Membalas Secepat Kilat. Quick as Lightning reply.
[ in English ] [ in English ]Dec 3rd, 2009 | By admin | Category: Aliran Silat Visited 1890 times, 2 today [ in English ] Dec 3rd, 2009 | By admin | Category: Flow Silat Visited 1890 times, 2 today [ in English ]
Edisi : Minggu, 25 Maret 2007 Issue: Sunday, March 25, 2007
Sumber : Koran Tempo (Amal Ihsan) Source: Koran Tempo (Ihsan Charity)
Membalas Secepat Kilat Quick reply soon as
Sebuah pukulan datang dengan cepat. A blow came quickly. Mengarah ke muka. Leads to the face. Tapi tangan lelaki setengah baya itu dengan tenang menepisnya. But the hands of middle-aged man calmly brushed it off. Serangan kedua datang menyusul. The second attack came after. Lagi-lagi bisa ia mentahkan. Again he could mentahkan. Bersamaan tangan kanannya ganti menyerang. Alongside his right hand instead of attacking. Kaki lawan dikunci. Opponent's legs locked. Si penyerang pun terlempar. The attacker was thrown.
Melihat jurusnya, sungguh pas nama yang disematkan pada aliran ini: Si Kilat. See jurusnya, really fitting name pinned on this flow: The Lightning. Nama itu memang diambil dari karakter gerak pukulan yang secepat kilat. That name was taken from the character of motion of the lightning stroke. Aliran yang satu ini memang mengandalkan kecepatan tangan, kata Ibrahim bin M. The flow of this one was relying on sleight of hand, says bin Ibrahim M. Rosyad, ahli waris silat Si Kilat. Rosyad, heirs silat The Lightning.
Kakek Ibrahim, Saprin (1911-1991), adalah orang yang menurunkan ilmu ini. Grandfather Ibrahim, Saprin (1911-1991), was a decrease of this science. Ketika itu, Ibrahim kecil belajar dari sang kakek yang tinggal tidak jauh dari rumahnya di daerah Kebon Baru. At that time, a small Ibrahim learned from his grandfather, who lived not far from his home in New Kebon. Selain itu, ia juga belajar Gerak Rasa dari ayahnya, M. In addition, he also learned from his father's sense of motion, M. Rosyad, dan Si Pecut dari Bang Utama. Rosyad, and Si whip of the Main Bang.
Ibrahim lantas mencoba menggabungkan seluruh ilmu yang dikuasainya. Ibrahim then try to incorporate the whole of their control. Ia mencoba metodologi pengajaran yang baru. He tried new teaching methodologies. Misalnya ia langsung mengajarkan isi atau kunci jurus setelah mengajarkan kembangnya. For example, he immediately moves to teach content and key after the teaching and development. Jadi begitu belajar jurus satu, langsung diteruskan latihan berpasangan atau sparring, katanya. So that's a learning moment, straight forward training or sparring partner, he said.
Tapi Ibrahim mempertahankan gerak Si Kilat yang asli di jurus yang terakhir. But Ibrahim The Lightning retain the original motion at the last moment. Walaupun karakter aliran ini adalah bertahan, menyerang balik justru menjadi inti ajarannya. Although this flow is the last character, hit back at precisely the core of his teachings. Begitu lawan menyerang, langsung kita balas dengan cepat dan keras, katanya. As soon as your opponent strikes, our immediate reply with a quick and hard, he said.
Serangan lawan hanya ditangkis seperlunya. Opponent's attack is only deflected as necessary. Yang ditekankan justru adalah melakukan serangan balasan dengan beruntun sehingga tidak memberi kesempatan kepada lawan. The emphasis instead is retaliating with a row that do not give chance to the opponent. Diserang satu, dibalas tiga, ujar Sahroni, anak Ibrahim. Attacked by one, returned three, said Sahroni, son of Abraham.
Ciri lainnya adalah kuda-kuda yang menyandarkan kekuatan di satu kaki. Another characteristic is the horses are resting on one leg strength. Tujuannya adalah memancing lawan dan agar serangan ke kaki tidak menggoyahkan kuda-kuda, kata Ibrahim, yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu. The aim is to provoke and attack the opponent's legs do not shake the horses, says Ibrahim, who works as a carpenter building.
Ibrahim sempat meneruskan ikhtiar kakek dan ayahnya mengembangkan aliran ini hingga ke beberapa wilayah, seperti Bekasi, Tomang, dan Kali Malang. Abraham was the grandfather and his father continued efforts to develop this flow up into several areas, such as Jakarta, Tomang, and the Kali Malang. Selama itu, ia beberapa kali dijajal oleh beberapa orang. During that time, he was several times tested by several people. Alhamdulillah, saya masih dilindungi Allah, katanya merendah. Alhamdulillah, I was protected by God, he says modestly. Semua yang ingin mencoba itu bisa saya kalahkan. All who want to try that I can beat.
Tapi, sedikit demi sedikit, murid di beberapa tempat berkurang sehingga sekarang hanya tersisa di Kebon Baru. But, little by little, students in some places is reduced so that now the only remaining New Kebon. Yang di sini pun terkendala masalah tidak adanya tempat latihan, ujarnya. That here was no problem plagued the gym, he said.
Untuk melestarikan ilmu silatnya, Ibrahim membentuk kelompok kesenian Batavia Group, yang menyewakan jasa pertunjukan pencak silat untuk hajatan. To preserve silatnya science, Ibrahim forming arts groups Batavia Group, which lease services for celebration of martial arts performances. Terutama untuk acara pengantenan, Buka Palang Pintu, dan Sambut Dandang, katanya. Especially for the event pengantenan, Open Doors Cross, and welcomes Dandang, he said. AMAL IHSAN AMAL IHSAN
www.silatindonesia.com www.silatindonesia.com






