Peran Pencak Silat Dalam Kemerdekaan RI!!. Role of Pencak Silat in Independence!.
[ in English ] [ in English ]Aug 17th, 2010 | By admin | Category: Artikel Silat Visited 537 times, 1 today [ in English ] Aug 17th, 2010 | By admin | Category: Articles Silat Visited 537 times, 1 today [ in English ]
Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Silat is expected to spread in the archipelago since the 7th century BC, but its origin is uncertain. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. However, the martial arts is now recognized as an ethnic Malay culture in a broader sense, namely the residents of coastal areas of Sumatra and the Malay Peninsula, as well as various other ethnic groups who use the lingua franca of the Malay language in various areas on the islands of Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi, and others are also developing their own form of traditional martial arts. Sheikh Shamsuddin (2005), berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Sheikh Shamsuddin (2005), argues that there is the influence of martial arts from China and India in the arts. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. In fact not only that.
Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. This is understandable because it is the Malay culture (including Pencak Silat) is an open culture which since the beginning of the Malay culture has to adapt to different cultures brought by traders and migrants from India, China, Arabs, Turks, and others. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Cultures were then assimilated and adapted to indigenous cultures. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. So presumably the historical martial arts was born simultaneously with the emergence of Malay culture. Dalam historisasi pencak silat dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kategori akar aliran pencak silat, yaitu: Aliran bangsawan dan Aliran rakyat Aliran bangsawan, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan (kerajaan). In historisasi martial arts can be concluded that there are two categories of flow roots of martial arts, namely: the nobility and Flow Flow Flow of noble people, the flow of martial arts developed by the nobility (the kingdom). Ada kalanya pencak silat ini merupakan alat pertahanan dari suatu negara (kerajaan). There are times when the martial arts is a means of defense of a country (kingdom).
Sifat dari pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan umumnya tertutup dan mempertahankan kemurniannya. The nature of martial arts developed by the nobility generally closed and maintain its purity. Aliran rakyat, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum selain bangsawan. The flow of people, is the flow of martial arts developed by people other than nobles. Aliran ini dibawa oleh para pedagang, ulama, dan kelas masyarakat lainnya. This flow carried by the traders, scholars, and other community classes. Sifat dari aliran ini umumnya terbuka dan beradaptasi. The nature of these flows are generally open and adaptable. Bagi setiap suku di Melayu, pencak silat adalah bagian dari sistem pertahanan yang dimiliki oleh setiap suku/kaum. For each term in Malay, martial arts are part of a defense system that is owned by each tribe / people. Pada jaman Melayu purba, pencak silat dijadikan sebagai alat pertahanan bagi kaum/suku tertentu untuk menghadapi bahaya dari serangan binatang buas maupun dari serangan suku lainnya. In the days of ancient Malay, martial arts serve as a tool for the defense / particular interest to face the danger of attack from wild beasts or other tribal attacks. Lalu seiring dengan perjalanan masa pencak silat menjadi bagian dari adat istiadat yang wajib dipelajari oleh setiap anak laki-laki dari suatu suku/kaum. Then with the passage of the martial arts to be part of the customs that must be learned by every son of a tribe / people. Hal ini mendorong setiap suku dan kaum untuk memiliki dan mengembangkan silat daerah masing-masing. It encourages every tribe and people to own and develop local arts respectively. Sehingga setiap daerah di Melayu umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. So that every region in the Malay martial figures generally have to be proud of. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada. For example, the Malays, especially in the Malay Peninsula believe that Hang Tuah legend of the 14th century was the greatest warrior arts. [3] That kind of thing also happens in Java, which boasts Gajah Mada. Adapun sesungguhnya kedua tokoh ini benar-benar ada dan bukan legenda semata, dan keduanya hidup pada masa yang sama. The fact these two characters really exist and are not merely legends, and both lived at the same time. Perkembangan dan penyebaran Silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. The development and deployment of historically Silat began spreading recorded as much influenced by the Ulama, seiiring the spread of Islam in the 14th century in the archipelago.
Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. The historical record is considered authentic in the history of martial arts, whose influence can still see today. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. At that time has taught martial arts along with religious instruction in the mosque-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Martial arts and martial arts evolved from mere art and folk dance, a part of the education to defend the country to face the invaders. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual. Besides martial arts also became a part of spiritual practice. Disadari atau tidak peperangan tentunya melibatkan satu ilmu beladiri, kalau balik lagi melihat sejarah, betapa para para pahlawan perjuangan RI adalah orang2 yang piawai dalam ilmu beladiri. Knowingly or not a war would involve martial arts, then back again to see the history, how the heroes struggle orang2 RI is skilled in martial arts. Sebut sajah dari berbagai daerah di Indonesia, Malaka, Kesultanan Ternate dan Tidore Teuku Cik di Tiro, Imam Bonjol, KH. Call sajah from various regions in Indonesia, Malacca, Sultanate of Ternate and Tidore Teuku Cik di Tiro, Imam Bonjol, KH. Zainal Mustafa, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, dan nama-nama lainnya, yang mana menunjukkan bahwa kalangan ulama sekaligus pahlawan nasional ini adalah adalah perintis pengembang pencak silat di Nusantara. Zainal Mustafa, Prince Diponegoro, Sultan Hasanuddin, and other names, which shows that among the scholars as well as a national hero is the pioneering developer of martial arts in the archipelago. Kalau kita kilas balik lagi dan melihat dari aliran Banjaran yang sekarang berkembang sebagai perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah, perguruan pencak silat yang menjadi salah satu perguruan historis IPSI. If we flashback again and look of the current flow Banjaran evolve as the Son of the Holy Footprint Muhammadiyah university, college martial arts that was one of the historical university IPSI. aliran banjaran juga telah melahirkan pendekar besar bangsa Indonesia yang sangat patriotik, seorang Bapak TNI “Jenderal Besar Soedirman”. Banjaran flow also has spawned warriors of the Indonesian people are very patriotic, a father of TNI "Great General Sudirman". Beliu adalah murid langsung dari KH Busyro Syuhada, guru besar aliran Banjaran. Beliu is a direct disciple of KH Busyro Martyrs, a professor of Banjaran flow.
Semenjak pencak silat khususnya di Jawa pada tahun 40 an digemari oleh kalangan pemuda pelajar untuk mempersiapkan kemerdekaan RI, apa lagi sesudah pencak silat di tahun 1942 masa Jepang distandarisasi digunakan sebagai sebagai program ilmu beladiri yang dia jarkan kepada PETA(Pembela Tanah Air), Pasukan Pelopor dsb. Since martial arts, especially in Java in the 40's tune by the young students to prepare for the independence of Indonesia, let alone after the martial arts in 1942, the Japanese used as a standardized program that he teaches martial arts to PETA (Defenders of the Homeland), Pioneer Troops etc.. Jepang memberikan masukan dalam methoda pengajaran pencak silat sebelum dimulai, terlebih dahulu melakukan “taizo” pemanasan agar tidak terjadi cedera otot. Japan to provide input in the method of teaching martial arts before it started, first do "Taizo" warm to prevent muscle injury.
Sejak itu lah perguruan pencak silat yang dimotori oleh kalangan pelajar ex PETA, Pasukan Pelopor dan Haiho. Since it is a martial arts colleges among students led by ex PETA, Pioneer and Haiho forces. Sistem pengajarannya sebelum berlatih mengenakan serimonial seperti beladiri Jepang (upacara, menghormat, berdoa dan mulai pemanasan, berlatih dan ditutup dengan cerimonial lagi) karena itu berbeda pencak silat sistem pengajarannya antara pencak silat dari dari Jawa Tengah, Jawa Timur dengan Jawa Barat dan Sumatera barat) Dalam Peringatan Kemerdekaan RI yang ke-63 ini, kembali mengukuhkan semangat Kebangsaan menuju Kebangkitan Nasional Kedua, Pencak Silat telah memberikan banyak sumbangsih pada negara dan bangsa ini, dan para cerdik cendekiawan yang bijak mengatakan: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya luhurnya sendiri. Teaching system before practicing the Japanese martial arts such as wearing serimonial (ceremony, saluting, praying and started warming up, practicing, and closed with cerimonial again) because of the different martial arts systems of teaching the martial arts of Central Java, East Java to West Java and West Sumatra) In warning that the Independence-63, re-establish the spirit of nationality to the National Awakening Second, Pencak Silat has provided many contributions of the state and nation, and the wise astute scholar says: a great nation is a nation that values culture itself virtuous. (HC) Daftar Pustaka: KPS Nusantara: Perkembangan Pencak Silat (Kumpulan) | Sahabat Silat: Tapak Suci Putera Muhammadiyah | Wikipedia Indonesia: Pencak Silat (HC) Bibliography: KPS Nusantara: Development Pencak Silat (set) | Friends of Silat: Son of the Holy Footprint Muhammadiyah | Wikipedia Indonesia: Pencak Silat
Sumber : http://hartcone.multiply.com/journal/item/164 Sources: http://hartcone.multiply.com/journal/item/164






