Menyalurkan Tenaga Lawan Merupakan Teknik Dasar Silat. The opposite is Channeling Power Engineering Silat Association.
[ in English ] [ in English ]Aug 26th, 2009 | By admin | Category: Artikel Silat Visited 2276 times, 1 today [ in English ] Aug 26th, 2009 | By admin | Category: Articles Silat Visited 2276 times, 1 today [ in English ]
Oleh: Kiki Rizki Noviandi By: Kiki Rizki Noviandi
Anda pernah melihat betapa indahnya gerakan beladiri Aikido dalam mempermainkan tenaga lawannya hingga jatuh bangun dibuatnya? You've seen how beautiful the Aikido martial art movements in his opponent's power play to fall up made?
Di dalam beberapa aliran silat, konsep mengalirkan tenaga lawan bukanlah sesuatu yang aneh. In the multiple streams of silat, the concept of attrition drain is not something strange. Saya ambil contoh pada beberapa aliran Maen Po (silat Sunda) teknik buang kelid atau piceunan (dalam bahasa Sunda) sudah merupakan teknik dasar yang harus dimiliki. I take the example of the multiple streams of Maen Po (Sundanese arts) techniques or piceunan kelid waste (in Sundanese) is already a must-have basic techniques.
Contohnya pada aliran Cikalong, memanfaatkan tenaga lawan akan menghasilkan hasil yang lebih efektif dibandingkan dengan mengadu tenaga dengan lawan. For example in Cikalong flow, take advantage of attrition would produce more effective results compared with the power to complain to the opponent. Dengan menangkis serangan lawan misalnya. Fend off such attacks by opponents. Apalagi kalau ukuran badan dan tenaga lawan sangat besar dan tidak mungkin ditandingi dari segi tenaga. Especially if the opponent's body size and energy are very large and may not be matched in terms of power.
Saya teringat ketika latihan Sabtu dulu di Padepokan Pencak Silat Taman Mini, seorang teman bercerita ketika dia ditunjukkan cara menghindari teknik kuncian tangan dengan cara cikalongnya Pak Azis (Guru besar perguruan silat Cikalong Pancer Bumi). I remember when the first practice Saturday at Padepokan Pencak Silat Taman Mini, a friend told me when he was shown how to avoid locking technique cikalongnya hand by Mr. Azis (Master of arts colleges Cikalong Pancer Bumi). Caranya adalah dengan mengikuti tenaga lawan dan merapatkan lengan ke badan tanpa memberikan tenaga tolakan. The trick is to follow the opponent's force and arms close to the body without giving a repulsion force. Otomatis kuncian tangan dapat dilepaskan meski yang mengunci lebih besar tenaganya. Hands automatically locks the lock can be released even greater strength.
Teknik seperti ini dikenal dengan istilah isi-kosong (eusi-kosong), dimana sebagai pesilat dapat mengetahui kapan harus dilawan dengan tenaga dan kapan diberi tenaga kosong. Such a technique known as content-empty (eusi-empty), where a fighter can know when to be resisted with force and power when given a blank.
Sepertinya konsep ini juga dianut oleh aliran lain seperti Aikido. It seems this concept is shared by other streams such as Aikido. Semakin terasah rasa kita ketika mengetahui kapan tenaga lawan habis maka semakin sempurna kita berlatih tenaga eusi-kosong ini. Honed sense of when to know when we force the opponent out, the more perfect we practice power-eusi empty.
Salah satu syarat untuk melatih ini adalah dengan melatih jurus dengan cara menempel lawan atau bahasa Sundanya adalah ulin napel atau usik. One requirement for this training is to train moves by sticking an opponent or Sundanese were ulin napel or teased. Dengan semakin sering kita usik, akan semakin terlatih rasa kita dalam mengukur dan menyalurkan tenaga lawan dengan menggunakan tenaga isi dan kosong (eusi-kosong). With the more often we teased, we think will be more trained in measuring and energize your opponent by using the energy content and empty (eusi-empty).
Hal lain yang perlu dilihat dalam pengaturan tenaga ini adalah kekuatan terbesar dalam tenaga adalah tenaga putaran (circle power). Another thing that needs to be seen in the setting of this power is greatest in the labor force is the torque (power circle). Ini bisa dilihat dalam setiap gerakan Aikido, dimana semua tenaga lawan akan dialirkan sesuai dengan tenaga putaran. This can be seen in every movement of Aikido, in which all power will be streamed according to your opponent torque. Begitu tenaga lawan habis maka tibalah waktunya kita untuk menyerang balik. Once the opponent's power runs out then it's time to hit back at us.
Tenaga putaran ini tidaklah cukup dengan hanya memutar badan saja tetapi harus diimbangi dengan kelincahan gerak kaki yang sangat terlatih dalam menyalurkan tenaga lawan. Torque is not enough to just play the body alone but must be balanced by footwork agility is highly trained in delivering attrition.
Di dalam silat, teknik seperti ini sudah ada dan sangat familiar dilakukan di kalangan pesilat tradisional seperti terlihat bagaimana silek Sumatra (kumango atau silek tuo) melakukan gerakan putar yang sudah merupakan bagian dan ciri aliran ini. In the arts, such techniques have been there and done very familiar among traditional fighters like seen how silek Sumatra (kumango or silek tuo) rotary motion which is a part and feature of this flow. Sedangkan di penca (istilah silat di Sunda) sendiri setiap jurus maen po memiliki metoda untuk melatih langkah yang disebut dengan pancer. While in on Disabled (the term martial arts in the Sunda) itself every moment maen po have to train step method called pancer.
Jadi dalam menyalurkan tenaga lawan, silat tidak kalah dengan beladiri lain bahkan jurusnya lebih kaya dari beladiri lainnya. So in the channeling of attrition, martial arts is not inferior to other jurusnya even richer than other martial arts.
www.silatindonesia.com www.silatindonesia.com






