Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

[ in English ] [ in English ]

Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1048 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1048 times, 1 today [ in English ]
Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

Guru, Teachers,
sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

Iwan Setiawan Iwan Setiawan

(tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


    - Powered by BING [2012-02-02 04:50] - Powered by BING [2012-02-02 04:50]

    Leave Comment Leave Comment

    You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

    Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
    Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

    Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

    [ in English ] [ in English ]

    Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1059 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1059 times, 1 today [ in English ]
    Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

    tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

    Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

    Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

    Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

    Guru, Teachers,
    sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

    Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

    Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

    Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

    Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

    Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

    Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

    Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

    Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

    Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

    Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

    Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

    Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

    Iwan Setiawan Iwan Setiawan

    (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



    Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


    - Powered by BING [2012-02-10 06:08] - Powered by BING [2012-02-10 06:08]

    Leave Comment Leave Comment

    You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

    Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
    Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

    Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

    [ in English ] [ in English ]

    Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1068 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1068 times, 1 today [ in English ]
    Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

    tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

    Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

    Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

    Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

    Guru, Teachers,
    sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

    Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

    Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

    Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

    Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

    Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

    Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

    Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

    Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

    Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

    Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

    Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

    Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

    Iwan Setiawan Iwan Setiawan

    (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



    Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


      - Powered by BING [2012-02-14 08:46] - Powered by BING [2012-02-14 08:46]

      Leave Comment Leave Comment

      You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

      Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
      Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

      Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

      [ in English ] [ in English ]

      Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1077 times, 3 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1077 times, 3 today [ in English ]
      Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

      tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

      Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

      Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

      Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

      Guru, Teachers,
      sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

      Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

      Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

      Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

      Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

      Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

      Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

      Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

      Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

      Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

      Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

      Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

      Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

      Iwan Setiawan Iwan Setiawan

      (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



      Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


        - Powered by BING [2012-02-18 13:23] - Powered by BING [2012-02-18 13:23]

        Leave Comment Leave Comment

        You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

        Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
        Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

        Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

        [ in English ] [ in English ]

        Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1086 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1086 times, 2 today [ in English ]
        Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

        tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

        Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

        Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

        Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

        Guru, Teachers,
        sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

        Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

        Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

        Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

        Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

        Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

        Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

        Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

        Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

        Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

        Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

        Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

        Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

        Iwan Setiawan Iwan Setiawan

        (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



        Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


          - Powered by BING [2012-02-22 07:41] - Powered by BING [2012-02-22 07:41]

          Leave Comment Leave Comment

          You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

          Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
          Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

          Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

          [ in English ] [ in English ]

          Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1093 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1093 times, 2 today [ in English ]
          Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

          tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

          Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

          Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

          Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

          Guru, Teachers,
          sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

          Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

          Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

          Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

          Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

          Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

          Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

          Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

          Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

          Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

          Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

          Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

          Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

          Iwan Setiawan Iwan Setiawan

          (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



          Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


            - Powered by BING [2012-02-26 10:22] - Powered by BING [2012-02-26 10:22]

            Leave Comment Leave Comment

            You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

            Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
            Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

            Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

            [ in English ] [ in English ]

            Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1102 times, 3 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1102 times, 3 today [ in English ]
            Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

            tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

            Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

            Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

            Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

            Guru, Teachers,
            sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

            Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

            Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

            Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

            Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

            Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

            Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

            Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

            Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

            Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

            Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

            Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

            Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

            Iwan Setiawan Iwan Setiawan

            (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



            Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


              - Powered by BING [2012-03-05 05:56] - Powered by BING [2012-03-05 05:56]

              Leave Comment Leave Comment

              You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

              Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
              Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

              Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

              [ in English ] [ in English ]

              Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1108 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1108 times, 1 today [ in English ]
              Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

              tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

              Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

              Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

              Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

              Guru, Teachers,
              sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

              Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

              Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

              Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

              Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

              Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

              Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

              Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

              Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

              Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

              Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

              Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

              Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

              Iwan Setiawan Iwan Setiawan

              (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



              Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                - Powered by BING [2012-03-09 11:12] - Powered by BING [2012-03-09 11:12]

                Leave Comment Leave Comment

                You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                [ in English ] [ in English ]

                Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1118 times, 6 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1118 times, 6 today [ in English ]
                Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                Guru, Teachers,
                sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                  - Powered by BING [2012-03-13 16:17] - Powered by BING [2012-03-13 16:17]

                  Leave Comment Leave Comment

                  You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                  Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                  Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                  Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                  [ in English ] [ in English ]

                  Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1125 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1125 times, 2 today [ in English ]
                  Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                  tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                  Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                  Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                  Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                  Guru, Teachers,
                  sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                  Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                  Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                  Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                  Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                  Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                  Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                  Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                  Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                  Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                  Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                  Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                  Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                  Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                  (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                  Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                    - Powered by BING [2012-03-17 09:25] - Powered by BING [2012-03-17 09:25]

                    Leave Comment Leave Comment

                    You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                    Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                    Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                    Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                    [ in English ] [ in English ]

                    Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1135 times, 3 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1135 times, 3 today [ in English ]
                    Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                    tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                    Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                    Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                    Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                    Guru, Teachers,
                    sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                    Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                    Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                    Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                    Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                    Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                    Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                    Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                    Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                    Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                    Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                    Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                    Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                    Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                    (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                    Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                      - Powered by BING [2012-03-21 06:35] - Powered by BING [2012-03-21 06:35]

                      Leave Comment Leave Comment

                      You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                      Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                      Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                      Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                      [ in English ] [ in English ]

                      Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1141 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1141 times, 2 today [ in English ]
                      Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                      tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                      Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                      Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                      Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                      Guru, Teachers,
                      sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                      Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                      Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                      Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                      Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                      Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                      Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                      Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                      Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                      Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                      Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                      Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                      Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                      Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                      (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                      Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                        - Powered by BING [2012-03-25 03:57] - Powered by BING [2012-03-25 03:57]

                        Leave Comment Leave Comment

                        You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                        Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                        Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                        Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                        [ in English ] [ in English ]

                        Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1151 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1151 times, 2 today [ in English ]
                        Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                        tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                        Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                        Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                        Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                        Guru, Teachers,
                        sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                        Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                        Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                        Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                        Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                        Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                        Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                        Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                        Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                        Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                        Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                        Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                        Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                        Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                        (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                        Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                          - Powered by BING [2012-04-02 05:57] - Powered by BING [2012-04-02 05:57]

                          Leave Comment Leave Comment

                          You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                          Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                          Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                          Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                          [ in English ] [ in English ]

                          Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1157 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1157 times, 2 today [ in English ]
                          Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                          tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                          Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                          Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                          Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                          Guru, Teachers,
                          sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                          Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                          Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                          Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                          Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                          Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                          Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                          Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                          Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                          Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                          Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                          Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                          Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                          Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                          (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                          Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                            - Powered by BING [2012-04-06 12:50] - Powered by BING [2012-04-06 12:50]

                            Leave Comment Leave Comment

                            You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                            Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                            Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                            Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                            [ in English ] [ in English ]

                            Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1167 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1167 times, 2 today [ in English ]
                            Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                            tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                            Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                            Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                            Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                            Guru, Teachers,
                            sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                            Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                            Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                            Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                            Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                            Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                            Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                            Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                            Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                            Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                            Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                            Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                            Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                            Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                            (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                            Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                              - Powered by BING [2012-04-10 09:31] - Powered by BING [2012-04-10 09:31]

                              Leave Comment Leave Comment

                              You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                              Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                              Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                              Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                              [ in English ] [ in English ]

                              Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1172 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1172 times, 1 today [ in English ]
                              Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                              tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                              Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which usually sweltering heat and stinging rain today. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                              Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                              Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                              Guru, Teachers,
                              sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                              Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but it is they who gave us love life and the lives of our heroes.

                              Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                              Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                              Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                              Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                              Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                              Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                              Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                              Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                              Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                              Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                              Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                              Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                              (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                              Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                                - Powered by BING [2012-04-18 02:17] - Powered by BING [2012-04-18 02:17]

                                Leave Comment Leave Comment

                                You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                                Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                                Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                                Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                                [ in English ] [ in English ]

                                Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1188 times, 3 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1188 times, 3 today [ in English ]
                                Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                                tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                                Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                                Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                                Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                                Guru, Teachers,
                                sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                                Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                                Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                                Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                                Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                                Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                                Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                                Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                                Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                                Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                                Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                                Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                                Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                                Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                                (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                                Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                                  - Powered by BING [2012-04-27 22:35] - Powered by BING [2012-04-27 22:35]

                                  Leave Comment Leave Comment

                                  You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                                  Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                                  Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                                  Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                                  [ in English ] [ in English ]

                                  Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1194 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1194 times, 1 today [ in English ]
                                  Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                                  tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                                  Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                                  Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                                  Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                                  Guru, Teachers,
                                  sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                                  Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                                  Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                                  Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                                  Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                                  Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                                  Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                                  Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                                  Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                                  Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                                  Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                                  Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                                  Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                                  Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                                  (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                                  Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                                    - Powered by BING [2012-05-01 18:05] - Powered by BING [2012-05-01 18:05]

                                    Leave Comment Leave Comment

                                    You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                                    Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                                    Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                                    Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                                    [ in English ] [ in English ]

                                    Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1202 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1202 times, 1 today [ in English ]
                                    Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                                    tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                                    Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                                    Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                                    Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                                    Guru, Teachers,
                                    sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                                    Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                                    Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                                    Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                                    Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                                    Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                                    Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                                    Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                                    Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                                    Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                                    Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material? Tentu saja tidak. Of course not. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Will we still be able to hear, see or even mempelari if the warriors, teachers, successors and heirs are not willing to defend and maintain it? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Or at least they did not want to give it. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. How miserable we are when one by one the valuable cultural treasures are lost. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. And be a sad thing when our nation is known as a cultured nation is losing its own cultural product because of reluctance we appreciate the effort he had made. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar. Or do we have the heart to his death at the hands of our own because of "forced" to grow more blooms.

                                    Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. It is not an impossible thing if his hero pinned on their chest hard to maintain, preserve and even develop a martial art with a long time. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. And this is exactly what the country owes to the recording. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya. Then it is appropriate that the title Hero of Tradition and Cultural Ancestral Guardians give her.

                                    Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi. Takzimku greetings to all warriors, teachers, the successor and heir to the various schools of martial arts martial arts that keep the earth sustainable.

                                    Iwan Setiawan Iwan Setiawan

                                    (tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O'ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) (This paper as well as denied a thought "my brother" O'ong Maryono the two meetings above)



                                    Artikel Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan yang 'mungkin' berkaitan di situs lain: Opinion article "Pencak Silat" My Own Hero is 'probably' related to the other sites:


                                      - Powered by BING [2012-05-09 01:40] - Powered by BING [2012-05-09 01:40]

                                      Leave Comment Leave Comment

                                      You must be logged in to post a comment. You must be logged in to post a comment.

                                      Opinion "Pencak Silat" My Own Hero - Silat Indonesia
                                      Silat Indonesia - Auto Translate by Google Translate - Original URL

                                      Opini “Pencak Silat”ku Tentang Pahlawan. Opinion "Pencak Silat" My Own Hero.

                                      [ in English ] [ in English ]

                                      Aug 17th, 2009 | By | Category: Artikel Silat Visited 1210 times, 2 today [ in English ] Aug 17th, 2009 | By | Category: Articles Silat Visited 1210 times, 2 today [ in English ]
                                      Social Buttons by Linksku Social Buttons by Linksku

                                      tulisan : Iwan Setiawan posts: Iwan Setiawan

                                      Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Today the exact date of August 17, 2009, which is a sacred day for the people of Indonesia's historic moment that even 64 years old. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Do not usually stay at my place during the day which is usually scorching hot and stinging, today it rained. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Not very heavy indeed, like a little boy sobs that just simply wet eyes and cheeks. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? My wild imagination sometimes make sense of rationality is to laugh at ourselves, whether the motherland is bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Or our motherland sobbing child looking at the behavior of rogue nation? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini. Ah, what kind of stupid mind, the mind is finally able to break the ridiculousness of the imagination the space is already often menggayuti this realm.

                                      Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Today we commemorate our nation's independence, although the founders and heroes never promised anything in his fight, but at least implied that they leave the message is quite heavy and deep. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga merdeka bagi sebahagian anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. They just "dare" to deliver this to the people of Indonesia at the gates of liberty, so freedom for the children of this nation sebahagian not feel there is not even feel it at all. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? So blame the heroes and the founders of this country? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Not me at all, independence is not something that should be administered and awarded by the heroes and even the founders of this country, I think the layman's word is the sense of freedom contains the basic beginning of any attempt at achieving optimal personal / private that remain will be felt and perceived by the private itself. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. So if anyone has not felt free to say yes it is her right, because it felt and feels that his efforts are not comparable with the imagined. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. So it is good in this historic day when there ang still do not feel free, then merdekakanlah yourself with any attempt to limit capabilities. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu… Because if efforts have been made then the result is part of our lives waiting ...

                                      Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. If talk of independence is not lost on us also talk about the hero and his actions. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Sometimes I often wonder, after 64 years of independence and who the heroes of our future? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? One by one witness to history and the actors of history has left us forever, if after 10-20 years' time when we commemorate the independence of this nation we will only be looking at photographs and paintings of those who have nothing "only" be a hero? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Once we free our hero who is next? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Since childhood we lulled by the hero's own sense of truth there are many heroes all around us, they are hidden behind the guise of a bandage and a name we put in a position of powerlessness that is noble and honorable. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah ! When we are indifferent to environmental hygiene and casually throw trash into every corner of the city, then we ignore the noble values ​​that have upheld the religion and has been recognized by the developed countries that once made us invaders who also put the "hero" who maintain the cleanliness of the fall into the lower depths of the abyss with the title: a garbage man!

                                      Guru, Teachers,
                                      sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. since our primary school we used to know as the unsung heroes, and it also became a symbol of the teacher's own identity. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru…!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Moreover we are also taught the song / hymn about the teachers who are the unsung heroes, so if now we are asked by our children's unsung heroes who, without feeling guilty then we say, "Teacher ...!". Indeed an irony that until we become food for thought. Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi 'pahlawan' kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul. Not to mention the other heroes, such as farmers until we know is true even though the country is an agricultural country but the 'hero' us miserable corner of the fingers and hands of the moneylenders pengijon collectors and dealers.

                                      Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Not to mention that we are close to the parents. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita. A hero can not touch it, but they who gave us love life and the lives of our heroes.

                                      Lalu bagaimana dengan pencak silat? And what about the martial arts?

                                      Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. When I and my friends martial arts in a 3-year anniversary event and Conservation Lovers Forum traditionally Silat Indonesia August 15, 2009 at the National Padepokan Pencak Silat Indonesia and meeting leaders maenpo Cianjur dated August 16, 2009 in Cianjur ago, talking about how the martial arts to front. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka. Personally I was very amazed when one of the speakers in a casual conversation described how martial arts spread to various countries, and many of them became confused and translated with personal thoughts notabenenya carrier is not a child of this country, then firmly and ask the speaker explained that it would be nice elders, warriors and martial arts coaches to train foreigners premises all seriousness and no half-measures that martial arts would not be ambiguous in their hands.

                                      Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Initially I felt it a good enough solution, but upon examination, more fundamentally, this really is a matter that did not appreciate the value of the long-held tradition. Mengapa? Why? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Teach it is the right perogatif of streams and college teachers so crammed with ideas must be given all the systematic intimidation which eliminates the element of choice of martial arts of life and devotion to the order value. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur? If we reverse the logic of his thinking, giving half to be true and just are not inconsequential, is there to give a full guarantee if not going to be much more inconsequential?

                                      Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Pencak silat is a local cultural tradition of this nation is based on understanding the local culture, it is good to give a half in hopes of keeping the value of which only half is a matter that is not as heavy as a fully maintain, but a big question mark if the half we give and Leave a chaotic and confused how if given the full? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya? The question is interesting if we look back, how a teacher of martial arts to keep strong and sturdy structure of tradition values ​​(although now we lost a lot of them) are still left to him and keep well for decades, and the hope of "unity "martial arts are taught entirely out with a short time, whether we have the heart" jewel "that is maintained by the trickle of sweat and a very long turnaround time was taken as a souvenir in the shops without considering the value of fighting that has been done?

                                      Mereka Juga Pahlawan !!! Also they are heroes!

                                      Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Some good teachers I've ever met who has lived up to everything that is still very young when he was asked to have a statement expressing studying martial arts is a difficult achievement which also boasts of effort and thought that the business does not take a minute. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Fruit of their diligence that we can see and enjoy. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Until now we can still see what it Cimande, Cikalong, Roll, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Motion Sense, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Tiger, Lintau, Sitaralak, and other arts. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama. So delicious and easy we see sometimes makes us forget how difficult it is to keep all of them within a period of time.

                                      Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. It's not a fair and reasonable if we ask for but want to have all of what they have learned the warriors, the successor and heir to the flow of martial arts or college without considering how hard they are to maintain and keep the trust of the noble traditions of the actual value at all to ignore in the process of achieving the results that they already have. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. It is a moral obligation for us to return and reverse the logic of our thinking in this regard. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. If we want the integrity of both of the order of motion, meaning the motion system, rule until the philosophy of martial arts themselves awake out there then the whole thing to do is not to ask for the warriors, teachers, coaches and the heir or successor to provide everything that belongs to flow with time is much shorter. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. But thinking back on the basis of each individual candidate fighters both in and outside the country that studying the martial arts is a lesson that not only the science of Bik tub thump (fighting and martial arts) alone, but is a complex arrangement that covers a wide range of aspects to the use of thinking we too should follow the lead of the person or think with the local community where the flow originated and grew. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. If we continue to use our minds as other ethnic groups while what we have learned is the wealth of a particular ethnic culture, it is not acquired what became the benchmark for etns the desire or achievement. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. When we study the flow of martial arts / maen but we always blow Betawi "polarize" the logic of our thinking as the Sundanese (eg) the integrity of the arts he had learned was not reached. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? So what if this happened in another country boy? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? What if one of Europe continue to use the patterns of thought in the study of martial arts, but ruled out the mindset of the Betawi people? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Then we will experience what is called the translation of cultural mindset with a personal standpoint, and that will happen is a lot of "at will I" and "wishes me to improvise" in translating the actual workshop cultural products is not yet understood and did not even understand. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Then it would be much better to maintain the integrity of the martial art itself is to instill the notion that mempejarinya alignment is a necessity as the origin of the flow of thought patterns that exist and thrive. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya….. Meanwhile, to provide scientific issue that we return to the teacher who (we also have to appreciate the full power holders) give, up to how many .....

                                      Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Keberhati attention martial arts teacher who sometimes just give a party of his knowledge wisely should we view it as a test message to the students lived. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang. Until, when he had a few can be kept intact and maintained is not an impossible thing if it will have a whole what the teacher will be provided with a sincere heart and airy.

                                      Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. So long the warriors, teachers, the successor and heir to the flow of a variety of martial arts defend and maintain the scientific-owned (not counting this expenditure meteri they know!), So is not an impossible if they do not learn in advance what we call the now as a stream of martial arts is a distant memory and the only stories we might hear in a conversation pastime. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Can we measure their devotion to the material?