Tubagus Bambang Sudrajat Penerus Ilmu Silat Asli Betawi. Tubagus Bambang Sudrajat Successor Original Science Silat Betawi.
[ in English ] [ in Bahasa ]Aug 20th, 2009 | By admin | Category: Aliran Silat , Sahabat Silat Visited 1075 times, 1 today [ in English ] Aug 20th, 2009 | By admin | Category: Flow Silat , Silat Friend Visited 1075 times, 1 today [ in Bahasa ]
Seorang pria mengayunkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk melukai pria lain di hadapannya. A man swinging a machete in his hand with a vengeance, trying to injure another man in front of him. Tiba-tiba, sebelum mata sempat melihat dengan seksama, si pria pemegang golok malah jatuh tersungkur akibat terkena tangkisan lawannya. Suddenly, before the eye could see carefully, the man holding a machete instead fell down due to exposure to parry his opponent.
Aksi di atas hanyalah latihan yang dilakukan di aula Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, beberapa waktu lalu. Action above is just exercise performed in the hall Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, some time ago. Dan pria yang berhasil menghela serangan tadi tak lain adalah Tubagus Bambang Sudrajat, guru besar silat asli dari Betawi. And the man who managed to haul the attack was none other than the Tubagus Bambang Sudrajat, professor of martial arts native of Batavia.
”Cingkrik goning adalah aliran silat yang mengandalkan kecepatan. "Cingkrik goning is a martial art that relies on the flow velocity. Tidak ada hitungan satu, dua, tiga seperti bela diri lain. There is no count of one, two, three like other martial arts. Yang ada hanya hitungan satu, dan lawan sudah harus jatuh,” ujar Bambang, menjelaskan seputar ilmu silat cingkring goning yang ditekuninya. There was only a matter of one, and opponents have had to fall, "Bambang said, explaining about the martial arts cingkring goning ditekuninya.
Ruangan terbuka seluas 10×10 meter persegi, yang letaknya di dalam kompleks padepokan silat TMII itu, setiap Sabtu pagi diramaikan oleh para pecinta silat. Open space area of 10 × 10 square meters, which is located in TMII complex martial arts hermitage, every Saturday morning enlivened by the lovers of martial arts. Ada para peserta cingkrik goning yang sedang berlatih, anggota forum silat yang asyik mengobrol, bahkan para pengemar silat lainnya yang hanya datang untuk menonton atau berbagi cerita. There are goning Cingkrik participants who were practicing, martial arts forum members who were chatting, and even the other arts pengemar just come to watch or share stories.
”Disini memang pusat latihan cingkrik goning, maka semua orang bisa mencari kami disini setiap Sabtu,” sahut Bambang. "Here's goning Cingkrik training center, then everyone can find us here every Saturday," said Bambang.
Wasiat Will
Nama cingkrik tercetus karena beberapa gerakan utama dalam silat ini menggunakan satu kaki untuk berlompatan. Name Cingkrik blaze since some major movement in this martial arts for hopping on one leg. Nah, lantaran orang Betawi biasa menyebutnya jejingkrikan, maka silat ini kemudian disebut jingkrik atau cingkrik. Well, because people used to call jejingkrikan Betawi, it is then called jingkrik silat or Cingkrik.
Dalam perjalanannya, cingkrik kemudian terbagi dua, menjadi cingkrik sinan dan cingkrik goning. In his journey, Cingkrik then split in two, into dozens and Cingkrik Cingkrik goning. Perbedaan yang paling mencolok dalam duo cingkrik ini adalah, dalam cingkrik sinan, setiap 'permainan' menggunakan tenaga dalam atau tenaga gaib. The most striking difference in Cingkrik this duo is, in Cingkrik dozens, each 'game' using the power or supernatural force.
”Sementara cingkrik goning merupakan silat yang murni menggunakan teknik fisik semata,” tambah Bambang. "While Cingkrik goning is a pure martial art that uses physical techniques alone," Bambang added.
Seseorang bernama Ainin bin Urim yang biasa dipanggil Engkong Goning-lah yang mendiirikan aliran ini. Someone named Ainin son who was called Urim Engkong Goning who mendiirikan this genre. Orang yang lahir di 1895 dan wafat pada 1975 ini mengajarkan ilmu silat goning di Rawa Belong, Kebon Jeruk dan Jembatan Dua. People born in 1895 and died in 1975 has taught martial arts goning in Rawa Belong, Kebon Orange and Bridge Two. ”Tidak ada yang tahu dari mana Engkong Goning mendapatkan ilmunya,” kata Bambang. "Nobody knows where Engkong Goning get their knowledge," said Bambang.
Ilmu cingkrik ini, menurut Bambang, ia dapatkan dari salah satu murid Engkong Goning, Usup Utai, yang juga mertuanya. Cingkrik science, according to Bambang, she got from one of the disciples Engkong Goning, Usup Uthai, who is also in-law. Sambil menyender dengan santai, Bambang mengenang wasiat terakhir Usup Utai sebelum meninggal di tahun 1993. While leaning casually, Bambang Usup Uthai recalled last testament before his death in 1993.
”Saya dipanggil dan diberikan pesan untuk melanjutkan ilmu silat ini, Usup Utai berkata agar silat ini jangan sampai mati obor,” katanya. "I called and given the message to continue with this martial arts, martial arts Usup Uthai said that the torch is not to die," he said.
Dijelaskan, untuk menguasai ilmu warisan leluhur ini, seseorang harus menguasai empat tahapan. Described, to master the science of this heritage, one must master the four stages. Tahap pertama yaitu menguasai 12 jurus dasar cingkrik goning. The first stage is to master 12 basic steps Cingkrik goning. Kedua, belajar sambut, ketiga mempelajari aplikasi dari 12 jurus dasar yaitu 80 bantingan khas cingkrik goning, dan yang terakhir adalah jual beli atau sparring . Second, learn to welcome, the third study the application of the 12 basic steps of 80 Cingkrik goning typical dings, and the last is the sale and purchase or sparring.
Keahlian bela diri ini menjadi menarik karena diidentikan dengan kisah Bang Pitung, seorang tokoh jagoan Betawi tempo dulu. Martial arts expertise to be interesting because it is identified with the story Pitung Bang, a prominent champion Betawi past. Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan yang mengandalkan kelenturan dan kecepatan. Coupled with the movements that rely on flexibility and speed.
”Kebutuhan untuk membela diri sekarang ini cukup tinggi, karena maraknya kejahatan di tengah-tengah kita,” kata Bambang. "The need for self-defense is pretty high right now, because of rampant crime in our midst," said Bambang.
Seperti bela diri lainnya, cingkrik goning juga mengaplikasi sistem tingkatan, yang tertinggi adalah saat seorang pesilat mendapatkan sabuk merah dengan lima strip. Like other martial arts, Cingkrik goning also apply the system level, the highest is when a fighter get a red belt with five strips. Untuk mencapai tingkatan tersebut memakan waktu maksimal 7 tahun. To achieve these levels take a maximum of 7 years. Bambang sendiri belajar sejak usianya masih 11 tahun, dan mulai mengajarkan ilmu warisan leluhur ini di usia 30 hingga kini di usianya yang sudah 54 tahun. Bambang had learned since the age of 11 years, and began to teach the science of this heritage at the age of 30 until now at the age of 54 years.
Kendala SDM Human Resource Constraints
Kehidupannya sehari-hari pun disibukkan dengan menurunkan ilmu warisan ini di berbagai tempat. His daily life was occupied with these legacy lowers science in various places. ”Padepokan silat TMII, Pondok Cabe, Ponpes Darul Ikhsan dan Darul Hikam, serta berbagai tempat yang meminta pengajaran privat,” ujarnya sambil tersenyum. "Padepokan silat TMII, Pondok Cabe, Ponpes Ikhsan and Darul Darul Hikam, and various places that ask for private teaching," he said with a smile.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti cingkrik goning di Padepokan Silat TMII adalah Rp 20 ribu setiap kali datang, dengan frekuensi latihan satu kali seminggu. The cost to attend Cingkrik goning on Padepokan Silat TMII is $ 20 thousand each time coming, with the frequency of exercise once a week. Sedangkan untuk latihan di Candradimuka Martial Art adalah sebesar Rp 200 ribu per bulan dan kelas privat di rumah peserta, seseorang harus merogoh kocek sebanyak Rp 500.000 per bulan, untuk dua jam latihan setiap sepekan sekali. As for the exercises in Candradimuka Martial Art is Rp 200 thousand per month and private classes at home participant, someone had to spend as much as Rp 500,000 per month, for two hours of exercise per week at all.
”Sebenarnya guru silat enggan memungut bayaran, karena tujuan kami adalah menurunkan ilmu agar tidak punah di kemudian hari,” tandasnya. "Actually, arts teachers are reluctant to charge a fee, because our goal is to reduce the science that is not extinct in the future," he said. Namun, bagaimana pun, mereka tetap membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari karena tidak ada pihak yang bisa menjamin kesejahteraan seorang pahlawan pelestari kebudayaan. Yet, somehow, they still need to charge everyday life because no party can guarantee the welfare of a culture hero conservers.
Untuk tetap melestarikan seni bela diri versi lokal ini, Bambang mengaku mengalami banyak kesulitan, salah satunya adalah sumber daya manusia. To continue preserving local martial arts version of this, Bambang admitted experiencing many difficulties, one of which is human resources. Diungkapkan bahwa hingga kini anggotanya hanya berjumlah kurang dari 50 orang. Disclosed that until now were only comprise less than 50 people. ”Malah yang berhasil mencapai tingkatan tertinggi baru dua orang, mereka saya jadikan asisten,” katanya. "In fact, who reached the highest levels of only two people, they made me an assistant," he said. Maka dalam rangka menyosialisasikan cingkrik goning, Bambang bergabung dalam FP2STI. So in order to socialize Cingkrik goning, Bambang joined in FP2STI.
Dia juga berharap, pemerintah lebih memerhatikan keberlangsungan cingkrik goning yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan visit Indonesia ini. He also hopes the government paid more attention to sustainability Cingkrik goning that can be utilized to support the activities of this visit Indonesia. ”Sebenarnya kami juga berminat untuk melatih aparat keamanan Negara, namun ya itu tadi masalahnya, kami kekurangan tenaga pengajar yang kompeten,” tambah pria kelahiran Bengkulu ini. "Actually we are also interested to train the State security forces, but yes it was the problem, our lack of competent teachers," added the man born in Bengkulu.
Hingga kini, usia tua bagi Bambang bukan hambatan untuk terus melatih dan menurunkan ilmu warisan dari gurunya. Until now, old age for Bambang not impediments to continue to train and down the science legacy of his teacher. Demi satu tujuan, ”Agar cingkrik goning, sebagai salah satu kebudayaan tradisional Indonesia tidak musnah dimakan jaman,” katanya. For one purpose, "To be Cingkrik goning, as one of Indonesia's traditional culture is not destroyed by time," he said. c88 C88
http://www.republika.co.id/koran/14/12749.html http://www.republika.co.id/koran/14/12749.html






