Tidak Ada Standar Jurus Silat. Standard No Jutsu Silat.
[ in English ] [ in Bahasa ]Aug 26th, 2009 | By admin | Category: Artikel Silat Visited 1107 times, 2 today [ in English ] Aug 26th, 2009 | By admin | Category: Articles Silat Visited 1107 times, 2 today [ in Bahasa ]
Tidak Ada Standar Jurus Silat Standard No Jutsu Silat
Bandung, Kompas – Pengembangan dan apresiasi terhadap jurus-jurus pencak silat tradisional masih sangat kurang. Jakarta, Kompas - The development and appreciation of the moves of traditional martial arts is still lacking. Saat ini, bisa dihitung dengan jari jumlah pesilat yang benar-benar menekuni dan mewarisi jurus pencak silat tradisional. At present, could be counted on the fingers the number of fighters who really pursue and inherit the traditional martial arts stance. Lagi pula jurus tradisional kini cenderung beralih ke sisi jurus silat prestasi. Besides the traditional stance has tended to turn to the martial arts stance achievement.
Beberapa pelatih pencak silat yang ditemui dalam Sirkuit Pencak Silat Panasonic Tahun 2006 Wilayah III yang berlangsung di Gedung Olahraga Pajajaran, Selasa (28/3) menyatakan, jurus-jurus silat tradisi sudah tergusur oleh silat prestasi. Some martial arts coaches encountered in Pencak Silat Circuit Panasonic Region III of 2006 which took place in Building Pajajaran Sports, Tuesday (28 / 3) stated, moves martial arts tradition has been supplanted by the achievement.
Ditemui di sela-sela pertandingan, pelatih Tim Pencak Silat Jawa Barat Syakera Pujasmedi mengatakan, pada dasarnya seluruh perguruan pencak silat mengajarkan jurus-jurus tradisional sebagai dasar bagi anak didik. Met at the sidelines of the game, coach Tim Pencak Silat West Java Syakera Pujasmedi said, basically all universities teach martial arts moves as the basis for traditional students. Namun, kelanjutannya ter serah kepada anak didik untuk memilih, apakah akan menjadi atlet, berlatih terus-menerus atau memang benar-benar menggeluti jurus tradisional. However, the sequel was handed over to the students to choose whether to become athletes, practicing continuous or indeed to cultivate the traditional stance.
Syakera menjelaskan, saat memasuki sebuah perguruan, seorang anak didik mendapatkan penjelasan yang mendalam mengenai sejarah dan filosofi pencak silat, termasuk filosofi sebuah gerakan pencak silat. Syakera explained, upon entering a college, a protege to get an in-depth explanation of the history and philosophy of martial arts, including philosophy of a martial arts movements.
Ada empat aspek dalam olahraga ini, yaitu mental spiritual, olahraga, seni (tradisi) dan bela diri. There are four aspects to this sport, the mental, spiritual, sports, arts (tradition) and martial arts. Itu yang diajarkan oleh tiap perguruan, ujarnya. It is taught by each college, he said. Keempatnya diajarkan di awal-awal masa perkenalan terhadap perguruan. The four were taught in the early period of introduction to the college.
Nantinya, lanjut guru di Paguron (perguruan) Pencak Silat Tadjimalela ini, mereka akan memilih sendiri salah satu aspek yang ingin dikembangkan. Later, more teachers in paguron (college) Pencak Silat Tadjimalela this, they will choose one aspect to be developed.
Syakera mengakui kalau perguruan tempat dia mengajar memang mengajarkan jurus-jurus untuk olahraga dan bela diri, bukan untuk seni. Syakera admit that college where he taught was taught the moves to sports and martial arts, not for art.
Jarang ada yang tertarik dengan jurus tradisi. There is rarely a moment interested in tradition. Sebab, pesilat mempertunjukkannya diiringi musik, ujarnya. Therefore, the fighters share them with music, he said.
Soal standardisasi Problem of standardization
Kepala Bidang Organisasi Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia Jabar Dede Iman Nurgana mengakui, sejak tergabung dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia, pencak silat menjadi satu cabang olahraga prestasi. Head of Regional Management Organizations Association of Pencak Silat Indonesia West Java Dede Faith Nurgana admit, since members of the Indonesian National Sports Committee, martial arts became a sport achievement. Jadi, keluarannya adalah prestasi, bukan seni, ujarnya. Thus, the output is achievement, not art, he said.
Pelatih Tim Jabar ini menyatakan, standardisasi gerakan pencak silat sebenarnya ada. Team Coach Jabar stated, the standardization of martial arts movement is actually there. Namun, standardisasi itu hanya berlaku untuk nomor tunggal, ganda dan beregu. However, standardization is only valid for singles, doubles and teams. Mereka, seperti layaknya nomor kata di karate, memamerkan keserasian gerakan. They, like the number words in karate, showing the harmony of movement. Sedangkan untuk olahraga prestasi, tidak ada standar tertentu. As for sports achievements, there is no specific standard. Tergantung filosofi dan tujuan masing-masing perguruan, ujar suami atlet Jabar Ika Lesmana Rasyid ini. Depending on the philosophy and goals of each university, said her husband athletes Jabar Rashid Ika Lesmana this.
Dede, yang tergabung dalam Perguruan Satria Muda Indonesia, Bandung, mengaku kalau di perguruannya hanya ada satu orang anak didik yang menekuni jurus silat tradisi. Dede, who joined the University Satria Muda Indonesia, Bandung, admitted that the there is only one person perguruannya students who pursue traditional martial arts stance. Usianya pun masih muda. He was still young. Kalau yang sudah tua, sudah tidak begitu banyak. If it is old, it's not so much. Usianya tidak begitu mendukung lagi, katanya. He was not so supportive anymore, he said.
Mantan anggota Tim Nasional Pencak Silat Sea Games XX Brunei Darussalam Joko Suprihatno mengatakan, para pesilat senior yang memang benar-benar menguasai jurus tradisional hanya memperlihatkan jurus-jurus itu kala ada festival tradisional saja. Former National Team member Pencak Silat XX SEA Games Brunei Darussalam Suprihatno Joko said the senior fighters who really mastered the traditional stance moves only show it when there is a traditional festival only. Padahal, tidak setiap saat festival itu dilangsungkan. Yet, not every time the festival was held. Akibatnya, banyak pesilat muda yang memang tidak mengenal jurus-jurus dasar pencak silat tradisional yang entah berapa banyaknya. As a result, many young fighters who are not familiar with the basic moves of traditional martial arts who knows how many.
Malaysia sering menyelenggarakan. Malaysia is often held. Indonesia, jarang. Indonesia, rarely. Ditambah lagi, pesilat luar negeri belajar pencak silat untuk olahraga prestasi dan jarang belajar untuk seni, kata Joko menegaskan. Plus, foreign fighters learn martial arts to sports achievements and rarely learn to art, said Joko affirm. (mhd) (MHD)
Sumbwer kompas.co.id Sumbwer kompas.co.id
www.silatindonesia.com www.silatindonesia.com






