Gelanggang Siliah Baganti. Siliah Baganti arena.
[ in English ] [ in Bahasa ]Apr 22nd, 2010 | By rasyid.aj | Category: Cover Story , Liputan Khusus , Sahabat Silat Visited 924 times, 2 today [ in English ] April 22nd, 2010 | By rasyid.aj | Category: Cover Story , Special Reports , Friends of Silat Visited 924 times, 2 today [ in Bahasa ]
Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Batu Sangkar terbayar lunas oleh indah nya pemandangan alam Sumatera Barat dan sajian festival silek Minang dalam acara Gelanggang Siliah Baganti dan aneka kuliner (ini terjadi keesokan hari nya) A pretty exhausting trip from Jakarta to the Stone Cage paid for by its beautiful natural scenery of West Sumatra and serving silek Minang festival in the show arena and a variety of culinary Siliah Baganti (this happened the next day her)
Kedatangan dan Hari Pertama Arrival and First Day
Kami berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng kurang lebih pukul 15.30 dari jadwal penerbangan pukul 13.15 dan harus puas dengan hanya permintaan maaf karena penerbangan yang tertunda. We depart from the airport Sukarno-Hatta Cengkareng more or less of scheduled flights at 15.30 at 13.15 and must be content with only an apology for a delayed flight. Saya, Kang Ujang, Uda Aslim Nurhasan, Pak Sudirman Yan beserta Istri tiba di Bandara Padang satu setengah jam kemudian. I, Kang Ujang, Uda Aslim Nurhasan, Mr. Sudirman Yan and wife arrived at Padang airport a half hour later. Tujuan pertama adalah mencari rumah makan. The first objective is to find a restaurant.
Perjalanan menuju Batu Sangkar dilanjutkan dengan mobil yang langsung “disopiri” oleh Uda Aslim dengan rute melalui Lembah Anai, menjelang malam tiba diringi gerimis yang makin menderas. Travel to the Stone Cage continued with a straight car "driven" by Uda Aslim with the route via Anai Valley, arriving early evening drizzle that increasingly lacks poured.
Gelap nya malam dan tikungan-tikungan tajam serasa jalanan benderang, lurus dan lengang bagi “sang sopir”. His dark night and seemed sharp corners lit streets, straight and deserted for "the driver". Hanya saja mendekati Lembah Anai hambatan pertama mulai ditemui, LONGSOR, yang rupanya sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Anai Valley is only just approaching the first obstacle encountered beginning, Avalanche, which apparently has happened a few days ago. Ada tiga titik longsor, tapi kami sepakat meneruskan perjalanan. There are three-point landslide, but we agreed to continue the journey. Titik pertama kami lewati, titik kedua kami berhenti. The first point we passed, the second point we stopped. Pemandangan indah sekaligus membuat hati miris, air terjun dipinggir jalan menderas dengan ganas, guyuran air berwarna coklat bercampur tanah menciprat sampai ke tengah jalan menciptakan tirai kabut air. Beautiful scenery and make the heart sad, roadside waterfalls poured with malignant, mixed with a splash of brown water splashing soil up to the middle of the road creates a curtain of water mist. Kami terpaksa berhenti. We were forced to stop. Ternyata baru saja kembali terjadi longsor antara titik kedua dan ketiga. Apparently just returned landslides occurred between the second and third points. Uda Aslim yang asli Batu Sangkar memutuskan untuk berputar dan menuju Batu Sangkar melalui Solok. Uda Aslim the original Stone Cage decided to turn around and head through Solok Stone Cage. Keputusan yang tepat karena kalau tidak kami akan terjebak di tengah Lembah Anai dalam hujan dan kegelapan malam. The right decision because otherwise we will be stuck in the middle of Anai Valley in the rain and the darkness of night.
Perjalanan panjang dan melelahkan -apa lagi bagi sang mengemudi- dari Lembah Anai menuju Batu Sangkar memutari danau singkarak akhirnya berakhir jua sekitar pukul 12 malam . Long and tiring journey any more for the driving-of Anai Valley to Stone Cage around Lake Singkarak nevertheless finally ended at around 12 am. Kami menginap di rumah kakak pertama Uda Aslim, berisitrahat sejenak dan tidur. We stayed at the house first sister Uda Aslim, berisitrahat moment and sleep.
Keesokan hari nya keramahan tuan rumah menyambut kami dengan sajian sarapan ketupat sayur khas Minang dan ketan+pisang goreng. The next day his hospitality host greeted us with a dish of vegetables typical breakfast diamond Minang + fried bananas and sticky rice. Bagi saya yang ga tahan pedas tentu saja memilih ketan + pisang goreng dan kopi tentu nya. For me the ga-resistant spicy of course choose the fried bananas and sticky rice + of his coffee.
Acara di hari pertama ini adalah menuju GOR untuk mengikuti upacara pembukaan Gelanggang Siliah Baganti, sebuah festival silek tradisional Minang karena memang ini tujuan utama kami. Events on this first day is to GOR to follow the opening ceremony Venues Siliah Baganti, a festival of traditional Minang silek because this is our main goal. Festival ini diikuti oleh 16 aliran silat dari 45 nagari antara lain aliran silek : Kumango, Silek Tuo, Silek Tuo Langkah Duo, Silek Tuo Langkah Tigo, Silek Tuo Langkah Ampek, Sungai Patay, Harimau Campo, Harimau Minang, Kuciang Lalo, Lintau, sitaralak, Harimau Tangki, Gajah Badorong,dll. The festival was attended by 16 of 45 villages arts stream include flow silek: Kumango, Silek Tuo, Tuo Silek Duo Step, Step Tigo Silek Tuo, Tuo Silek Ampek Steps, River Patay, Campo Tiger, Tiger Minang, Kuciang Lalo, Lintau, sitaralak , Tiger Tanks, Elephant Badorong, etc..
Setelah sempat tertunda beberapa jam, acara pembukaan di mulai. After being delayed several hours, at the opening ceremony began. Sambutan-sambutan adalah hal yang lumrah dalam setiap seremonial dan tidak perlu diuraikan di sini. Speeches are commonplace in every ceremonial and not have described here. Cuma satu yang menarik, dalam sambutan pembukaan, Wakil Bupati menyebutkan selamat datang bagi teman-teman dari Jakarta dan terima kasih telah hadir. Just an interesting one, in his opening address, Vice Regent mention welcome to friends from Jakarta and thank you for attendance. Disebutkan pula bahwa kami berasal dari silat Cikalong, Golok Seliwa dan Perisai Putih. It added that we come from martial arts Cikalong, Machete Seliwa and White Shield. Rupanya jauh-jauh hari Uda Aslim sudah menginformasikan kedatangan kami dan memberikan data kepada panitia. Apparently long ago Uda Aslim been informed of our arrival, and provide data to the committee.
Sajian pembukaan terdiri dari atraksi silek kumango oleh dua orang tuo silek (sebutan bagi senior/pelatih di silek Minang), Silek Lintau, tari piring oleh anak-anak usia SD dan “debus” ala Minang. Opening dish consists of silek attractions tuo kumango by two silek (call for senior / coach in silek Minang), Silek Lintau, dance plate by elementary school age children and the "whistle" style Minang. Selanjut nya festival hari pertama menampilkan hanya beberapa aliran antar lain LINTAU, SUNGAI PATAY dan KUMANGO. His next first-day festival featuring only a few other streams between Lintau, RIVER Patay and KUMANGO. Setiap aliran menampilkan enam pasangan yaitu kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa masing-masing putra dan putri. Each stream shows six pairs of groups of children, adolescents, and adults each son and daughter. Di tengah acara pada saat istirahat ditampilkan peragaan oleh para tuo silek berganti-ganti aliran. In the middle of the show at rest displayed a demonstration by the tuo silek alternating flow. Sungguh menarik. It's interesting.
Hari pertama ini kami beraktivitas di GOR, merekam peristiwa (banyak moment yang luput karena kendala teknis seperti batrei yang habis dan memory card yang penuh-kesalahan yang tidak boleh diulangi). The first day we move in the GOR, record events (many moments are missed because of technical constraints such as Batrei are depleted and the memory card is full, an error that should not be repeated). Tidak ketinggalan juga kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh sepuh silek Minang, Alhamdulillah. Do not miss the opportunity also acquainted with the characters elderly silek Minang, Alhamdulillah.
Kembali ke rumah sekitar pukul sebelas malam, bercengkerama, dan beristirahat sampai akhir nya tertidur kelelahan. Return to the home around eleven o'clock, mingle, and rest until the end of its fall asleep exhausted. Oh iya, sore hari nya datang sahabat silat yang lama tidak jumpa yaitu Yoga Putra Setiawan yang tinggal di Pekan Baru, datang khusus membantu meliput event ini dengan kamera profesional nya. Oh yes, his afternoon came a long time friend of martial arts does not meet the Yoga Setiawan's son who lives in Manila, came specifically to help cover this event with his professional camera.
Hari Kedua Day Two
Jadwal pertama ke bandara, menjemput Ipam yang memang datang belakangan. The first schedule to the airport, pick up IPAM who did come later. Perjalanan dari Batu Sangkar ke Bandara melalui Lembah Anai, kali ini udara cerah dan bersahabat (walau kadang diselingi sedikit gerimis) sehingga kami dapat menikmati sajian pemandangan indah sepanjang jalan. The journey from the Stone Cage to the airport via the Anai Valley, this time the air bright and friendly (although sometimes interspersed with a little drizzle) so we can enjoy a dish of beautiful scenery along the way.
Perhentian pertama, makan Sate Mak Syukur yang sangat direkomendasikan kawan-kawan dari Minang. The first stop, eat Sate Mak Gratitude highly recommended friends from Minang. Jadi, ini lah wisata silat dan wisata kuliner. So, this is tourism and culinary arts. Perjalanan dilanjutkan menuju Lembah Anai diiringi hujan gerimis. The journey continues towards the Anai Valley accompanied by drizzling rain. Kali ini tanpa hambatan berarti hanya sedikit antrian kendaraan di tiap titik longsor. This time without a hitch means only a little queue of vehicles at every point landslide. Kami pun tiba di air terjun Lembah Anai, sungguh indah dan menarik karena berada tepat disisi jalan utama. We arrived at the waterfall Anai Valley, was beautiful and interesting because it is the right side of the main road. Sungguh sayang anugerah Tuhan ini yang indah ini malah dirusak oleh tangan-tangan serakah manusia. It's a shame this wonderful gift of God is even destroyed by the hands of greedy men. Longsor ini tentu saja karena area hutan di atas nya, wilayah sekitar nya telah gundul habis dibabat. Avalanche is of course because of its forest area, the area around it has been cleared off bald.
Melanjutkan perjalanan, kali ini singgah terakhir sebelum ke bandara adalah ziarah ke makam Syech Burhanudin di Pariaman, menyusuri tepi pantai dan beberapa sisa gempa yang belum terurus. Continuing the journey, this time last stop before the airport is a pilgrimage to the tomb Syech Burhanudin in Pariaman, along the beach and some that have not taken care of the rest of the quake. Tidak lama kami di sana karena harus segera ke bandara menjemput Ipam yang sudah landing. Before long we were there because they have to get to the airport to pick up IPAM already landing. Tidak banyak cerita dalam perjalanan kembali ke Tanah Datar, kecuali hujan sepanjang jalan. Not many stories on the way back to Tanah Datar, except for rain along the way.
Sehabis makan malam kami kembali ke GOR untuk melihat dan meliput festival selanjut nya. After dinner we returned to the GOR to see and cover his next festival. Malam kedua ini aliran silat KUMANGO yang banyak tampil. The second night was a lot of flow KUMANGO perform martial arts. Satu hal yang dapat saya catat, dari beraneka ragam nya silek tradisional Minang kesamaan tetap ada, antara lain tata cara menghormat, pola langkah, kuda-kuda yang cenderung rendah walaupun ada juga yang tegak tetapi pada saat melangkah rata-rata rendah dan kaki yang bersilang. One thing I can note, from its wide range of traditional Minang silek similarities remain, among other procedures for saluting, the pattern of steps, the horses who tend to be low, although there is also a step up but at the low average and legs crossed . Gerakan tangan yang gemulai juga menjadi ciri khas silek Minang. Graceful hand movements also characterizes silek Minang. Keras dalam aplikasi tetapi lembut dalam melangkah dan “menari dalam rangkaian jurus”. Hard in the application but soft in stride and "dancing in the series of moves". Sungguh menarik. It's interesting. Apa yang ditampilkan dalam festival ini adalah seni semata, tidak ditunjukkan aplikasi sebenar nya dalam pertarungan. What is shown in this festival is art alone, not really shown its application in the fight. Karena ini adalah semata pentas seni untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan menumbuhkan rasa cinta terhadap silek tradisional Minang. Since this is the only performing arts to introduce the rich culture and foster a love of traditional silek Minang.
Para peserta berpasangan sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. The participants were paired according to age group and gender. Mereka memainkan jurus dan aplikasi dari alirannya masing-masing. They play tricks and applications of the flow respectively. Sistem penilaian menyangkut antara lain : keaslian jurus dan teknik, kekayaan teknik kuncian dan jatuhan, keindahan, stamina, dll. The scoring system involves, among others: the authenticity of tactics and techniques, locks and falling techniques wealth, beauty, stamina, etc.. Tim penilai terdiri dari tiga orang juri dengan satu tim pengawas yang terdiri dari sesepuh. The assessment team consisted of three judges with a supervisory team consisting of elders. Penilaian juri harus obyektif, apabila ada salah satu orang juri yang memberikan nilai sangat menonjol (terlalu tinggi atau terlalu rendah) maka nilai itu akan diabaikan. Assessment of the jury must be objective, if there is one of the judges who give a very prominent (too high or too low) then the value will be ignored.
Malam kedua ini kelelahan mulai menghinggapi kami, aktivitas yang terus menerus dan penyesuaian perut dengan masakan ala Minang membuat saya tidak berani untuk terlalu banyak makan, bahkan “berhenti makan seharian”. This second night we were exhausted began to descend, the activity continuously and adjustments abdomen with Minang cuisine makes me not dare to eat too much, even "stop eating all day". Ada yang masuk angin ada yang sakit perut. There are some common colds colic. Malam ini kami beristirahat untuk besok melanjutkan aktivitas. This evening we rested for tomorrow to continue the activity.
Hari Ketiga Day Three
Hari ketiga kami isi dengan wisata ziarah dan melihat berbagai situs peninggalan bersejarah. The third day we were content with a pilgrimage tour and see a variety of historic heritage sites. Pertama kami berziarah ke makam Guru Gadang Silek Kumango, kemudian dilanjutkan ke makam SYECH KUMANGO. First we visit the tomb of Master Silek Kumango Tower, then proceed to the tomb Syech KUMANGO. Sebuah tempat peristirahatan yang indah di tengah lembah, sayang nya peninggalan bersejarah ini tidak terawat sebagaimana situs-situs yang lain. A beautiful resting place in the middle of the valley, its historical heritage is unfortunately not maintained as other websites. Surau peninggalan SYECH KUMANGO dibiarkan melapuk, menyedihkan. Surau Syech KUMANGO left decaying relic, sad.
Kunjungan lainnya tidak terlalu penting untuk diceritakan karena bisa dilihat di brosur wisata Kabupaten Tanah Datar seperti Istana Pagaruyung, Prasasti Adityawarman, makam Ustano Rajo Alam, dll. Other visits are not too important to be told because it can be seen in tourist brochures as Tanah Datar Pagaruyung Palace, Inscription Adityawarman, tomb Ustano Rajo Alam, etc.. Satu hal yang menyolok adalah semua situs tersebut TIDAK TERAWAT. One thing that is striking is that all these sites are not maintained.
Tujuan akhir adalah BUKIT TINGGI, makan dan belanja. The final goal is HIGH HILL, dining and shopping. Tidak asing dan tidak aneh soal nya kata teman-teman “rugi ke Minang kalau tidak wisata kuliner” . No stranger and no strange words about his friends' loss to the Minang if not culinary tour ". sayang nya beberapa dari kami sudah tak kuat makan lagi. his affection some of us have had enough to eat again.
Dari Bukit Tinggi malam hari nya kami kembali meliput Gelanggang Siliah Baganti. From its Bukit Tinggi night we came back cover Siliah Baganti Venues. Karena ini malam terakhir saya di Tanah Datar, esok hari sudah harus kembali ke jakarta. Because this is my last night in Tanah Datar, the next day had to go back to Jakarta. Saya terpaksa pulang lebih dulu karena Kang Ujang harus berada di Cianjur pada hari rabu disebabkan tanggung jawab pekerjaan. I had to go home first because Kang Ujang must be in Cianjur on Wednesday due to job responsibilities. Kegiatan hari terakhir dan penutupan terpaksa saya lewatkan dengan berat hati. Activities and closure of the last day I was forced to miss with a heavy heart. Kelelahan malam ini terbayar lunas dengan kepuasan menikmati indah nya alam Minangkabau dan sajian silek Minang yang sangat menarik. Fatigue paid off tonight with the satisfaction of enjoying its beautiful natural Minang Minangkabau and the dish silek very interesting. Malam ini semua kelelahan, masuk angin, sakit perut dan ngantuk tak tertahan. Tonight all the fatigue, colds, stomach aches and uncontrollably sleepy. Ipam pun terpaksa minum obat. IPAM was forced to take medication.
Hari selasa pagi Tuesday morning
Ini hari terakhir saya dan Kang Ujang, badan sudah terasa segar. This is my last day and Kang Ujang, the body already feels fresh. Nafsu makan kembali datang dan kami semua sudah bugar kembali. Appetite came back and we are all fit again. Sayang sekali saya harus pulang. Too bad I had to go home. Kami ke pasar menikmati sarapan pagi, bubur kampiun, nasi goreng, ketan dan teh manis. We all enjoy a market breakfast, porridge champion, fried rice, sticky rice and sweet tea. Nimat sekali. Nimat once. Saya pun berangkat ke bandara, tinggallah Ipam, uda aslim dan yoga di sana meliput kegiatan hari terakhir. I went to the airport, stay IPAM, uda Aslim and yoga in there covering the activities of the last day. Dengan ini maka cerita yang saya sampaikan berakhir di sini. With this the story that I have to end here.
Ini adalah catatan saya, yang saya tulis berdasarkan persepsi dan pengalaman yang saya tangkap selama berada di sana, tentu saja ada banyak kekurangan dan perhatian yang luput di sana-sini. This is my record, which I wrote based on the perceptions and experiences that I captured while he was there, of course there are many shortcomings and attention that escaped here and there. Kalau pun ada penafsiran dan deskripsi yang kurang tepat, sudilah menerima nya karena sebatas ini lah kemampuan saya. Even if there are interpretations and descriptions that are less precise, may receive it because it was limited to my ability.
Wabillahi taufik wal hidayah Wabillahi taufik wal guidance
link terkait: related links:
http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1547.0.html http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic, 1547.0.html
http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1579.msg32667/topicseen.html#new http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic, 1579.msg32667/topicseen.html # new
http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification# http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification #






