarding school.
Setelah menjalani gemblengan keras dengan lancar dan dirasa cukup, beliau kembali ke barat. After undergoing hard gemblengan smoothly and considered, he returned to the west. Sampai di Solo beliau belajar pada Bapak Sayid Sahab. Until he learned in Solo on Mr Syed Sahab. Beliau juga belajar kanuragan pada kakeknya, Jogosurasmo. He also studied kanuragan to his grandfather, Jogosurasmo.
Tujuan berikutnya adalah Semarang, di sini beliau belajar pada Bapak Soegito dari aliran Setia Saudara. The next destination was Hyderabad, here he learned at Mr. Faithful Brother Soegito of flow. Dilanjutkan dengan mempelajari ilmu kanuragan di Pondok Randu Gunting Semarang. Followed by studying science at Pondok Randu kanuragan Scissors Semarang.
Dari sana beliau menuju Cirebon setelah singgah terlebih dahulu di Kuningan. From there he headed Cirebon after stopping first in Brass. Di sini beliau belajar lagi ilmu silat dan kanuragan dengan tidak bosan-bosannya selalu menimba ilmu dari berbagai guru. Here he studied again with martial arts and kanuragan not get enough of always gain knowledge from various teachers. Selain itu beliau juga belajar silat Minangkabau dan silat Aceh. In addition, he also learned silat silat Minangkabau and Aceh.
Tekadnya untuk menggabungkan dan mengolah berbagai ilmu yang dipelajarinya membuat beliau tidak bosan-bosan menimba ilmu. Its determination to combine and process a variety of science he had learned to make him not get enough of studying. Berpindah guru baginya berarti mempelajari hal yang baru dan menambah ilmu yang dirasakannya kurang. Switching means for her teachers to learn new things and increase knowledge he felt less.
Beliau yakin, bila segala sesuatu dikerjakan dengan baik dan didasari niat yang baik, maka Tuhan akan menuntun untuk mencapai cita-citanya. He believes, if all things are well done and based on good faith, then God will lead to achieving its goals. Beliau pun mulai meramu ilmu silat sendiri. He also began to formulate his own martial arts. Pak Dirdjo lalu menetap di Parakan, Banyumas, dan pada tahun 1936 membuka perkumpulan pencak silat dengan nama Eka Kalbu. Mr. Dirdjo then settled in Parakan, Banyumas, and in 1936 opened the martial arts associations with the name Eka Heart.
Setelah puas merantau, beliau kembali ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. After being abroad, he returned to his homeland, Yogyakarta. Ki Hajar Dewantoro yang masih Pakde-nya, meminta Pak Dirdjo melatih di lingkungan Perguruan Taman Siswa di Wirogunan. Ki Hajar Dewantoro still Pakde her, asked Mr. Dirdjo train students in the College Park in Wirogunan.
Di tengah kesibukan melatih, beliau bertemu dengan seorang pendekar Tionghoa yang beraliran beladiri Siauw Liem Sie (Shaolinshi), Yap Kie San namanya. In the midst of training, he met a Chinese warrior martial wing Siauw Liem Sie (Shaolinshi), Yap Kie San name. Pak Dirdjo yang untuk menuntut suatu ilmu tidak memandang usia dan suku bangsa lalu mempelajari ilmu beladiri yang berasal dari biara Siauw Liem (Shaolin) ini dari Suhu Yap Kie San selama 14 tahun. Mr. Dirdjo which to prosecute a science regardless of age and ethnicity and learn martial arts from the monastery Siauw Liem (Shaolin) is from Yap Kie San temperature for 14 years. Beliau diterima sebagai murid bukan dengan cara biasa tetapi melalui pertarungan persahabatan dengan murid Suhu Yap Kie San. He was accepted as a student but not the normal way through the fight with his friendship Temperature Yap Kie San. Melihat bakat Pak Dirdjo, Suhu Yap Kie San tergerak hatinya untuk menerimanya sebagai murid. Pak Dirdjo see talent, Yap Kie San Temperature moved to accept as a pupil. Berbagai cobaan dan gemblengan beliau jalani dengan tekun sampai akhirnya berhasil mencapai puncak latihan ilmu silat dari Suhu Yap Kie San. Various trials and gemblengan live diligently until he finally reached the top martial arts training from Yap Kie San temperature.
Dengan bekal yang diperoleh selama merantau dan digabung dengan ilmu beladiri Siauw Liem Sie yang diterima dari Suhu Yap Kie San, Pak Dirdjo mulai merumuskan ilmu yang telah dikuasainya itu. With the stock acquired during travel, combined with martial arts Siauw Sie Liem received from the temperature of Yap Kie San, Mr. Dirdjo began to formulate a science that has mastered it. Pada tahun 1947 di Yogyakarta, Pak Dirdjo diangkat menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Seksi Urusan Pencak Silat yang dikepalai oleh Bapak Mochammad Djoemali. In 1947 in Yogyakarta, Mr. Dirdjo appointed servants in the Ministry of Education and Cultural Affairs Section of Pencak Silat, headed by Mr. Mochammad Djoemali. Dengan tekad mengembangkan ilmunya, beliau lalu membuka kursus silat umum, selain mengajar di HPPSI dan Himpunan Siswa Budaya. With the determination to develop his knowledge, he then opened the public arts courses, in addition to teaching at HPPSI and Culture Student Association.
Tahun 1954 Pak Dirdjo diperbantukan ke Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. In 1954 Mr. Representative Dirdjo seconded to the Ministry of Education and Culture in Surabaya East Java Province. Tahun 1955 beliau resmi pindah dinas ke Kota Surabaya. In 1955, he officially moved offices to the city of Surabaya. Di sinilah, dengan dibantu oleh Bapak Imam Romelan, beliau membuka dan mendirikan kursus pencak silat Keluarga Silat Nasional Indonesia PERISAI DIRI pada tanggal 2 Juli 1955. This is where, assisted by Mr. Imam Romelan, he opened and established courses Silat Pencak Silat Indonesia's National Family shield SELF on July 2, 1955.
Pengalaman yang diperoleh selama merantau dan ilmu silat Siauw Liem Sie yang dikuasainya kemudian dicurahkannya dalam bentuk teknik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anatomi tubuh manusia, tanpa ada unsur memperkosa gerak. The experience gained during travel, martial arts are mastered Siauw Liem Sie then pour in the form of a technique that suits your needs and abilities of human anatomy, with no element of rape motion. Semuanya berjalan secara alami dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Everything went naturally and scientifically proven. Dari mulai didirikan hingga kini teknik silat Perisai Diri tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah. From now been set up to Silat techniques Shield Self never changes, decreases or increases. Dengan motto Pandai Silat Tanpa Cedera, Perisai Diri diterima oleh berbagai lapisan masyarakat untuk dipelajari sebagai ilmu beladiri. With a clever motto Silat Without Injury, Self Shielding accepted by all walks of life to learn as martial arts.
Tanggal 9 Mei 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo berpulang menghadap Sang Pencipta. Dated May 9, 1983, RM Soebandiman Dirdjoatmodjo passed away overlooking the Creator. Tanggung jawab untuk melanjutkan teknik dan pelatihan silat Perisai Diri beralih kepada para murid-muridnya yang kini telah menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan beberapa negara di Eropa, Amerika dan Australia. Responsibility to continue martial arts training techniques and Shield Yourself switch to the students which has now spread to all corners of the country and some countries in Europe, America and Australia. Untuk menghargai jasanya, pada tahun 1986 pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pendekar Purna Utama bagi Bapak RM Soebandiman Dirdjoatmodjo. To appreciate his services, in 1986 the government of the Republic of Indonesia conferred the title of Mr. Swordsman Full Main Soebandiman Dirdjoatmodjo RM.
KURIKULUM PELATIHAN TRAINING CURRICULUM
Tingkatan pesilat Perisai Diri dibagi dalam beberapa tingkatan yang secara garis besar dikelompokkan dalam tingkat Dasar dan tingkat Keluarga. Shielding Yourself fighter levels are divided into several levels that broadly grouped in the Association and the Family. Tingkat Dasar terdiri dari Dasar I (sabuk putih), Dasar II (sabuk hitam) dan Calon Keluarga (sabuk merah). The basis consists of the Basic level I (white belt), Basic II (black belt) and Prospective Families (red belt). Tingkat Keluarga (sabuk merah) terdiri dari beberapa tingkatan yang ditandai dengan warna strip pada badge. Family rate (red belt) consists of several levels that are marked with a color strip on the badge.
Mulai tingkat dasar akan diajarkan teknik-teknik beladiri tangan kosong. Starting level will be taught basic self-defense techniques empty hand. Pada tingkat selanjutnya diajarkan juga teknik permainan senjata dengan senjata wajib pisau, pedang dan toya. On the next level playing techniques are also taught weapons with blades shall weapons, sword and toya. Dengan dasar penguasaan tiga senjata wajib, pisau mewakili senjata pendek, pedang mewakili senjata sedang, dan toya mewakili senjata panjang, pesilat Perisai Diri dilatih untuk mampu mendayagunakan berbagai peralatan yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai senjata. With a basic mastery of the three mandatory weapons, knives represent short guns, swords represent the weapon was, and Toya represent long-range weapons, fighters are trained to be able to Shield Yourself utilize various tools around them to be used as a weapon. Teknik tersebut juga dapat digunakan untuk memainkan senjata lain, seperti celurit, trisula, abir, tombak, golok, ruyung (double stick), pedang samurai, pentungan, kipas, payung, senapan, bayonet, rantai, teken, dan sebagainya. The technique can also be used to play the other weapons, such as sickles, trident, Abir, spears, machetes, ruyung (double stick), samurai swords, clubs, fans, umbrellas, rifles, bayonets, chain, sign, and so forth.
Metode praktis yang sangat penting untuk dipelajari oleh pesilat Perisai Diri adalah latihan Serang Hindar. Practical method is very important to learn the fighters are training Attack Shield Yourself aversion. Pada latihan ini akan diajarkan cara menyerang dan menghindar yang paling efisien, cepat, tepat, tangkas, deras dan bijaksana. In this exercise will be taught how to attack and avoid the most efficient, rapid, precise, agile, swift and thoughtful. Sekalipun berhadapan langsung dengan lawan, kemungkinan cedera amat kecil karena setiap siswa dibekali prinsip-prinsip dasar dalam melakukan serangan dan hindaran. Even face to face with the opponent, the likelihood of injury is very small because each student is equipped with the basic principles of attack and hindaran. Resiko kecil pada metode Serang Hindar inilah yang melahirkan motto Pandai Silat Tanpa Cedera. Small risk aversion on the method of attack is what gave birth to the motto of Clever Silat Without Injury. Dengan motto inilah Perisai Diri menyusun program pendidikan dengan memperhatikan faktor psikologis dan kurikulumnya. With this motto Shield Self put together a program of education with attention to psychological factors and the curriculum.
Teknik silat Perisai Diri terdiri dari lima tahapan, yakni pengenalan, pengertian, penerapan, pendalaman dan penghayatan. Shielding Yourself silat technique consists of five stages, ie, knowing, understanding, application, and the deepening of appreciation. Intisari ilmu silat yang dikembangkan Pak Dirdjo ini terdiri dari 19 teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anatomi tubuh manusia. Essence of the martial arts developed Dirdjo Pak consists of 19 techniques that are tailored to the needs and human anatomy. Ke-19 teknik silat tersebut masing-masing mempunyai ciri khas dalam hal : To-19 martial arts techniques that each has distinctive characteristics in terms of:
- pengosongan, peringanan dan pemberatan tubuh - Evacuation, mitigation and weighting of the body
- gerak merampas dan merusak - Motion of seizing and destroying
- menangkis dan mengunci - Parry and lock
- cara menghindar dan mengelak - How to duck and dodge
- gerak melompat - Jump motion
- cara menolak, menebang dan melempar - How to resist, cut and throw
- mendorong dan menebak - Encourage and guess
- serangan tangan, kaki dan badan - Attacks the hands, feet and body
- pengaturan napas - Regulation of breath
- penyaluran tenaga - Distribution of power
- pengaturan senjata - Setting a weapon
Dalam silat Perisai Diri terdapat Teknik Kombinasi dan Teknik Asli. Self-contained in silat Shield Combination Technique and Original Technique. Teknik Kombinasi merupakan teknik-teknik di silat Perisai Diri yang berasal dari perguruan-perguruan silat di seluruh Indonesia yang meliputi 156 aliran. The technique is a combination of techniques in silat Shield Yourself from universities throughout Indonesia silat which includes 156 schools. Rangkuman teknik silat tersebut kemudian dipilah dan dikelompokkan sesuai dengan karakter dari masing-masing aliran. Summary of martial arts techniques are then sorted and grouped according to the character of each stream. Teknik Kombinasi diantaranya adalah Cimande, Batawen, Bawean dan Jawa Timuran. The combination of such techniques is Cimande, Batawen, Bawean and Java Timuran. Di samping itu ada juga Teknik Minangkabau yang diambil dari teknik pencak silat tanah Minang yang dilengkapi dengan beberapa teknik lain. In addition there are also techniques Minangkabau taken from martial arts techniques Minang land that comes with some other techniques.
Teknik Asli dalam silat Perisai Diri sebagian besar diambil dari aliran Siauw Liem Sie. The original technique in martial arts Self Shielding mostly taken from the stream Siauw Liem Sie. Dengan kreativitas Pak Dirdjo, yang mirip hanyalah sikap awalnya saja, sedangkan gerakan maupun implementasinya sudah dijiwai oleh karakter pencak silat Indonesia. With creativity Dirdjo Pak, which is similar to the attitude of beginning, while the movement and its implementation was inspired by the character of Indonesian martial arts. Hal ini yang menjadikan ilmu silat Perisai Diri mempunyai sifat unik, tidak ada kemiripan dengan silat yang lain. This is what makes martial arts Self Shielding has unique properties, there is no similarity with the other arts. Disebut Asli karena mempunyai frame tersendiri, bukan merupakan kombinasi dari beberapa aliran silat. The original so-called because it has its own frame, not a combination of several martial arts stream.
Teknik Asli dalam silat Perisai Diri : The original technique in martial arts Shield Yourself:
1. A. Burung Mliwis Bird Mliwis
2. 2. Burung Kuntul Heron bird
3. 3. Burung Garuda Garuda bird
4. 4. Lingsang Lingsang
5. 5. Kuda Kuningan Horse Brass
6. 6. Setria Hutan Setria Forest
7. 7. Harimau Tiger
8. 8. Naga Dragon
9. 9. Setria Setria
10. 10. Pendeta Pastor
11. 11. Putri Daughter
Pada tingkat tertentu akan diajarkan teknik olah pernafasan yang berguna baik untuk kebugaran maupun untuk menunjang beladiri, misalnya gwakang, lweekang dan ginkang. At a certain level will be taught breathing techniques are useful if good for fitness as well as to support self-defense, for example gwakang, lweekang and ginkang. Untuk menyeimbangkan gemblengan fisik, pada tingkat tertentu akan diberi gemblengan mental spiritual yang dalam Perisai Diri dikenal dengan istilah Kerokhanian yang diberikan secara bertahap untuk memberi pengertian dan pelajaran tentang diri pribadi dan manusia pada umumnya, sehingga diharapkan tercipta pesilat yang bermental baja dan berbudi luhur, mempunyai kepercayaan diri yang kuat, berperangai lemah lembut, serta bijaksana dalam berpikir dan bertindak. To balance the physical gemblengan, at a certain level will be given to the spiritual mental gemblengan Self Shielding Kerokhanian known as given in stages to provide understanding and learning about self and people in general, so that the fighter is expected to create a mentality of steel and virtuous, has confidence is strong, gentle mannered, and thoughtful in thinking and acting. Keseimbangan antara pengetahuan silat dan Kerokhanian akan menjadikan anggota Perisai Diri waspada dan mawas diri, tidak sombong, dan setiap saat sadar bahwa di atas segala-galanya ada Sang Pencipta. Balance between the arts and knowledge will make Kerokhanian Self Shielding member alert and introspective, not arrogant, and at all times aware that on top of everything there is a Creator. Keseimbangan paling luhur yakni mengabdi kepada Allah Sang Pencipta. The most sublime balance that is dedicated to God the Creator.
www.silatindonesia.com www.silatindonesia.com






